Beberapa tahun belakangan, lebaran tak
selalu berarti kemenangan yang menyenangkan untuk dirayakan. Munculnya
meme-meme beragam di mana setiap orang bebas mengumbar kecemasan dan
kepanikan berlebih, kadang menggambarkan situasi nyata bahwa lebaran,
oleh sebagian orang, sering ditanggapi dengan sikap khawatir yang
dilebih-lebihkan.
Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena
bagi sebagian orang tersebut, Idul Fitri—yang sejatinya merupakan ajang
silaturahmi dan tempat berkumpul bersama keluarga—bisa mendadak berubah
tempat paling menyiksa ketika tiba-tiba ada yang nyeletuk bertanya,
“Kapan lulus?” atau yang lebih sadis, “Kapan nikah?”.
Bagi mereka,
pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah cukup untuk membuat persendian
lemas seketika. Ketupat opor ayam yang lezat mendadak terasa hambar,
bahkan lebih hambar daripada air putih yang paling hambar.
Hayo,
mengaku saja. Apakah kamu juga merasakan gejala tersebut? Momen di mana
kamu merasa gembira sekaligus cemas setiap musim mudik lebaran datang?
Rindu kampung halaman, tapi takut kalau-kalau di rumah nanti ada orang sinting yang bertanya “Kapan lulus/nikah?”.
Jika iya, tak perlu panik. Kamu tidak sendirian. Ada banyak sekali orang yang mengalami nasib tragis kecemasan serupa.
Dan atas nama belaskasihan
kepedulian, saya mencoba menawarkan beberapa saran untuk menghadapi
situasi mencekam tersebut. Tak perlu khawatir, saya tak akan memasukkan
tips-tips konyol a la Raditya Dika, seperti pura-pura mati atau mendadak
gila di tempat (Mungkin saran saya lebih gila haha). Well, tanpa menunda lebih lama lagi, berikut tips-tips menyikapi “Kapan lulus?” dan “Kapan nikah?” versi saya.
1. Cukup hadapi dengan senyuman

Kamu sedang (berusaha) menikmati momen kebersamaan, ketika tiba-tiba salah satu anggota keluarga yang tak tahu diuntung
bertanya, “Eh, ngomong-ngomong kapan kamu lulus/nikah?” sehingga kamu
menjadi sorotan semua mata. Sebisa mungkin, jangan terlihat panik. Jika
lidahmu mendadak lumpuh tak mampu berbahasa, tak mengapa, kamu masih
bisa menjawabnya dengan sebuah senyuman manis (yang tentu saja
dibuat-buat).
Dalam ilmu psikologi dasar yang bukunya belum sempat
saya baca, tersenyum adalah bukti bahwa seseorang merasa senang dan
nyaman, selain juga berguna meningkatkan kepercayaan diri. Ini cukup
untuk menyelamatkan muka mentalmu dari kondisi berkeringat dingin dan pandangan tiba-tiba kabur saking malunya.
Tataplah
si penanya dengan senyuman terbaikmu disertai sorot mata yang penuh
keyakinan. Akan lebih baik lagi jika sembari tersenyum dan menatap
lekat, kamu juga melakukan gerakan kepala mengangguk pelan satu kali
seperti orang sedang menyapa. Dan jika belum cukup, maka berikan
senyuman-anggukan kepala tersebut kepada seluruh anggota keluarga yang
hadir di sana, secara bergiliran, satu persatu, selagi mereka belum
mengalihkan pandang dari menatapmu. Percayalah. Percayalah, kamu akan dianggap tak waras….
2. Cari jawaban yang paling standar dan aman

Jika
kamu merasa masih punya cukup kekuatan untuk berkata, maka carilah
jawaban yang paling umum tapi menyelamatkan. Seperti, “Sebentar lagi,
Om”, “InsyaAllah bulan depan, Man (Paman)”, “Tinggal nunggu tanggal
sidang skripsi aja, Tan (Tante, bukan Mantan!)”, “Tinggal mencari hari
baik pernikahan, Bik (Bukan bibik pembantu!)”, atau “Nunggu tabungan
cukup dulu Yang (Eyang, bukan Cayang!),”
Tapi pastikan kamu sudah
menyiapkan jawaban lebih jika mereka mengejar dengan pertanyaan
lanjutan, seperti, “Wah, dapat calon orang mana?”. Selalu ingat bunyi
hukum dasar berbohong poin satu: jika satu kebohongan telah dimulai,
bersiaplah untuk menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya untuk
menutupi kebohongan yang pertama.
Juga
pastikan mentalmu tetap tegar dan terjaga agar tak mudah tersudutkan
sehingga menjawab pertanyaan dengan ngawur tak keruan. Jangan sampai
pertanyaan lanjutan “Dapat calon orang mana?” kamu jawab “Orang
Malaysia” atau “Orang Timur Tengah,” tentu hal tersebut akan membuat
keluargamu kaget dan shock berat. Atau ketika kamu telah
menjawab “Orang Kalimantan,” lalu dikejar pertanyaan, “Kalimantan-nya
mana?”, jangan sampai kamu panik sehingga serampangan menjawab,
“Kalimantan-Jember.”
3. Abaikan saja, pura-pura sibuk

Ini level yang lebih tinggi. Butuh kesembronoan
keberanian lebih untuk tidak menjawab pertanyaan anggota keluarga di
momen Idul Fitri, sekalipun pertanyaan itu se-menyakitkan “Kapan
lulus/nikah?”.
Lebih-lebih jika yang bertanya adalah anggota
keluarga yang sudah sepuh, dosanya bisa berlipat dua. Karena selain
dianggap angkuh dan dapat menyakiti si penanya, hal tersebut dapat
mengotori kesucian Idul Fitri yang merupakan momen bermaaf-maafan tapi
malah dipakai untuk diam-diaman
Tapi sekali lagi, jika kamu cukup sembrono berani, kamu dapat memilih untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut dan membiarkannya begitu saja. Toh
tidak semua pertanyaan harus dijawab. Pilihannya, kamu bisa
berpura-pura sedang sibuk membantu ibumu menyiapkan meja makan, memotong
ketupat, mengajak bermain keponakan, atau sibuk BBM-an sama pacar
(padahal mana punya?)
4. Ngeles

Ngeles atau nylemor
banyak bentuknya. Yang paling umum adalah menyanyai balik si penanya
tentang suatu hal lain untuk membelokkan topik pembicaraan.
Untuk itu, ngeles
tidak cukup hanya bermodal keberanian. Harus punya ketepatan untuk
memperkirakan waktu, sedikit bakat akting, serta kemampuan “menguasai
panggung” agar dapat mengontrol suasana.
Misal ketika tante kamu
bertanya, “Kamu kapan lulus/nikah?” Bertingkahlah kamu seolah-olah lebih
terkejut oleh sapaan atau pertanyaan tantemu daripada isi
pertanyaannya. Lalu segera sapa dan tanya balik, “Eh, Tante. Apa kabar
Tan? Gimana bisnisnya lancar aja, Tan?”. Dengan tekanan suara yang tepat
dan ekspresi muka yang meyakinkan, niscaya tantemu mau-tak-mau akan
berbelok mengikuti arah pembicaraanmu.
Tapi pastikan, sekalipun hanya untuk ngeles,
kamu melontarkan pertanyaan yang tepat. Jangan sampai kamu bertanya
“Gimana bisnisnya?” padahal jelas-jelas Tantemu “hanya” seorang ibu
rumah tangga.
5. Serang balik mereka

Sebenarnya ini bukan saran yang baik. Tapi setelah melakukan pertimbangan panjang selama kurang lebih dua hari menit, saya memutuskan untuk memuatnya.
Jika
kamu merasa kesal dan lelah terus-terusan mendapat dua pertanyaan
sembarangan tersebut, kamu punya opsi untuk mengambil reaksi offensive kalau-kalau ketiga pilihan defensive di atas dirasa kurang memuaskan.
Rumusnya
adalah, segera ketika kamu diserang pertanyaan kurangajar “Kapan
lulus?” atau “Kapan nikah?”, Tanya balik si penanya dengan suara
keras-keras, “KAPAN MATI?!” Skak mat. Dijamin ia akan mati diam seketika.
Tapi
alangkah baiknya jika opsi ini hanya menjadi pilihan terakhir. Dan
kalaupun terpaksa digunakan, gunakan tips ini hanya kepada orang-orang
tertentu saja, misal tetangga jahat yang dari dulu suka pamer-pamer
kekayaan, atau sepupu jauh yang sedari kecil doyan berlagak kompetitif
kekanak-kanakan. Intinya, bijak-bijaklah jika ingin menggunakan rumus
yang tak bijak ini, atau lebaran ini akan menjadi lebaran terakhirmu
bersama keluarga.
Sekian. Selamat menyambut hari lebaran .