Kasih ibu sepanjang masa, apapun akan ia korbankan demi anaknya.
Salah satu kisah mengharukan besar pengorbanan seorang ibu yang rela
mendonorkan mata untuk anaknya.
Aku sangat membenci ibuku. Ia tidak seperti ibu-ibu lainnya yang
cantik dan bisa aku banggakan. Aku selalu malu saat berjalan bersamanya.
Ia bahkan tidak jarang menggunakan baju yang lusuh dan robek.
Ayahku pergi begitu saja meninggalkan kami tanpa memberi nafkah.
Akhirnya, Ibu bekerja di sekolahku untuk memasak di kantin. Aku sering
pura-pura tak mengenalnya karena aku tidak mau teman-temanku tahu wanita
bermata satu itu adalah ibuku.
Suatu hari, ibu memberikan makan siang untukku. Ia menghias piring
makan siang dengan cantik. Saat memberikannya padaku, ibu pun mengecup
keningku. Hingga, teman-temanku berkasak-kusuk melihatnya dan membuatku
geram.

Saat di rumah, aku memarahi ibu habis-habisan. "Kau tahu betapa
malunya aku tadi? Kalau memang kau hanya ingin aku ditertawakan oleh
teman-temanku, kenapa kau tidak mati saja?" kataku geram.
Sejak saat itu, ibu selalu menjaga jarak denganku.
Aku pun belajar keras dan berusaha mendapatkan beasiswa agar bisa sukses dan segera bekeja hingga bisa meninggalkan ibu.

Hingga akhirnya, aku berhasil mendapatkan pekerjaan dan memiliki
istri yang cantik dan anak-anak yang lucu. Aku juga tinggal di rumah
yang mewah dan besar.
Suatu hari, ibu berkunjung ke rumahku, tanpa seizinku. Ia membawakan
sup hangat untuk anak-anakku. Namun, lagi-lagi terjadi, anak-anakku
menjerit ketakutan melihat mata ibu, istriku juga begitu. Aku pun sangat
marah dan mengusir Ibu.
"Jangan pernah lagi berani datang ke rumahku dan menakuti anak-anakku nenek tua!" geramku.
Suatu sore, tetangga lamaku berkunjung ke rumah dan memberikan
sepucuk surat padaku, ia memberitahukan bahwa Ibu sudah meninggal. Aku
tidak bertanya banyak, dan hanya menyimpan surat itu di meja kerjaku.

Namun, rasa gelisah selalu menghampiriku, hingga setelah sekian lama,
akhirnya aku membaca surat dari Ibu yang membuatku merasakan penyesalan
seumur hidup.
Yang tercinta anakku,
Aku selalu memikirkanmu setiap waktu. Dan aku meminta maaf kalau
kedatanganku tempo hari ternyata malah mengganggu keluargamu dan
menakuti anak-anakmu.
Tetapi aku sangat bahagia saat melihatmu sudah hidup bahagia.
Sekalipun aku harus menanggung derita ini, aku rela demi cintaku
kepadamu.
Aku tahu bahwa hidupku sudah tidak lama lagi. Sehingga aku harus
meminta maaf karena kau telah banyak menderita semasa kecilmu. Kamu
seringkali malu karena memiliki ibu yang hanya punya satu mata ini.
Ada satu hal yang ingin sekali ibu ceritakan kepadamu...
Saat kau masih balita, kau mendapat kecelakaan dan kehilangan
salah satu mata. Sebagai seorang ibu, aku harus mengambil tindakan itu.
Aku meminta dokter mengambil sebelah mataku untukmu. Aku tahu bahwa aku
tak akan tahan dan tak akan pernah bahagia bila melihatmu harus
menanggung ini sendiri. Sebab itulah, aku selalu menjadi ibu yang
menakutkan dan tak bisa membuatmu bangga, anakku.
Kini aku bangga, dengan pengorbananku ini, aku bisa melihatmu
menjadi orang yang sukses dan bahagia. Aku bahagia bisa membuatmu selalu
melihat dunia.
Berbahagialah selalu anakku,
Ibu yang selalu mencintaimu.
Sumber: Vemale