Dulu saat masih kecil, aku pernah mengalami kecelakaan dan kehilangan
kedua kaki aku. Sebenarnya masih bisa diselamatkan, namun kemampuan
medis saat itu belum semodern sekarang. Waktu kecelakaan, masih ada
seorang anak perempuan yang terluka, aku pun menyerahkan kesempatan
medisku ke dia, membiarkannya dibawa ke rumah sakit dulu.

Setelah tumbuh dewasa, aku berhenti sekolah dan bekerja ke kota.
Karena cacat,aku hanya bisa memakai kursi roda, sulit sekali untuk
mencari pekerjaan. Aku kemudian berjualan barang kecil-kecilan di jalan
untuk menghasilkan pendapatan.

Tidak disangka aku berbakat berjualan. 10 tahun kemudian aku berhasil
menabung banyak uang dan hidup berkecukupan. Sudah saatnya menikah,
namun setiap kali datang ke acara perjodohan, aku sadar, banyak
perempuan yang awalnya memandangku sebelah mata karena kakiku. Namun
setelah mengetahui kekayaanku, mereka malah mau bersamaku.
Jadi aku mulai tahu, mereka semua mau bersamaku karena uang-uangku.

Sampai suatu hari aku bertemu dengan istriku yang sekarang. Ia adalah
seorang mahasiswi universitas, cantik dan pintar. Saat menikah denganku
ia menandatangi surat perjanjian bahwa ia tidak akan mendapat
sepeserpun kekayaanku.

Karena surat perjanjian itulah aku baru bersedia menikahinya.
Namun dalam hati kecil ini selalu ada kewaspadaan yang tidak bisa
hilang. Bagaimana bisa, istriku yang cantik, lembut dan masih muda, bisa
mencintaiku dan mau menikah denganku?
Sejak menikah, saat berganti pakaian ataupun saat tidur, aku tidak
pernah melihat istriku melepas branya. Katanya di dadanya ada bekas luka
yang tidak enak dilihat. Aku juga tidak memedulikan hal itu.

Sampai suatu hari aku tidak sengaja melihat dadanya yang sedang
mandi. Di dadanya ada bekas luka yang tidak asing. Aku tahu asal usul
bekas luka itu. Ternyata istriku adalah anak perempuan yang terluka itu.
Aku baru mengerti kenapa ia mau menikah dengan orang cacat sepertiku,
walaupun keluarganya telah melarang. Aku sangat terharu, sampai air
mataku tak tertahankan lalu bercucuran keluar.
Malam itu, aku merobek surat perjanjian itu, dan menyerahkan
surat-surat bukti kepemilikan harta kepadanya, membiarkan ia mengurus
keuangan keluarga. Menurut kalian, keputusan aku sudah benar belum?
Dalam
pernikahan, suami istri harusnya menikah dalam ketulusan. Jangan karena
alasan harta benda, ataupun kekuasaan, kamu lantas menyerahkan hidup
pada seseorang, hidup bersamanya. Jangan pernah sia-siakan hidupmu untuk
orang yang tidak kamu cintai, janganlah menikah demi harta yang hanya
bersifat duniawi.
Jangan lupa, salinglah percaya pada suami atau istri anda, bangun
kepercayaan di antara kalian. Karena tetap saja, pernikahan akan lebih
bahagia bila dijalani atas dasar cinta, ketulusan, dan saling percaya.
Kepercayaan lah yang mengokohkan fondasi pernikahan, ketulusan lah yang menghangatkan rumah tangga.
Sumber: funny