Di sebuah desa pinggir kota, ada seorang nenek bernama Ani, umurnya
sudah 65 tahun. Beliau hidup bersama suaminya tapi tidak dikaruniai
anak, walaupun hidup serba sederhana, tapi mereka hidup nyaman.
Sejak suaminya meninggal, nenek Ani merasa sangat kesepian.
Suatu malam, nenek Ani sangat merindukan suaminya. Ia sendirian pergi
menuju nisan suaminya di atas gunung. Sesampainya di depan nisan
suaminya, ia menangis bertanya kenapa sang suami tega meninggalkan ia
sendirian. Di depan nisan itu, nenek Ani mengutarakan banyak isi
hatinya.
Tiba-tiba, dari dalam nisan ia mendengar suara sayup-sayup,
"Sebentar lagi akan ada orang datang menemanimu!"
"Suamiku? Kamukah yang berbicara kepadaku?" nenek Ani terkejut bertanya.
Namun tengah malam itu tidak ada yang menjawabnya. Nenek Ani lalu merasa itu mungkin hanya halusinasi saja.
Malam itu, nenek Ani sendirian dalam gelap turun gunung, saat hampir
sampai pintu masuk desa, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.
Suara tangisan itu terdengar di depan, semakin lama semakin kencang, kedengarannya sangat sedih.

Kemudian, nenek Ani melihat sebuah kotak kardus kecil. Saat dibuka
didalamnya tergeletak seorang bayi perempuan yang dibungkus kain.
Tampaknya bayi itu kelaparan.
Nenek melihat segala penjuru dan berteriak, "Ada orang tidak?"
Ia menunggu lama namun tidak ada yang menjawab.
Ternyata bayi itu dibuang.
Nenek Ani kemudian menggendong anak itu. Saat itu ia tiba-tiba
teringat kata-kata yang terdengar dari nisan suaminya, "Sebentar lagi
akan ada orang datang menemanimu!". Nenek Ani mengira bayi itu adalah
pemberian suaminya, ia lalu menatap bayi dalam bungkusan kain itu dan
merasa sangat bersyukur.

Sejak itu, nenek Ani merawat bayi itu. Bayi perempuan itu diberinya
nama Ayu. Setiap hari nenek Ani memohon orang untuk membantu menyusui
Ayu, sampai-sampai ada yang kesal dan mengeluh, namun nenek Ani tidak
peduli.
Tengah malam saat anak itu kelaparan, nenek Ani akan memasakkan bubur panas.
Pelan-pelan anak itu tumbuh besar, seharian mulai ribut dan seisi
rumah ramai akan suara celotehnya. Nenek Ani sangat senang dan gembira,
seisi rumah penuh akan suara riuh dan canda tawa.
Kemanapun nenek Ani pergi, beli sayur, bersawah, ke kota, Ayu pasti akan dibawa juga.
Dalam sekejap, 5 tahun pun berlalu. Sudah waktunya Ayu mesti ke
sekolah. Namun, uang sekolah bagi nenek 70 tahun itu rasanya sangat
berat.
Demi menyekolahkan Ayu, nenek Ani lalu meninggalkan desa, membawa Ayu
ke kota. Setiap hari ia memulung, memunguti sampah-sampah bekas yang
masih bisa dijual.
Ayu juga sangat pengertian, ia membantu nenek memungut dan membawa karung.
Setengah tahun berlalu begitu saja, nenek Ani telah menabung sedikit
uang, tapi ia tidak rela memboroskannya. Biasanya mereka hanya makan
bakpau di tambah sayur asin. Walaupun dilewati dengan sulit, namun ia
merasa puas dan cukup.
Suatu hari, nenek Ani dan cucunya Ayu memulung sampai gelap. Saat melewati restoran mie, ia lalu mengajak Ayu,
"Ayu, hari ini adalah hari dimana nenek bertemu dengan kamu 5 tahun lalu! Biar nenek belikan kamu mie untuk merayakannya!"
"Nek, Ayu masih lebih suka makan bakpau sama sayur asin kok!" Ayu yang pengertian tidak mau neneknya memboroskan uang yang susah payah didapatnya.

"Nenek belum pernah merayakan ulang tahunmu. Hari ini biarkan nenek kasih kamu kado ulang tahun!". Nenek lalu dengan gemetaran masuk kedalam restoran mie.
"Bu, pesan satu mangkok besar mie ayam, banyakin kuahnya yah!" Nenek Ani memesan.
"Iya! Tunggu sebentar yah!" ujar ibu pemilik restoran.
Beberapa menit kemudian, ibu pemilik restoran membawakan semangkok mie ayam yang panas di meja mereka.
"Nek, nenek makan dulu saja!" ujar Ayu.
"Nenek nggak suka makan mie, kamu habiskan saja, nanti nenek minum kuahnya sudah cukup!" jawab nenek Ani.
Pemilik restoran yang baik hati pun terharu akan pemandangan nenek dan cucu ini.
Dari dalam dapur ia mengambil mangkok kosong lalu mengatakan, "kuah di mangkok itu terlalu banyak,tumpahkan separoh kuahnya ke dalam mangkok ini, kuahnya bisa lebih cepat dingin."
"Terima kasih!" ujar nenek.
Setengah dari kuah mie itu dipindahkan ke mangkok satunya lagi, Ayu
berusaha untuk menjepit mie ke dalamnya, namun dilarang Nenek Ani.

Setelah makan, nenek Ani mengeluarkan uangnya yang lusuh dari dalam
kantongnya. Saat mau disodorkan ke ibu restoran, pemilik restoran hanya
berkata, "Hari ini kalian adalah tamu ke 88, setiap hari, tamu ke 88 akan diberi makan 1 mangkok mie gratis!"
Ayu yang mendengarnya dengan gembira berkata, "Terima kasih, Bu!"
Sejak saat itu, di depan restoran mie itu selalu berdiri seorang anak
perempuan. Ia menghitung tamu yang masuk satu per satu demi mendapatkan
mie gratis.
Ibu pemilik restoran juga sangat baik hati, saat tamunya tidak lebih
dari 88 orang, ia akan mengundang temannya untuk datang makan mie
berpura-pura menjadi tamu.
Begitulah, setiap hari Ayu makan mie gratis di restoran itu..
Nenek Ani dan ibu pemilik juga menjadi akrab.

Cuaca mulai panas, pada suatu hari Ayu berpakaian singlet. Ibu
pemilik melihat di lengan kanannya ada tanda lahir, ia langsung bertanya
kepada nenek Ani, "Cucu nenek umurnya berapa?"
"6 tahun!" jawab nenek.
Ibu pemilik restoran sudah berlinangan air mata dan bertanya lagi, "Ayah ibu mereka ada di rumah?" setelah bertanya ia mulai menangis tersedu-sedu.
Nenek Ani sepertinya mengerti apa maksud ibu itu. Karena Ibu pemilik
restoran baik kepadanya dan Ayu, nenek itu mulai bercerita asal usul
Ayu. Ternyata Ayu adalah anak kandung ibu pemilik restoran!
Dulu, saat ibu Ayu baru menikah, keadaan rumah tangga mereka sangat
miskin. Bahkan untuk makan saja ada masalah. Saat anak pertama yang
dilahirkan adalah perempuan, mertuanya pun sangat kesal. Seharian
mengomeli ibu Ayu dan mempersulitnya.
Kemudian ibu Ayu melahirkan lagi, siapa yang tahu, anak kedua juga perempuan, di lengannya ada tanda lahir.
Rumah tangga yang saat itu sudah miskin tambah terbeban lagi. Mertuanya yang berang merampas anak keduanya yang belum 10 hari.
"Saya takut anak saya mati kelaparan, lalu saya mengikuti mertua. Ibu
mertua membuangnya di desa pinggir kota lalu pergi. Saya diam-diam
meletakkannya di dekat pintu masuk desa, menunggu sampai ada orang yang
mengambil anak malang itu."
"Ibu!! Ibu! Huhuhuhuhu….!" Ayu kemudian menangis memeluk ibu kandungnya.

"Maafkan ibu, nak! Ibu bersalah telah membuangmu!" ibu anak itu kemudian berpelukan erat.
Setelahnya, ibu pemilik restoran menyekolahkan Ayu, dan membawa nenek
Ani pulang ke rumah. Ibu pemilik restoran menganggap nenek Ani sebagai
ibunya sendiri, nenek Ani juga tidak perlu memulung, memungut sampah
bekas lagi.

Nenek Ani pun akhirnya hidup bahagia dirawat oleh ibu pemilik
restoran. Sampai suatu hari nenek Ani meninggal, ibu pemilik restoran
juga mengistirahatkannya di samping nisan suaminya.
Sumber: beauty