Sepasang suami istri bernama Tina dan Benjamin menikah tujuh tahun
yang lalu, keduany tak dikaruniai anak karena sang suami mengidap Bayi
yang bernama cystic fibrosis (CF), penyakit pernafasan yang fatal dengan harapan hidup di usia 30an, dan mereka tidak ingin kehilangan waktu.
Mereka kemudian menolak larut dalam kesedihan. Mereka memutuskan mengadopsi anak.
"Kami telah memutuskan bahwa kami lebih cenderung mengadopsi dan kami baik-baik saja dengan itu," ungkap Tina.
Sebelum mencoba menanamkan embrio, pasangan ini merawat beberapa anak
dan senang melakukannya. Saat istirahat mengasuh anak-anak tersebut,
mereka menyempatkan diri untuk berlibur selama seminggu.
Saat mengantarkan anjing ke rumah orang tua Tina, ayah Tina
memberitahu mereka tentang adopsi embrio ini dan menyarankan mereka
melakukannya.

Sebuah keajaiban medis kembali terjadi. Kali ini seorang bayi lahir dari embrio yang dibekukan selama hampir seperempat abad.
Emma Wren Gibson, serorang bayi perempuan yang lahir pada 25 November
2017. Ada hal unik dari kelahitan Emily, yaitu embrio bayi ini
sebelumnya dibekukan pada 14 Oktober 1992, menurur laporan CNN.
Dengan kata lain, bayi ini terlahir dari embrio yang dibekukan selama
24 tahun. Ini merupakan sebuah keajaiban mengingat lamanya embrio ini
beku sebelum menghasilkan kehamilan yang sukses dan kelahirannya
berhasil.
Sebenarnya, embrio Emma memang diciptakan khusus untuk fertilisasi in
vitro ( bayi tabung) oleh pasangan donor anonim. Embrio ini tetap beku
sambil menunggu pasangan yang mau mengadopsinya.

Barulah pada 13 Maret 2017 oleh Carol Sommerfelt, direktur
laboratorium embriologi di Pusat Donor Embrio Nasional Amerika Serikat,
embrio Emma dicairkan. Ia diberikan pada pasangan Tina dan Benjamin
Gibson. Saat itu, pasangan ini cukup terkejut karena usia embrio ini
hanya selisih satu tahun dengan calon ibunya.
"Apakah Anda menyadari bahwa saya berusia 25 tahun? Embrio ini dan saya bisa menjadi teman terbaik," kata Tina Gibson

Awalnya, Tina mengatakan tak tertarik. Tapi selama perjalanan
liburannya, Tina dan Benjamin tak bisa berhenti memikirkan saran ayah
Tina tersebut.
Sepulang dari liburan, mereka berusaha mencari tahu tentang adopsi
embrio. Sampailah mereka pada Pusat Dinasi Embrio Nasional di Knoxville,
Tennessee yang dapat memfasilitasi transfer embrio beku.
"Selama bulan Agustus tahun lalu, saya melihat Benjamin dan
berkata 'saya pikir kita perlu mengajukan permohonan adopsi embrio'...
Kami mengisi aplikasi dan mengirimkannya malam itu," ujar Tina.
Bulan Desember 2016, Tina menjalani pengobatan untuk melakukan
"transfer tiruan". Baru pada Januari 2017, tes tersebut selesai meski
Tina harus melakukan prosedur untuk mengeluarkan polip di rahimnya.

Pada Maret 2017, pasangan ini dinyatakan siap untuk segala prosedur
adopsi embiro. Sebelumnya mereka harus memilih embrio dengan melihat
"profil" donor yang mencantumkan informasi genetik dari orang tua
genetiknya. Setidaknya ada 300 profil yang harus mereka lihat.
"Itu sangat banyak. Ada begitu banyak dan ini seperti bagaimana Anda memilih?"
Kata Tina. Singkat cerita, mereka memilih Emma. Saat itulah pasangan
tersebut diberitahu oleh Sommerfelt bahwa ini rekor dunia.
Pada 2014, Pacific Standard melaporkan, proses adopsi embrio sendiri
semakin populer karena lebih murah daripada adopsi tradisional dan lebih
efisen daripada bayi tabung. Hal ini bisa lebih berhasil jika embrio
sehat dan ibu angkatnya tanpa hambatan medis sebelum menjalani
kehamilan.

Bahkan cara ini 50 persen lebih mungkin melahirkan daripada cara bayi tabung tradisional.
Menurut laporan CNN, embrio adopsi ini sering kali berasal dari sis keluarga yang telah menyelesaikan program bayi tabungnya.
Dengan kata lain, keluarga tersebut tak membutuhkan embrio tambahan.
Meski para ilmuwan tahu bahwa secara teoretis embrio dapat dibekukan
selama beberapa dekade dan dapat berkembang, namun Emma tetap mencatat
rekor dunia.
Emma menjadi bayi yang lahir dari embrio beku terlama. Untungnya, hal ini tak mengganggu keluarga Gibson.

Hal ini membuat Emma menjadi embrio beku tertua yang akan lahir, menurut University of Tennessee Preston Medical Library.
Tapi Tina mengatakan:
"Saya hanya menginginkan bayi, saya tidak peduli apakah itu rekor dunia atau tidak."
Sumber: Daily Mail