Ada sebuah kisah…
Diceritakan kalau ada satu orang miskin yang sudah tidak tahan lagi dengan kehidupannya yang begitu sengsara, dan ia memutuskan untuk bertemu dengan Tuhan. Saat bertemu dengan Tuhan, orang miskin ini terus saja mengeluh,"Mengapa saya dilahirkan di tengah keluarga yang selalu miskin dari generasi ke generasi? Sedangkan orang lain bisa terlahir di keluarga berada dan punya banyak uang. Tuhan mengapa kamu tidak bisa berlaku adil?" Mendengar keluhan orang miskin itu, Tuhan pun menjawab,"Orang kaya atau miskin tidak ditentukan dari faktor keluarga. Namun, kalau kamu merasa Aku tidak adil, baiklah aku akan memberikan keadilan yang kamu mau."
Tuhan lalu membawa orang miskin itu dan satu orang kaya yang dikenal oleh orang miskin ke sebuah gunung. Namun, keduanya sama-sama berpakaian compang-camping. Orang kaya sama-sama dalam posisi tidak punya apa-apa, sama seperti orang miskin itu. Melihat hal ini, orang miskin itu begitu bahagia dan mengolok-olok si orang kaya, sedangkan orang kaya hanya duduk di tanah dan tidak mempedulikan orang miskin itu.
Kedua orang itu juga harus mencari makanan sendiri untuk mengisi perut mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil menemukan buah-buahan. Tak lama kemudian, mereka juga berhasil menemukan sebuah tambang emas!
Kedua orang itu kemudian menambang beberapa emas dan turun gunung untuk menukarkan emas tersebut dengan makanan. Selain membeli makanan, mereka juga membeli berbagai macam peralatan tambang.
Hari kedua, orang miskin dan orang kaya mulai menggali tambang dan masing-masing juga setelah mendapat hasil tambang langsung pergi ke desa di kaki gunung untuk ditukarkan dengan barang. Kali ini, orang miskin itu menukarkan hasil tambangnya untuk membeli banyak arak, daging, baju, dan sepatu. Sedangkan si orang kaya hanya membeli beberapa buah roti, beras, dan bahan pangan lainnya. Setelah itu, si orang kaya masih berkeliling desa dan menemukan bahwa ada jasa kuli. Untuk mempekerjakan seorang kuli, ia harus bersedia untuk membayar biaya makan 3 kali sehari dan juga memberi uang kompensasi. Orang kaya itu lalu memutuskan untuk mempekerjakan 3 orang kuli untuk membantunya menambang emas. Orang kaya pun tidak lupa membeli peralatan tambang lagi untuk masing-masing kuli.

Saat kembali ke gunung, orang miskin dengan santainya menyantap daging dan juga minum arak. Orang kaya dan 3 kuli itu terlebih dahulu memberi makan 3 kulinya hingga kenyang, lalu menyuruh kuli-kuli itu untuk menambang. Orang kaya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, ia hanya berdiri di samping dan mengatur kuli-kulit tersebut. Emas yang dihasilkan pun 10 kali lebih banyak dibanding dulu. Setelah itu, orang kaya kembali turun ke desa dan mempekerjakan lebih banyak kuli lagi, selain itu ia juga membeli seekor kuda untuk membantu membawa emas. Setiap harinya orang kaya itu hanya duduk santai dan menyuruh kuli-kuli untuk menambang. Namun, ia juga tidak lupa untuk memberi uang kompensasi lebih banyak untuk kuli-kuli yang sudah membantunya menambang.
Bisa dikatakan, orang kaya itu setiap harinya hanya duduk santai sambil berjemur di bawah terik matahari, dan terkadang memikirkan hal apa lagi yang bisa ia lakukan. Sedangkan semua pekerjaan menambang ia serahkan pada kuli-kuli. Sedangkan si orang miskin, tiap harinya ia harus menambang seorang diri, dan semua hasil tambang dihabiskan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari dan membeli makanan lezat. Bagi orang miskin, kehidupan seperti itu sudah membuat ia bahagia.
Sebulan kemudian, orang kaya terus memperluas daerah tambangnya, dan berhasil menggali lebih banyak emas. Sampai pada akhirnya ia bisa membeli sebuah peternakan di desa bawah gunung, mempekerjakan 12 orang untuk membantunya mengurus peternakan. Di peternakannya, ia membudidayakan domba, babi, ayam, bebek, dan menghasilkan berbagai produk yang bisa dijual ke pasar.
Tidak hanya sampai di situ, orang kaya kembali mencari peluang dengan mencari-cari tahu di mana lagi ada tambang emas, dan mulai mendirikan perusahaan tambang emas. Ia juga mulai mempekerjakan orang untuk mengolah emas menjadi perhiasan yang bisa dijual dengan harga tinggi untuk orang-orang kaya.
Waktu terus berlalu dan orang kaya itu bisa kembali memiliki harta yang berlimpah. Dalam waktu 2 tahun, orang kaya yang tadinya tidak punya apa-apa sama seperti orang miskin, bisa kembali menjadi orang kaya yang punya banyak harta. Ia sudah memiliki banyak usaha yang berjalan sukses, tinggal di rumah mewah, dan punya banyak pekerja. Kekayaannya terus meningkat hari demi hari.
Sedangkan orang miskin, setiap harinya hanya bisa berfoya-foya dan setiap harinya harus bekerja banting tulang menambang emas seorang diri. 5 tahun pun berlalu, emas di gunung pun sudah habis dan tidak bisa digali lagi, dan orang miskin mau tidak mau harus mencari tempat lain. Sampai di desa bawah gunung, ia yang tidak punya keahlian apa-apa hanya bisa bekerja menjadi kuli.

Ketika itu, kuli akhirnya sadar dan sambil bersujud menangis meminta pada Tuhan,"Tuhan, biarkan saya kembali ke kehidupan semula, saya sudah sadar perbedaan antara orang kaya dan miskin!"
Nah, dari kisah ini kita bisa tahu inilah perbedaan cara pikir, sikap dan tindakan orang kaya dengan orang miskin:
1. Orang kaya percaya 'sayalah yang menentukan hidup saya'. Orang miskin percaya 'orang atau pihak lain yang menentukan nasib saya'.
2. Orang kaya bertanggungjawab terhadap hidupnya, orang miskin menyalahkan situasi, lingkungan, orang lain dan nasib
3. Orang kaya berpikir besar. Orang miskin berpikir kecil.
4. Orang kaya berkomitmen untuk menjadi kaya. Orang miskin ingin menjadi kaya.
5. Orang kaya mengelola uang mereka dengan baik. Orang miskin mengelola uang mereka dengan buruk.
6. Orang kaya membiarkan uang bekerja untuk mereka. Orang miskin bekerja untuk uang.
7. Orang kaya mampu menunda kesenangan dan tidak ingin segera menikmati hasil.

Nah, jadi sekarang sudah tahu kan mengapa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin?


Sumber: Coco