Minggu kemarin, aku bawa mertua dan anakku, Nana, jalan-jalan. Pas di
supermarket, Nana melihat ada sprei warna pink bergambar Hello Kitty.
Ia sangat suka Hello Kitty. Ia ingin menggunakan sprei itu untuk tempat
tidurnya.
Saat ini, mertuaku bilang, "Ngapain beli ini? Buang-buang duit saja. Pasti harganya mahal!"
Aku jadi teringat, dulu ibuku sendiri juga sering bilang kepadaku,
'Harus hemat, tidak boleh boros'. Aku bisa memahami dan memaklumi itu.
Tapi aku tak ingin prinsip seperti ini juga diturunkan kepada
putriku. "Yuk, kita lihat harganya berapa! Kalau tidak terlalu mahal,
kita beli. Kalau mahal, kamu harus nabung dulu uang jajan kamu buat
beli, oke?", kataku.
Setelah ditanya, ternyata harganya tidak terlalu mahal dan kami pun
membelinya. Nana terlihat sangat senang dan sudah tidak sabar ingin
cepat-cepat tidur di sprei itu nanti malam.
Mertuaku langsung kontan kepadaku, "Dia mau apa kamu beliin! Nanti jadi boros lho turutin kemauan dia terus."
Sebenarnya, aku bukan menuruti apapun kemauan anakku, juga bukan
berarti aku memanjakannya. Aku hanya ingin mengubah pemikirannya
terhadap "barang mahal".
Aku tidak ingin anakku berpikir, "Oh, ini mahal! Aku tidak boleh
menginginkannya. Oh, itu mahal! Aku tidak layak mendapatkannya!"
Jika dari kecil anak kita sudah diajari, "Ini kemahalan, gak boleh!
Beli yang murah aja!", maka besarnya ia akan memiliki "pola pikir yang
miskin".
Bagaimana pola pikir miskin menghancurkan anak:
- Anak merasa ia tidak mampu atau tidak layak untuk memiliki apa yang ia suka
- Anak akan jatuhnya memilih sesuatu yang tidak ia suka tapi hanya karena 'lebih murah'
- Anak jadi tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dan bisa ia dapatkan
- Anak akan merasa selamanya ia tidak bisa mendapat apa yang ia
inginkan, untuk itu ia pun tidak akan berusaha untuk mendapatkannya atau
diluar kemampuannya

Anak-anak yang diajari untuk menyerah akan sesuatu yang ia inginkan
hanya karena "mahal", masa depannya hanya akan terbatas pada kemampuan
yang ia miliki saja, ia tidak akan mengejar lebih.
Yang paling menyedihkan adalah ketika anak ditanya apa yang ia
inginkan, ia tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan, juga tidak
berani menginginkan sesuatu.
Selain mencegah keinginan anak akan sesuatu karena mahal, ada juga
tindakan yang dapat menghancurkan masa depannya, yaitu apa yang anak
"suka" kita gantikan dengan apa yang "murah".
"Yang penting murah, kita beli!" Saya kira semua orang pasti pernah
dengar pepatah, 'Ada harga, ada barang'. Barang yang murah belum tentu
bagus. Namun jika kita selalu menggantikan apa yang anak inginkan dengan
yang murah, sama saja kita menurunkan standar untuk anak kita sendiri.
Apakah anak kita tidak pantas untuk mendapatkan barang yang kualitasnya
lebih bagus?
Ketika keinginan seorang anak tidak terdengar dan tidak terpenuhi
untuk waktu yang lama, kelak ia akan terbiasa mendengar apa yang
"diatur" oleh orang tua. Apa saja dengar kata orang tua.
Anak yang sudah dibiasakan mendengar aturan orang tua akan tumbuh
besar menjadi anak yang tidak bisa memilih masa depannya sendiri.

Sebagai contoh, anak menginginkan mainan A, tapi ibu malah campur
tangan dan memberikan pendapat sendiri, mainan B lebih bagus, lebih
murah, turuti pilihan ibu - Jika hari ini untuk beli mainan saja ia
tidak bisa memutuskannya sendiri, ke depannya jangan harap ia bisa
memutuskan sendiri sekolah apa yang ia ingini, pekerjaan apa yang ia
tekuni, pasangan apa yang ia nikahi.
Mungkin ada juga orang tua yang beralasan, "Orang tua cari duit
susah, jadi anak harus pengertian, tidak boleh memboroskan uang." Memang
ada sebagian orang tua yang secara ekonomi kurang mampu, tapi ada juga
orang tua yang bukannya tidak mampu tapi sengaja ingin melatih anak
supaya tahu kalau cari duit itu susah. Saya rasa itu tidak perlu. Tidak
perlulah anak kecil-kecil sudah diajari beban orang tua.
"Orang tua bekerja banting tulang demi kamu, berkorban begitu banyak
supaya kamu bisa masuk sekolah, kamu harus belajar baik-baik, cari duit
yang banyak supaya bisa balas budi orang tua!"
Kasihan sekali anak kecil yang diajarkan tanggung jawab yang begitu
besar. Mereka akan selalu memikul sebuah batu yang besar dan beban
pikiran ke mana-mana. Jika mereka melakukan satu kesalahan saja, rasanya
seperti dunia kiamat. Alhasil anak-anak seperti ini jadi takut untuk
mencoba, tidak berani meninggalkan zona nyaman dan tidak berani
menciptakan terobosan atau berkarya. Anak seperti ini mau sukses
tergantung nasib.

Jangan kita jadi orang tua menjadi langit-langit yang membatasi
keinginan dan impian anak. Anak kecil punya keinginan itu wajar.
Sesuaikanlah dengan kemampuan Anda. Anak kecil yang diajari untuk
menyerah kepada keinginannya, tidak boleh menginginkan, bagaimana kelak
akan bisa meraih kesuksesan?
Memang materi bukanlah segalanya. Orang tua tidak mampu juga bukan
salah orang tua. Kita boleh miskin materi, tapi kita tidak boleh miskin
ilmu, miskin otak, miskin mental, apalagi mengajarkan kepada anak kita
pola pikir yang miskin.
Miskin yang sebenarnya bukan miskin harta, tapi miskin hati. Ada
orang tua yang walaupun secara ekonomi kurang mampu tapi tetap semangat
dan optimis, mengajarkan kepada anaknya, "Kita sekarang memang tidak
banyak uang, tapi asal papa dan mama rajin bekerja, kita pasti bisa
hidup lebih baik lagi. Kamu juga harus rajin belajar dan tekun yah!"
Inilah tipe orang tua yang kelak anaknya bakal sukses. Bukan kaya atau
miskin, bukan seberapa banyak uang yang mereka punya, tapi "cara
didiknya" yang akan membuat anak mereka jadi kaya secara mental dan ke
depannya, finansial.

Ada orang tua yang bukan hanya sudah tidak mampu tapi juga 'tidak
sengaja' telah mengajarkan anaknya untuk jadi ikut tidak mampu, membuat
anak tak bisa lepas dari bayang-bayang orang tua.
Perhatikanlah apa yang Anda ucapkan kepada anak. Didiklah mereka
dengan pola pikir yang baik dan positif, percayalah masa depan anak akan
lebih baik daripada kita-kita yang sebelumnya!
Semoga bermanfaat! Yuk SHARE artikel penting ini ke orang-orang terdekat Anda!
Sumber: licaibao