Cerita inspiratif:
Aku mempunyai seorang anak laki-laki yang baru duduk di bangku SD
kelas 1. Ia mempunyai teman sekelas bernama Lili yang merupakan murid
paling pintar di kelasnya. Semester lalu, sekolah mengadakan pertemuan
orang tua sebanyak 4 kali, namun orang tua dari Lili tidak pernah
datang. Yang datang malah kakaknya yang berusia 13 tahun untuk
memberitahukan pada guru alasan mengapa kedua orang tuanya tidak dapat
menghadiri pertemuan orang tua.
Lili adalah murid yang sangat pintar dan juga baik. Pada akhir
semester, guru wali kelas mewajibkan semua orang tua untuk datang pada
pertemuan kali ini. Guru juga meminta Lili untuk mengingatkan orang
tuanya dan meminta setidaknya salah satu dari mereka untuk hadir.
Pada hari pertemuan orang tua, semua orang tua dari anak-anak lain
sudah hadir, hanya menyisakan orang tua dari Lili yang masih belum
muncul batang hidungnya. Sampai pada akhirnya, yang datang lag-lagi
kakaknya dan meminta maaf kepada para orang tua lainnya karena datang
terlambat.
Kali ini guru wali kelas pun nampaknya sudah mulai hilang kesabaran.
Guru merasa bingung, apa yang membuat orang tua Lili begitu sibuk sampai
harus menyuruh kakaknya untuk menghadiri pertemuan orang tua? Guru pun
langsung menanyakan alasan ketidakhadiran orang tua Lili di depan orang
tua lainnya.
Saat ditanya oleh guru, kakak dari Lili tiba-tiba langsung kaget dan
terlihat seperti ingin menangis. Kenyataan pahit perihal keluarga mereka
pun akhirnya terungkap. Ternyata sejak beberapa tahun yang lalu ibunya
pergi meninggalkan mereka dengan sang ayah. Ayah mereka sendiri bekerja
di luar kota. Baru-baru ini sang ayah kembali menikah dan mempunyai anak
lagi. Sudah 5 tahun ini, sang ayah tidak pernah pulang ke rumah. Setiap
melihat Lili dan kakaknya mengingatkan sang ayah pada mantan istrinya
yang pergi meninggalkan mereka, karena itu, sang ayah pun dengan teganya
menelantarkan mereka berdua begitu saja.

Semenjak saat itu, Lili dan kakaknya dirawat oleh sang nenek yang
sudah berusia 80 tahun. Sedangkan biaya sekolah dan hidup mereka dibantu
oleh orang-orang yang baik hati dan bersedia membantu mereka. Ayah
mereka juga ternyata masih suka mengirimkan sedikit uang untuk mereka.
Namun, uang yang diberikan sebenarnya tidak cukup untuk biaya hidup
Lili, kakak, dan neneknya. Selama ini, sang kakak selalu menutup masalah
ini rapat-rapat karena ia tidak mau ia dan adiknya menjadi bahan
ledekan orang lain. Saat menceritakan hal ini di depan guru, sang kakak
pun sambil menangis tersedu-sedu.
Para orang tua murid lainnya juga sampai menangis mengetahui
kehidupan kakak beradik itu yang sangat sulit. Karena neneknya sudah
tua, sang kakak jugalah yang mencuci baju, masak, dan mengurus pekerjaan
rumah lainnya setiap habis pulang dari sekolah. Selain itu, sang kakak
juga masih meluangkan waktu untuk membantu Lili mengerjakan PR. Di
umurnya yang masih 13 tahun, tapi sudah harus memikul beban seperti itu,
sungguh membuat hati siapa saja menjadi teriris-iris.
Biasanya di usia 13 tahun, anak-anak pasti masih suka bermanja-manja
dengan orang tuanya, namun sang kakak malah harus menjaga Lili dan
neneknya seorang diri. Satu hal lain yang patut diacungi jempol adalah
sang kakak tetap rajin bersekolah, tidak melupakan kewajibannya sebagai
pelajar.

Setelah pertemuan orang tua ini berakhir, banyak orang tua murid yang
memberikan sumbangan untuk Lili dan kakaknya. Sumbangan ini dikumpulkan
oleh wali kelas, dan berharap agar sumbangan ini setidaknya bisa
membantu meringankan beban mereka. Orang-orang juga mendoakan agar
kehidupan kakak beradik ini bisa menjadi lebih baik di kemudian hari.
Sumber: Love