Mencari nafkah halal untuk kebutuhan keluarga menjadi kewajiban
laki-laki, dengan statusnya sebagai kepala rumah tangga. Hal itu seperti
dilakukan Agus Slamet, tukang parkir di Rumah Makan Garang Asem Sari
Rasa, Jalan Agil Kusumadya No. 20, Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.
Meski tidak memiliki kedua kaki, Agus tampak semangat bekerja. Pria
berusia 32 tahun itu setiap hari menghabiskan waktu tidak kurang dari 4
jam bekerja sebagai tukang parkir. Dia bekerja pukul 13.00-17.00.
Tidak punya kaki bukan alasan baginya untuk berpangku tangan.
Kebutuhan hidup yang kian mendesak membuatnya harus tetap bekerja demi
sesuap nasi, ditambah kebutuhan sekolah kedua anaknya yang kini duduk di
bangku SMA dan SD.

"Tidak ada pilihan lain selain jadi tukang parkir. Saya sadar orang
cacat di mana-mana akan kesulitan mencari pekerjaan seperti orang
normal," katanya, saat ditemui, Jumat (23/3).
Lelaki yang kini tinggal di Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota itu
mengaku, sudah belajar mandiri sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD.
Hal itu karena Agus menyadari betul dirinya terlahir dari keluarga
yang kurang mampu, sehingga ia tidak ingin membebani kedua orang tuanya,
ditambah lagi dengan kondisi fisik tubuhnya yang tidak normal.

"Saya sejak kecil sudah berusaha untuk mandiri, agar orang tua tidak
begitu terbebani dengan kondisi saya yang tidak punya kaki ini,"
ujarnya.
Untuk menopang mobilitasnya dalam bekerja, Agus memanfaatkan kedua
tangannya sebagai tumpuan untuk berjalan. Panasnya aspal seperti sudah
bersahabat dengan kedua telapak tangannya.
Satu per satu secara bergantian tangannya digunakan untuk melangkah.
Demikian cara Agus untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Belas kasihan tak pernah dia pikirkan. Yang ada di benaknya adalah
bagaimana dia bisa bekerja dengan cara yang halal untuk anak dan
istrinya di rumah.
Sebagai penyandang difabel sejak lahir, tentu rasa kecewa tetap ada. Tetapi hal itu selalu dipatahkan sang ibu.
Saat masih kanak-kanak, tidak jarang dia murung karena kondisinya.
Ibunya yang senantiasa memberi semangat dan menghibur agar Agus bisa
menerima keadaannya.

"Ibu saya bekerja sebagai penjual jajanan ringan keliling dan buruh
cuci, saya sering diajak, digendong. Demikian cara ibu saya menghibur
waktu saya masih kecil," paparnya.
Kekecawaanya berlanjut ketika dia hendak duduk di bangku sekolah. Dia
tidak diterima di sekolah umum. Dia hanya boleh sekolah di sekolah luar
biasa.
Sebagai penyandang cacat fisik, dia merasa dilecehkan, karena ia
tidak cacat mental. "Masak pelajaran saya sama dengan mereka yang cacat
mental," ucapnya.
Namun, Agus tetap memiliki kebanggaan. Meski cacat, setidaknya dia
tetap sekolah meski hanya sampai bangku SMP, dan itu pun tidak sampai
lulus.
"Saya sempat sekolah SMP di Solo. Di sana saya juga tidak sampai
lulus, kemudian saya balik lagi di Kudus. Di sini ada orang yang mau
menyekolahkan saya, saya mau, tetapi tidak sampai lulus," jelasnya.
Bagaiaman pun, Agus merasa iri dengan orang normal lain. Keinginan
yang didambakan yaitu hanya memberi tumpangan kepada sang istri saat
naik sepeda motor.
Hanya saja dia tidak punya sepeda motor khusus. Sejauh ini, sang
istrilah yang mengemudikan motor, sedangkan dia yang membonceng.
"Kalau berangkat kerja, dulu istri saya yang mengantar. Tapi sekarang
sudah tidak, karena istri juga punya kesibukan memayet kain di rumah.
Jadi saya naik angkot kalau berangkat kerja," tuturnya.
Agus tidak pernah mengeluhkan berapa pun hasil yang diterima menjadi
tukang parkir. Sekadar cukup untuk makan anak dan istrinya dia sudah
mengucap syukur.
Penghasilan yang didapatnya tidak menentu, tergantung dari ramai atau tidaknya yang memarkirkan kendaraan.
Meski demikian, Agus sangat berharap kepada pemerintah untuk bisa
lebih memerhatikan orang-orang yang senasib dengannya. Entah dengan cara
memberikan keterampilan atau peluang pekerjaan.
Sebab, menurut dia, penyandang cacat kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan hidup, lantaran sangat sedikit peluang kerja yang bisa
menerima.
"Kalau saya sih sudah tua, sudah tidak ada keinginan neko-neko, yang
penting kerja. Kasihan penyandang cacat fisik yang masih anak-anak,
jangan sampai mereka putus asa dengan kondisinya. Maka, saya meminta
agar mereka diperhatikan pemerintah," tandasnya.
Sumber: Tribunnews