Seorang Ibu Bernama Carla Perlas menuliskan surat untuk dua putrinya.
Surat ini berhasil membuat banyak ibu di seluruh dunia terharu dan
menangis. Silahkan membaca dengan hati anda...
Anakku tersayang,
Bunda akan mengatakan sesuatu yang penting:
Maafkan Bunda.
Kamu telah diajarkan dan terus-menerus diingatkan untuk mengucapkan maaf setiap kali kamu membuat kesalahan.
Namun, Bunda tak pernah mengatakannya padamu. Selalu saja kebalikannya: Bunda memaksamu minta maaf untuk hal-hal kecil.
“Ayo minta maaf karena kamu numpahin jus!” “Bilang maaf karena lupa membereskan mainan yang berantakan di lantai!” “Bilang: Maaf Bunda, adek udah ngancurin lipstik Bunda!”

Dan sekarang Bunda yang mengatakan padamu: Maafkan Bunda.
Karena Bunda sering ngomel dan cepat marah.
Bunda galak, tegas, dan tidak sabaran. Bunda berteriak dan memarahimu
di depan umum, bahkan meremas pergelangan tanganmu (kadang-kadang
terlalu kuat hingga membuatmu kesakitan).
Bunda ingat di suatu sore saat Bunda dikalahkan oleh emosi Bunda tiga
kali dalam waktu dua jam. Kita sedang pergi ke mal ketika itu, dan kamu
menjadi dirimu yang biasanya, kamu menyilangkan kedua kakimu sambil
melompat, memainkan permainan khayalan sendirian.
Ketika kamu kesandung dan jatuh, Bunda langsung berteriak, “Bunda udah bilang kan kalau jalan yang bener. Nanti kamu jatuh terus luka!” Bunda langsung menarik tanganmu menyuruh untuk bergegas berdiri.
Tak lama setelahnya Bunda berkata dengan pedas kepadamu di dalam toko furnitur. Kamu memanggil, “Bunda, lihat! Ballerinanya berputar di dalam kotak perhiasan!” sebelum kamu mengangkat dan tak sengaja menjatuhkannya, membuat kaki ballerina patah, dan menggores cat di bagian luar.

Setelah Bunda membayar kotak perhiasan yang kamu rusak itu, Bunda
berteriak padamu, “Bunda bilang jangan sembarangan pegang-pegang barang
yang bukan punya kamu!” di depan para pegawai toko.
Dan sekali lagi Bunda membentakmu saat kita makan malam di restoran.
Dengan jari manis terangkat saat memegang gelas, kamu berpura-pura
menjadi seorang putri yang sedang minum.
“Ups! Bunda, aku numpahin air,” kamu berbisik mengaku. Kamu tahu pasti Bunda akan marah lagi, dan tentu saja Bunda pun spontan membentak, “Berapa kali Bunda bilang, kalau minum pegang gelasnya dengan dua tangan! Sekarang lihat deh jadi berantakan, kan?”
Bunda tidak peduli. Bunda terlalu sibuk membuatmu memahami bahwa kamu
telah berbuat kesalahan dan tidak boleh mengulanginya lagi.
Tapi, setiap kali Bunda berbicara kasar padamu, Bunda melihat binar di wajahmu sedikit meredup.
Saat kita pulang dari mal hari itu, Bunda lesu dan uring-uringan, sementara kamu tetap ceria dan santai seperti biasa. “Horeee… sudah sampai rumah!” kamu berteriak kegirangan, sementara Bunda mengaduh, lalu melangkah ke kamar tidur dan menjatuhkan diri langsung ke kasur.
Saat itu, Bunda ingin sekali rehat darimu, istirahat sejenak dari
kecelakaan-kecelakaan kecil yang kamu buat, berhenti membentakmu karena
kesalahan-kesalahan yang kamu buat.
Beberapa menit kemudian, kamu berbaring di samping Bunda. Kamu
tersenyum dan masih menginginkan kehadiran Bunda meski hari ini Bunda
menunjukkan wajah bete dan memarahimu terus menerus.
Terhibur oleh sikap ceriamu, Bunda bersyukur memiliki anak yang
semangatnya tak mudah dipatahkan. Dan kemudian Bunda menyadari, bahwa
jeda yang Bunda butuhkan sebenarnya adalah jeda dari diri Bunda sendiri.

Bunda tak ingin menjadi seorang ibu yang pemarah, tidak sabaran, dan selalu berteriak sepanjang waktu.
Bunda tak ingin perilaku buruk karena yang Bunda lakukan menjadi
contoh yang kamu lihat sehari-hari dan menerima bahwa begitulah sikap
seorang ibu. Tidak, Bunda tidak mau. Maafkan Bunda
Mulai sekarang Bunda akan berhenti bersikap arogan dan mengingatkan
diri sendiri (terus-menerus) bahwa kamu hanyalah anak-anak yang masih
berusia empat tahun. Pada usia ini, wajar jika kamu melakukan kesalahan
dan sering menguji ambang batasmu sendiri, bahkan jika itu berarti juga
menguji batas kesabaran Bunda.
Bagaimana lagi caranya kamu mengetahui perbedaan apa yang benar dan
apa yang tidak bisa diterima? Apa cara terbaik untuk belajar konsekuensi
dari setiap tindakanmu jika kamu tidak diijinkan melakukan kesalahan
kecil dan menghadapi beberapa kemalangan?
Sebagai Parents tentu saja kami ingin melindungi anak-anaknya dari
bermacam-macam bahaya. Namun terkadang kami tidak menyadari bahwa justru
kami semakin membahayakan anak-anak jika kami tidak belajar membiarkan
anak melakukan dengan caranya sendiri.
Meski Bunda sering tidak sabaran dan cepat marah, namun perhatian
yang Bunda berikan sebenarnya bertujuan baik. Tapi tentu saja Bunda juga
harus belajar untuk lebih santai.
Alih-alih spontan mengucapakan, “Nah, kan! Bunda udah bilang apa…”, seharusnya Bunda bertanya: “Kamu baik-baik saja?”
Tapi sekarang, Bunda ingin mengucapkan tiga kata penting:
“Nak, maafkan Bunda.”
Dan tak peduli berapa kali Bunda kehilangan kesabaran, ingatlah tiga
kata yang jauh lebih penting ini, Nak, tiga kata yang mengekspresikan
hati, pikiran, dan jiwa Bunda:
“Bunda mencintai kamu.”
Sumber: The Asian Parent Indonesia