Pernahkah kamu membentak ibumu? Pernahkah kamu berpikir bagaimana perasaannya saat kamu melontarkan kata-kata kasar di depannya? Kalau iya, kamu harus tau bahwa bentakanmu sangat menyakitkan hati seorang ibu. Bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat melahirkan.
Rasa sakit melahirkan sama dengan patahnya 45 tulang di tubuh ibu, namun bentakan bisa menghancurkan hati ibu berkeping-keping.

Hal ini karena kita, anak, tidak mengerti bagaimana rapuhnya hati seorang ibu. Sadar atau tidak bahwa kita sering menyuruh dan membentak ibu saat keinginan kita tidak terpenuhi.
Contohnya anak remaja satu ini. Ia sudah sering menyuruh ibunya melakukan hal-hal kecil. Tak jarang ia juga membentak.
“IBU, masakan air bu, aku mau mandi pakai air hangat,” teriak si anak dari dalam kamarnya.
Ibunya yang sabar merebuskan air untuk anaknya dan menyiapkan peralatan mandinya. “Iya tunggu sebentar ya sayang.”
“Jangan lama-lama bu. Aku mau keluar sama teman.” bentak anaknya.
“Nak airnya sudah siap,”
“Lama banget sih bu, gitu doang juga!” Gerutu si anak.
Setelah selesai mandi dan siap, ia keluar kamar berpakaian rapi. Ia pamit ke ibunya. “Bu aku keluar dulu ya, mau jalan sama teman.”
“Mau ke mana?” Tanya ibu.
“Duh bu, tadi kan aku sudah bilang mau jalan sama temen,” si anak langsung negloyor pegi.
Si anak baru pulang malam harinya. Ia merasa lapar namun tidak ada makanan di meja. Ia pun mulai naik pitam. Namun tak berapa lama, ibunya datang.
“Loh sudah pulang nak.”
Dengan nada tinggi ia berkata “Ibu ni gimana sih? Kalau mau keluar ya masak dulu. Anaknya lapar tapi gak ada makanan di meja.”
Ibunya berusaha menenangkan anaknya. “Ibu tadi keluar soalnya bu Rahman meininggal nak.”
Anaknya terkejut dan menurunkan nada suaranya. “Meninggal kenapa, bu? Bukanya kemarin lagi hamil sehat-sehat aja?”
“Meninggal pas melahirkan, nak. Kamu harus tau kalau semua ibu begitu, saat melahirkan anaknya, mereka menahan sakit yang luar biasa, juga rela mempertaruhkan nyawa.”
“Jadi ibu juga begitu waktu aku melahirkan aku? Ibu juga merasakan sakit yang luar biasa?” tanya si anak dengan nada sedih.
Ibunya menjawab “Iya sayang, ibu merasakan sakit dan berjuang demi anak ibu. Tapi kamu tau apa yang lebih sakit daripada melahirkanmu?”
“Apa itu bu?” anaknya bertanya balik.
Sang ibu lalu mulai menangis, dengan tersedu-sedu ia menjawab “rasa sakit saat melahirkanmu ternyata tidak seberapa jika dibandingkan saat kamu membentak ibu dengan suara lantang, sayang.”

Si anak kaget bukan kepalang. Ia lalu menangis sejadi-jadinya di pangkuan sang ibu. Ia memohon ampun kepada ibunya. Ia menyesal atas perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya karena ia menyayangi ibunya.
Begitupun sang ibu yang selalu tabah dan sabar menghadapi si anak tanpa memarahinya.
Sumber: Inafeed