Meli (nama samaran) adalah seorang gadis kecil yang berusia 7 tahun.
Sejak kecil, ialah yang melakukan semua pekerjaan rumah, mencuci pakaian
satu keluarga, ayah, ibu dan dirinya.
"Setiap hari ayah sibuk bekerja dan kelelahan, ketika kembali bajunya sangat kotor", katanya.

Dulu, waktu sang ayah masih kecil, ia bermain petasan dan tanpa
sengaja mengenai kepalanya hingga otaknya pun sedikit terganggu,
sehingga sampai ia dewasa, ia tidak bisa menemukan pekerjaan tetap dan
hanya bisa mengandalkan kekuatan tubuhnya menjadi seorang kuli.
Penghasilannya dalam sehari bekerja dari pagi sampai malam, hanya 100
ribu rupiah.
Ibunya, sebenarnya dulu adalah bunga desa, tapi setelah ia pergi
bekerja ke luar kota, ia berubah menjadi gila. Mau tidak mau, Meli lah
yang harus menjaga dan merawatnya, karena sang ibu tidak bisa melakukan
apa-apa sekarang. Untuk biaya perawatannya, sepenuhnya berasal dari
penghasilan ayahnya yang tidak banyak.
Ketika sang ayah pergi, ibunya selalu pergi berkeliaran ke luar
rumah. Banyak orang desa yang berkata: "Dulu ia adalah wanita tercantik,
pandai menyanyi, menari dan belajar. Setelah pergi ke luar kota,
balik-balik jadi begini."

Rumah keluarga Meli juga tidak layak, perabotannya berantakan, lubang
dimana-mana. Sang ayah yang bekerja sebagai kuli, hampir semua
penghasilannya dihabiskan untuk sang istri yang gila. Bagi Meli, hidup
sengsara tidak masalah, yang paling penting adalah penyakit ibunya bisa
sembuh.
Ketika itu seorang wartawan mendatangi dan bertanya kepada Meli:
"Jika ada keinginan yang ingin kamu capai. Apa yang kamu inginkan?"
Meli pun menjawab: "Jika hanya boleh satu, aku berharap ibuku bisa sembuh."
"Kenapa sangat ingin ibu sembuh?" tanya sang wartawan lagi.
"Dengan begitu orang-orang tidak menghinaku dengan mengatakan bahwa aku adalah anak orang gila", jawab Meli lirih.
Tidak terasa, sang ayah sudah mau pulang sehingga Meli harus segera mempersiapkan makan malam.
Wartawan yang melihat lauk pauk untuk makan malam mereka hanya rebung pun bertanya: "Kenapa gak dikasih sedikit daging?"
Meli: "Daging? Keluarga kami tidak ada daging, mungkin setengah bulan
baru makan sekali, dan terkadang ketika ada acara penting baru
memakannya."
Wartawan: "Manis, asin, pedas, pahit. Jika diibaratkan dengan rasa, menurutmu keluargamu termasuk yang mana?"
Meli: "Asin. Ketika ayah berkeringat, rasanya asin. Ketika aku dibuli
dan aku menangis, air mataku juga asin. Jadi keluarga kami adalah rasa
asin."
Wartawan: "Kalau begitu, apakah keluarga kalian pernah merasakan yang namanya manis?"
Meli: "Pernah, Ketika ibu tidak gila dan ayah memujiku, maka keluarga kami merasakan manis."
Ketika sang ayah pergi ke gunung untuk memotong beberapa bambu, Meli
dengan senang hati mengikutinya. Ia merasakan kebahagiaan ketika bersama
dengan ayahnya, tidak peduli apa yang ayahnya kerjakan.
Meli juga mewarisi keahlian nyanyi ibunya. Tidak hanya bisa
bernyanyi, ia juga bisa menulis lagu. Tidak peduli bagaimana orang lain
mengatai ayahnya, di dalam lubuk hati Meli, ayahnya adalah orang
terhebat di dunia ini. Demi keluarga, ayahnya bekerja tak mengenal lelah
dan kotor, bahkan ia juga tak pernah mengeluh ataupun meninggalkan
ibunya.

Begitu juga pemikirannya tentang ibunya, meski sang ibu tidak bisa
memberikan cinta seorang ibu, tapi asalkan ia memiliki ibu, ia akan
merasa bahagia.
Meli membantu memandikan ibu, mencuci baju, menjaga, memberi obat, yang membuatnya menjadi seperti "ibu" dari ibunya sendiri.
Meli sering melihat foto zaman dulu. Ia ingat ketika ia lahir, ibunya
sudah gila. Meli benar-benar berharap suatu hari ibunya bisa sembuh.
Hari semakin gelap, sang ayah belum juga kembali. Ibunya bersikeras
menuruni bukit, bagaimanapun Meli menahannya, ibunya tidak mau
mendengarkan.
Meli terus berusaha menahan ibunya, meski ibunya terus mendorongnya,
Meli tetap melakukan hal sebisanya. Setiap kali ibunya mendorong
dirinya, Meli merasakan sakit, tidak hanya pada tangan dan tubuhnya,
tapi juga hatinya.
Untungnya, tak lama setelah itu sang ayah datang dan membawa ibunya masuk ke rumah.
Setiap kali penyakit gila ibunya kambuh, kehidupan Meli dan ayahnya
menjadi terganggu. Tapi perlahan-lahan mereka mulai terbiasa, tidak
peduli seberapa keterlaluannya sang ibu, Meli dan ayahnya merasa tidak
bisa hidup tanpanya.
Sejak kecil, Meli sudah belajar banyak hal. Ia menjadi ibu dari
ibunya sendiri. Tapi ia tidak pernah mengeluh dengan hidupnya. Ia
berusaha tetap tersenyum dan bernyanyi dengan riang.

Hari demi hari berlalu begitu saja, hingga akhirnya setelah
masyarakat tahu keadaan mengenaskan dari Meli ini, banyak orang yang
rela menyumbangkan dana untuknya.
Pada tanggal 1 Juni 2014, Meli mendapatkan uang sumbangan dana
sebesar 160.000 yuan (sekitar 342 juta rupiah) dari orang-orang yang
peduli kepadanya, agar hidupnya menjadi lebih baik.
Kemudian pada tahun 2015, Meli pun sudah berusia 10 tahun. Memang
tidak banyak perubahan pada tubuh Meli yang berusia 7 tahun dengan
tubuhnya sekarang yang sudah berusia 10 tahun. Hal ini karena ia tidak
mendapatkan gizi yang cukup. Untungnya, setelah kisah hidupnya ditonton
oleh masyarakat, hidupnya perlahan-lahan berubah. Ibunya yang tidak
sehat dimasukkan ke rumah sakit untuk ditangani. Kemudian, Meli bersama
ayahnya tinggal dengan kakeknya.

Meli pun akhirnya kembali ke bangku sekolahnya dan bertemu dengan teman-teman.



Semoga Meli bisa bertumbuh menjadi seorang perempuan yang sukses ya ke depannya!

Sumber: Beauty