Ilustrasi ini sangat menyentuh hati dan menyadarkan kita akan arti hidup ini.
Ketika kita masih muda, kita tidak terlalu berpikir tentang waktu
yang terus berjalan ini. Kita merasa diri sendiri adalah pusat kehidupan
kita sehingga kita tidak terlalu mempedulikan orang yang berada di
sekitar kita.

Ilustrasi yang berdurasi 3 menit ini akan merubah pandangan kita akan
hidup dan menghargai orang yang selama ini selalu berada di sisi kita.
Jangan tunggu sampai waktunya habis baru kita menyesal karena waktu
tidak akan pernah terputar kembali.
▼ Saat jaman sekolah dulu, dia selalu memperhatikanku dan berada di
dekatku ketika aku sedang kesulitan. Tapi karena gengsi dan egoku, aku
mengabaikannya.


▼ Ketika hujan turun begitu deras, dia sudah menungguku di gerbang
sekolah sambil membawa payung. Tapi aku malah memakai tasku sebagai
payung dan berlari.

▼ Dia selalu mencari cara agar bisa berkomunikasi denganku. Pada
jaman itu, dia menggunakan cangkir kertas sebagai telepon agar aku mau
mendengarnya.

▼ Usahanya yang gigih cukup membuatku mau dekat dengannya.

▼ Setelah lulus dari perguruan tinggi aku mulai bekerja dan berpikir untuk menikahinya.

▼ Akhirnya kami pun memutuskan untuk menikah dan hidup bersama.

▼ Istriku hamil...hore!

▼ Kami dikaruniai oleh seorang putri yang cantik.

▼ Suatu hari pekerjaanku berjalan tidak lancar. Begitu banyak tekanan
dan cobaan yang terjadi sehingga membuatku penat. Saat pulang ke rumah
istriku sudah membuatkanku makanan, tapi aku sangat stress dan melempar
semua makanan.

▼ Tahun demi tahun berlalu dan anakku sudah tumbuh besar. Aku dan istriku pun bertambah tua.

▼ Meskipun demikian, dia masih sama seperti dulu. Selalu memperhatikan keluarga dan senyumnya selalu menghiasi wajahnya.

▼ Tapi aku yang dari dulu selalu cuek ini malah asik minum alkohol dan bersama wanita lain.


▼ Aku bahkan mendorong istriku.

▼ Anak perempuanku melihatku sedang berselingkuh. Hatinya hancur berkeping-keping.

▼ Saat aku pulang ke rumah, aku melihat istriku tersungkur di lantai.

▼ Dokter mendiagnosa istriku terserang penyakit mematikan. Disitu aku
baru sadar kalau selama ini aku tidak pernah memperhatikannya dan malah
asik sendiri. Aku sungguh menyesal dan merasa bersalah.

▼ Sejak saat itu, aku di usiaku yang sudah tua ini baru mau bekerja
dengan giat demi istri dan anakku. Aku juga menyediakan waktu untuk
menemani keluargaku.

▼ Aku menyisir rambutnya dan melakukan hal yang dulu waktu muda suka dia lakukan padaku.


▼ Sekarang aku selalu ingin bersamanya.

▼ Aku ingin sekali menghentikan waktu ini agar tidak berjalan. Aku
ingin kembali ke masa muda dan membuat istriku bahagia. Aku ingin
mengulangi semuanya.

▼ Tapi semuanya itu sudah terlambat.

Hidup begitu singkat jadi jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan
ini dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Selalu sediakan waktu
untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu yang begitu mencintaimu.
Sumber : coco