Sekilas, tidak ada perbedaan yang kentara antara momen jatuh cinta
dan mencintai seseorang. Padahal, kedua hal itu justru jauh dari kata
‘sama’. Manusia bisa jadi makhluk banal yang siap tergila-gila pada
siapa saja. Namun, mereka juga bisa menjadi makhluk yang mencintai
dengan setia, tanpa merasa perlu mencari selainnya.
Apakah kamu
sedang jatuh cinta, atau sudah bisa benar-benar mencintai? Sebelum
buru-buru melabeli rasamu, simak perbedaan keduanya di artikel ini, ya!
1. Jatuh cinta berarti ingin memiliki. Mencintai membuatmu merasa tercukupi.
Ketika jatuh cinta dengan seseorang, kamu akan merasa bahwa dialah
yang terbaik. Kamu melihat kesempurnaan di wajahnya, lewat penampilan,
cara berpikir, hingga caranya bertutur kata. Memuja hampir segala yang
dia punya membuatmu cenderung buta. Di saat ini kamu akan menganggap
bahwa bahagia berarti ketika bisa memilikinya.
Namun, rasa cinta
yang sesungguhnya bukan semata-mata hasrat ingin memiliki. Tanda bahwa
kamu benar-benar mencintai adalah ketika kehadirannya jadi begitu
penting dalam hidupmu. Bukan berarti hidupmu tidak bahagia tanpa dia,
tapi keberadaannya di sampingmu yang menjadikan hidupmu sah dikatakan
sempurna.
2. Jatuh cinta menjadikanmu sering meminta. Tapi mencintai berarti banyak memberi tanpa berharap balasannya.

Jatuh
cinta bisa membuatmu berubah menjadi egois. Kamu berharap dibalas
sepadan, minta diperhatikan, hingga menuntut untuk selalu dimengerti.
Jika jatuh cinta berarti menjadikan kekasihmu bagai budak yang wajib
membahagiakanmu, bukankah cintamu berarti kesialan baginya?
Cinta justru harus banyak-banyak memberi. Ketika benar-benar
mencintai, kamu akan merasa bahwa dia layak mendapatkan dirimu
seutuhnya. Rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian tidak pernah
ragu-ragu kamu berikan. Rela belajar masak demi membuatkan bekal makan
untuknya, peduli dengan kebersihan kamarnya, hingga perkara cukup
rapikah baju yang hari ini dia kenakan. Cinta dengan hebatnya
menjadikanmu ikhlas.
3. Emosi cenderung meledak-ledak saat jatuh cinta, berbeda ketika perasaanmu bisa ditakar sesuai porsinya.

Jatuh
cinta membuat emosimu cenderung fluktuatif. Rencana kencan di Sabtu
malam bisa membuatmu senyum-senyum bahagia sepanjang hari. Tapi,
sebentar saja dia terlambat menjemput sudah membuatmu uring-uringan.
Bahkan saat perbedaan pendapat akhirnya membuat kalian mencicipi momen
pertengkaran, kamu akan terpancing merasakan kekecewaan hebat.
Saat
bisa mencintai dalam-dalam, kamu tidak lagi melewati drama-drama dalam
hubunganmu. Selain bisa menjalani hubungan yang dewasa, emosimu
cenderung lebih stabil. Melewati satu hari tanpa kabar darinya tidak
lagi membuatmu gundah. Terpisah jarak lantaran urusan pekerjaan pun
bukan lagi masalah. Satu-satunya yang bisa membuatmu tenang adalah
ketika dia mendapatkan yang terbaik – yang membuatnya bahagia.
4. Cinta tak pernah dibuat-buat. Kamu mungkin tidak pernah dengan sengaja mengingatnya setiap saat.

Banyak
yang beranggapan bahwa jatuh cinta jauh lebih mudah dan lebih sederhana
daripada mencintai seseorang. Dia yang sukses membuatmu jatuh cinta
terus berputar-putar di kepalamu. Tidak sedetik pun kamu lewatkan tanpa
mengingat kenangan-kenangan saat bersamanya. Tunggu! Sekedar
mengingatnya bukan berarti kamu benar-benar peduli padanya, lho!
Saat
benar-benar mencintai pasanganmu, kamu justru tidak butuh setiap saat
untuk memikirkannya. Tanpa perlu diperintah atau dirangsang, alam bawah
sadarmu yang menempatkan dia dalam ingatan. Saat makan siang, sepiring
nasi putih dan ayam goreng membuatmu mengingatnya yang menggemari
makanan itu. Ketika melihat jam tangan yang terlihat cocok dia kenakan,
kamu tidak ragu untuk membeli dan menyimpankan untuknya. Pikirmu: “nanti akan kuberikan jika jam tangan miliknya rusak”.
5. Bersamanya tidak membuatmu “mabuk”. Sekalipun tanpa dia, kamu juga akan baik-baik saja.

Jatuh
cinta membuatmu ingin selalu menghabiskan waktu untuk bersama
pasanganmu. Berangkat ke kampus, makan siang bersama, pulang kuliah,
jalan-jalan; banyak hal yang tidak ingin dilewatkan begitu saja tanpa
kehadirannya. Setiap hari, kamu ingin bisa lebih dekat dengan
pasanganmu. Berharap hubungan yang terjalin di antara kalian akan
semakin akrab dan intim.
Tapi porsi cinta kalian tidak akan selalu
sama. Ada kalanya hubungan jadi begitu hangat. Tapi rasa jenuh bisa
juga memaksa kalian sedikit berjarak. Naik turunnya kadar cinta kalian
tidak perlu dipersoalkan. Ketika bisa benar-benar mencintai pasangan,
kamu justru akan menjalani hubungan yang lebih santai dan minim rasa
tidak aman. Cinta yang kuat di dalam hati bisa meyakinkanmu bahwa semua
akan baik-baik saja.
6. Berbeda dengan cinta yang sebenarnya, jatuh cinta itu perkara sepele dan sederhana.

Kadang,
cinta sekedar layaknya kreasi pikiran dan perasaan manusia. Ketika
diinginkan dan diizinkan, kamu bisa jatuh cinta dengan teman baru atau
orang asing yang kamu temui di bus kota saat berangkat ke kantor. Tapi,
momen jatuh cinta yang sesaat dan tiba-tiba belum bisa menjanjikan
apa-apa. Cinta itu bisa saja semakin kuat, pun sekejap hilang berganti
cinta yang lain.
Cinta yang sungguh-sungguh biasanya sudah
melewati berbagai ujian. Kamu dan pasanganmu mungkin sudah menjalin
hubungan selama beberapa tahun. Melewati momen bahagia, sedih, hingga
perasaan kecewa lantaran kepercayaan yang pernah dikhianati. Namun,
cinta yang kuat menjadikan kalian bisa bertahan — bukan memilih menyerah
lalu mencari cinta yang lain.
7. Ketika benar-benar mencintai pasanganmu, berarti kamu sukses mencintai dirimu sendiri.

Cinta
yang sejati atau sungguh-sungguh tidak akan mudah hilang dan berganti.
Selamanya, cinta itu akan tinggal dalam hati dan dirimu, sekalipun si
pembawa cinta sudah tidak bersamamu lagi.
Bisa benar-benar
mencintai seseorang membuatmu selalu ingin bercermin. Dia yang tinggal
dalam hati bisa menjadikanmu pribadi yang baru. Segala yang kamu cintai
atas dirinya berhasil mempengaruhimu. Di saat inilah, kamu menikmati
cinta yang sesungguhnya: cinta yang damai, menghangatkan, dan membuatmu
berkembang.
Yup, hendak sekedar jatuh cinta atau mencerapi cinta
dalam-dalam adalah hak setiap orang. Yang pasti, keduanya tidak lantas
boleh melemahkanmu. Seharusnya cinta bisa membuat hidupmu lebih bahagia,
‘kan?