Ali adalah seorang pengusaha konveksi kecil-kecilan. Berkat kerja kerasnya, usahanya cukup ada hasil. Tapi siapa sangka begitu ada sedikit duit, dia langsung memfoya-foyakannya. Usahanya tak terurus, hartanya pun habis. Terakhir, ia sampai tak sanggup lagi bayar gaji karyawan.
Mertua Ali adalah seorang pengusaha di bidang perikanan. Usahanya besar. Mau kasih pinjam Ali uang berapapun tidak masalah. Tapi mertuanya sudah tahu sifat Ali. Mereka berdua pernah cekcok dan tidak pernah berhubungan lagi sejak itu.
Hari itu hari gajian. Ali tak mampu membayar gaji karyawannya. Tak punya cara lain, ia pun terpaksa memasang "muka tebal" berkunjung ke rumah mertuanya untuk meminjam uang karena ini darurat.
Sampai di rumah mertua, ia menjumpai mertuanya sedang menjemur ikan asin di pekarangan. Dia pun memberanikan diri untuk menyapa dan menjelaskan maksud kedatangannya.
Habis dengar cerita Ali, mertuanya langsung mengerutkan alis. Ia menunjuk ke arah ikan asin yang ada di lantai dan bilang: "Kamu lihat ikan asin ini, apakah ia masih bisa balik badan?"
Ali tahu bahwa mertuanya sedang mengolok-oloknya. Ia diam dan berpikir, kemudian ia membalikkan ikan asin itu dengan tangannya.
"Nah, asal ada orang yang mau bantu, ikannya pasti bisa balik badan."
Mertuanya mengangguk dan berkata, "Betul! Ada orang bantu, ikannya bisa balik badan, tapi…"
Sang mertua menyuruh Ali mengendus tangannya. Setelah Ali diendus, ternyata baunya amis bukan main, sangat menyengat! Tangannya jadi bau amis gara-gara menyentuh ikan asin tersebut.
Mertuanya pun tertawa, "Lihat tuh! Udah baik bantuin ujungnya malah kena sendiri! Kalau begini, mana ada orang yang mau bantu?" Begitu selesai ngomong, mertuanya masuk ke rumah.
Mau pinjam duit gak dapet, malah diolok-olok seperti ini. Hati Ali penuh dengan kemarahan juga sakit hati. Ia pun memutuskan untuk mengelola usahanya baik-baik, membuatnya sukses supaya bisa kasih lihat ke mertuanya bahwa "ikan asin" yang ada di matanya ini juga bisa balik badan!

Begitu pulang, Ali langsung menggunakan sertifikat rumahnya untuk meminjam uang di bank. Begitu dapat uangnya, ia tanamkan semuanya pada usahanya. Ia bertekad untuk membangun kembali usahanya.
Setelah beberapa waktu, usahanya mulai ada kemajuan. Tapi apa daya, mesin-mesin konveksi miliknya sudah ringsek dan tua, produknya sudah jadul, stok di gudang juga menumpuk. Ia pun memasang muka tebal sekali lagi berkunjung ke rumah mertuanya untuk meminjam uang.
Kali ini, Ali sudah menyiapkan satu cara. Ia langsung menghampiri mertuanya di pekarangan, dan tanpa ngomong soal pinjam uang, ia langsung berbicara soal ikan asin tersebut.
"Sebenarnya, orang itu bisa pakai satu ranting untuk bisa membalikkan ikan tersebut, dengan begitu tangan orang itu takkan amis atau tertusuk duri ikan."
Mertuanya tak banyak omong dan langsung mengambil sebuah ranting untuk membalikkan ikan asin tersebut. "Ptekk!", bunyinya. Ranting tersebut patah. Ikan asin tersebut tidak berhasil dibalikkan. "Udah lihat belum? Ikannya gak bisa balik, rantingnya sudah patah."
Ali pun tidak puas dan berdebat, "Ranting ini kekurusan! Coba ambil yang gedean!" Ia pun menunjukkan pada alat dayung perahu yang ada di sana.
Mertuanya pun tertawa, "Itu alat dayung yah buat dayung, mana ada orang balik pakai itu?" Begitu selesai ngomong ia pun membuang ranting yang sudah patah itu dan masuk ke rumah.
Tampaknya mertuanya sudah yakin bahwa ikan asin ini tidak bisa balik badan. Ali marah dan bersumpah, seumur hidupnya, ia tidak akan lagi meminjam uang kepada mertuanya, walaupun ia harus mengemis sekalipun!
Tapi bersumpah di mulut itu gampang. Usahanya masih harus terus berjalan. Kalau sudah mikir sampai sana, Ali tak bisa tidur semalaman. Rambutnya sampai mulai ubanan.
Setelah dipikir baik-baik, Ali pun memutuskan untuk menjual mesin-mesinnya yang sudah tua dan stoknya yang menumpuk di gudang dengan harga murah untuk membeli mesin baru.
Tapi karena modalnya tidak cukup, mesin yang dibelinya cuma sedikit. Karyawannya juga ada beberapa yang keluar, cuma tersisa beberapa orang saja. Ia pun menyewa beberapa fashion designer dengan gaji tinggi untuk mendesain bajunya supaya lebih bagus. Setelah beberapa waktu, usahanya mulai maju lagi, pesanan juga mulai berdatangan.
Tapi walaupun pesanannya banyak, alat dan perlengkapan Ali tidak cukup. Ia hanya bisa menerima orderan kecil-kecil, tidak bisa menerima orderan besar.
Baru-baru ini, sebuah perusahaan asing melirik produk yang dihasilkan dari pabrik konveksi Ali. Mereka bersiap-siap untuk memesan dalam jumlah banyak. Ali sangat senang, akhirnya dapet orderan gede juga! Tapi bagaimana ini? Alat-alatnya tidak cukup, bahan-bahannya juga mesti beli lagi, mau gimana bisa terima orderan ini?
Hari itu, Ali sedang pusing-pusingnya di kantor, tiba-tiba istrinya telepon bilang kalau hari ini hari ulang tahun bapak (mertua Ali). Istrinya mengajak Ali ke rumah untuk ikut merayakan ulang tahun sang mertua.
Teringat soal mertua, Ali masih kesal. Walaupun ia sangat, sangat tidak ingin ikut merayakan, tapi apa daya istri sudah buka suara. Ia tidak berani membantah. Ia pun menarik nafas panjang dan bergegas pergi ke rumah mertua.
Sampai di rumah mertua, Ali melihat mertuanya masih saja berdiri di sana menjemur ikan asin. Melihat Ali datang, sang mertua pun memanggilnya ke pekarangan. Sang mertua memberikan sebatang ranting kepada Ali untuk membalikkan ikan asin tersebut.
Lagi? Ali bingung, apakah mertuanya salah makan obat? Dengan sedikit heran, Ali pun menuruti dengan membalikkan ikan asin tersebut. Siapa sangka sekali angkat, ikan tersebut balik dengan mudahnya!
Ali pun terkejut. Saat ini, mertuanya berkata, "Waktu itu ikan asinnya baru dijemur, masih basah dan berat. Sekarang ikannya sudah kering, sekali toel langsung balik."
Begitu selesai ngomong, mertuanya mengeluarkan secarik kertas cek dari sakunya.
"Nih! Ambil gih buat beli mesin sama bahan-bahan sana!"
Ali langsung bengong. Mukanya bingung. Dalam hati ia berpikir, "Apa yang terjadi? Kok mertuanya tiba-tiba berubah, jadi baik banget langsung kasih dia uang tanpa diminta?"
Melihat muka Ali bengong, mertuanya tak bisa menahan tawa. Ia mengambil sebuah tongkat kayu dan membalikkan ikan asin itu satu per satu sambil berkata, "Ikan asin ini atasnya sudah kering, tapi bawahnya belum. Kalau enggak dibalikin, entar jadi ikan busuk! Hahaha!"
Ali tiba-tiba mengerti. Ternyata selama ini mertuanya bukannya tidak mau menolongnya, tapi ia menunggu saat yang tepat untuk mengulurkan tangan!
Yuk SHARE kisah menarik ini!
Sumber: Today's headline