2017 telah usai terbitlah 2018 yang baru, waktu sungguh sangat cepat
berlalu. Aku calon ibu muda, menikah september 2016 lalu saat usiaku 22
tahun, dan saat ini sedang hamil 9 bulan anak pertamaku. Menjadi ibu
muda layaknya menghadapi sebuah tantangan, dan bagiku ini adalah
tantangan kedua, setelah berhasil melewati tantangan pertama yaitu
mengalahkan ego diri sebagai seorang istri di tahun pertama menikah.
Benar, memang tidak mudah menyatukan dua insan yang berbeda antara
laki-laki dan perempuan yang memang alaminya Tuhan ciptakan berbeda,
baik dari karakter, kebiasaan secara umum dan lain-lain. Namun, apa yang
kuhadapi tak hanya berbeda dari sisi karakter antara laki-laki dan
perempuan, tapi berbeda dari segala sisi. Beda negara, berbeda usia
hingga puluhan tahun, berbeda karakter pastinya, berbeda kultur/budaya,
bahasa, dan hampir di semua lini aku menemukan perbedaan. Hal-hal
demikian hampir menghancurkan pernikahan kami.

Tahun pertama menikah adalah hal yang sangat sulit bagiku, hampir
setiap hari aku menangis meratapi keadaanku. Muncul rasa menyesal dan
menyerah, ingin berpisah dan entah sudah berapa banyak kata, "Ceraikan
aku", yang keluar dari mulutku meski dalam keadaan hamil muda pada saat
itu di pertengahan tahun 2017. Menikah memang sulit jika kita hanya
fokus pada perbedaan yang ada, mencari-cari kesalahan pasangan tanpa
pernah bercermin melihat kesalahan diri sendiri dan introspeksi diri,
tanpa berusaha saling mengisi dan mengerti. Tak hanya menikah, hal-hal
yang lain pun akan sulit jika kita hanya melihat dari sisi negatif.
Tuhan sungguh baik masih memberikanku kesempatan untuk memperbaiki
keadaan ini.

Akhir tahun 2017 aku menyadari begitu banyak kesalahan yang sudah aku
lakukan terhadap suamiku dan anak yang ada dalam kandunganku. Bayangkan
saja jika seandainya perceraian itu terjadi, bagaimana dengan kondisi
psikologis anakku yang lahir tanpa mengenal seorang ayah. Padahal peran
orang tua sebagai ayah dan ibu yang akur sangat dibutuhkan anak-anak.
Aku pun menyadari tidak enaknya dampak dari hal tersebut, sebab aku
mengalaminya sendiri. Sejak saat itulah aku berusaha introspeksi diri
dan kuakui betapa egoisnya aku menuntut terlalu banyak dari suamiku
tanpa sadar aku menyakiti hatinya. Ia yang bersusah payah untuk mencari
nafkah demi membahagiakanku, membahagiakan keluarga kecil kami nantinya.

Memasuki tahun 2018 aku bertekad untuk terus memperbaiki diri.
Memantaskan diri menjadi pribadi yang dicintai dan mencintai tanpa
mengharap balasan dari manusia, tapi mengharap balasan dari Tuhan sang
pencipta saja, sering kita sebut dengan ikhlas. Aku ingin menjadi
pribadi yang sabar dan dewasa dalam menyikapi berbagai hal untuk
kebaikanku, kebaikan anak-anakku kelak dan untuk orang-orang di
sekitarku. Sebab harus kita pahami bahwa adanya ujian itu untuk kita
lewati dan pasti sesuai kemampuan diri dan setiap masalah ada solusi
yang terbaik, tidak perlu saling menyakiti tapi yang perlu ialah saling
berintrospeksi diri, mencintai dan menghargai.
Sering pepatah mengatakan, "Ingat kebaikan orang lain terhadap dirimu
dan ingat keburukan dirimu terhadap orang lain," agar muncul rasa
saling memaafkan. Manusia tidak selalu benar, dan tidak selalu salah.
Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. "New
Year, New Me," tepat sekali! Kita yang baru di tahun 2018, belajar dari
kesalahan, perbaiki segala keadaan dan raih kesempatan-kesempatan baik
dalam hidupmu, sebab hidup di dunia ini hanya sementara. So, jangan
sampai sia-sia. Berikan yang terbaik untuk sang Maha Cinta ialah Sang
Pencipta, cintai ia niscaya engkau akan dicintai oleh
makhluk-makhlukNya.
Salam cinta dari seorang ibu muda.
Sumber: Vemale