Namaku, Feny, sejak menikah dengan Luis aku tidak menyangka akan bertemu mertua yang super galak. Dari masa saya pacaran dan pertama kali diajak Luis datang ke rumah pun, mamanya tidak pernah tersenyum padaku. Hal ini berlangsung sampai aku menikah.
Setelah kami menikah beberapa tahun, saya pun belum kunjung hamil. Di lain sisi, mertuaku sudah menuntut ingin cepat memiliki cucu.
Namun Luis selalu membelaku "Ma, mama kan tau kita berdua sibuk mencari uang setiap harinya, kami belum siap untuk punya anak sekarang"
"Kalian udah hampir umur 30 tahun, kalian mau sibuk dan terus menunda sampai kapan?" tanya mertuaku marah
Sebenarnya sejak kami menikah, kami ingin cepat-cepat punya anak, tapi tidak tahu mengapa aku pun belum berhasil mengandung.
Mertuaku juga sempat membisikkan kepada Luis 「bawa istrimu periksa ke dokter, barangkali karena dia terkena penyakit, itu yang menyebabkan ia belum bisa mengandung!」
Awalnya saya juga mengira bahwa karena kondisikulah yang menyebabkan sampai saat ini kami belum punya anak. Belakangan ini memang aku sering sakit-sakitan karena stres. Namun aku bersyukur punya suami yang kuat dan sangat menjaga kesehatan tubuhnya.
Dan setelah kami berdua periksa ke dokter, aku kaget, ternyata permasalahannya bukan di aku, tapi di suamiku!
Suamiku diduga mengalami hormon yang rendah, sehingga kami pun tidak bisa punya keturunan.
Saat itu pun aku kecewa dan menyalahkan Luis "ternyata selama ini semua salah di kamu. Parahnya, mama kamu masih berani nuduh aku yang tidak-tidak!"
Luis pun masuk kamar dan aku melihat ia menangis diam-diam di bawah bantalnya. Tapi saat itu aku tidak peduli, karena aku saking kesal dan kecewa.
Keesokan harinya, mertuaku masih belum tahu bahwa kondisi anaknyalah yang menyebabkan kita tidak punya keturunan. Dan mertuaku masih menuduh aku yang tidak-tidak "Bagaimana hasil cek up nya? Sudah keluar? Jadi kata dokter kamu terkena penyakit apa?"
Hampir saja emosi aku meluap karena kesal, tiba-tiba Luis keluar kamar sambil membawa hasil pemeriksaan "Ma, kesalahan bukan terjadi di Feny, tapi di anakmu. Aku mandul ma!"
Mertuaku syok dan ia tidak bisa berkata apa-apa, ia pun menangis kaget sambil lari ke kamarnya.

Waktu kami berdua masuk kamar, tiba-tiba suamiku berkata :
"Maafkan aku sayang tidak bisa memberikanmu keturunan, tapi tolong jangan ceraikan aku. Ayo kita cari solusi bersama. Bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja?"
Aku pun tersentuh dengan perkataan suamiku, buat aku kesehatannya adalah kesehatan aku juga. Sejak itu aku berjanji tidak akan menyalahkan kondisi kesehatan suamiku lagi. Dan kami pun segera pergi untuk mengadopsi anak.
Kami pun mengadopsi seorang anak tampan yang bernama Ola. Sejak kehadiran Ola di rumah kami, aku merasakan mertuaku berubah 180 derajat. Walaupun ia tahu bahwa Ola bukan cucu kandungnya, ia sanagat menyayangi Ola.
Yang anehnya lagi, secara perlahan mertuaku berubah baik kepadaku. Ia jadi sering menyiapkan sarapan untukku, kalau aku sakit dia akan mengobatiku, dan jadi lebih sering tersenyum kepadaku.
Waktu berjalan sangat cepat, kehadiran Ola di antara kami membuat kami semakin hidup rukun dan tidak pernah bertengkar lagi. Ola adalah anak yang pintar, ramah, dan penyayang, apalagi ia sangat menyayangi mertuaku.
Setiap pulang sekolah, yang ia sapa duluan adalah mertuaku.
"Oma aku pulang. Ini aku bawakan kue basah kesukaan oma!"
Sampai Ola masuk universitas dan karena sudah terlalu tua akhirnya mertuaku pun meninggal dunia.
Kepergian mertuaku membawa dukacita yang sangat mendalam buatku. Walaupun awalnya aku pernah mengalami kepahitan olehnya, tapi melihat apa yang ia perbuat kepada anakku, itu menjadi sebuah 「obat pemaaf」 untukku.
Dan pada suatu hari,saat aku membereskan kamar peninggalan mertuaku. Aku iseng melihat sebuah map kuning yang judulnya tertulis 」hasil pemeriksaan kesehatan Feny「

Ya itu adalah hasil pemeriksaan waktu dulu aku dan suamiku cek up ke dokter, dan saat itu dinyatakan bahwa suamiku mandul.
Namun waktu aku baca kembali hasil pemeriksaannya, aku terkaget dan suamiku tiba-tiba masuk kamar
"Maafkan aku sudah berbohong selama ini kepadamu. Bukan aku yang mandul, tapi kamu!"
Belum selesai aku mencerna perkataanya, suamiku melanjutkan "Sebenarnya mertuamu tahu bahwa kamu adalah seorang wanita mandul. Cuma saat itu aku berlutut dan mengemis kepadanya, aku minta agar dia juga menutupi semua darimu"
"Aku takut saat kamu mengetahui bahwa kamu mandul, kamu malah minder dan minta cerai dariku. Aku tidak bisa hidup tanpamu! Buat aku, kamu tidak berhasil memberiku keturunan saja aku tidak keberatan. Yang penting kita harus selalu bersama"
Sejak rahasia itu terbongkar, banyak sekali fakta yang bikin aku kaget sekaligus lega. Saat mertuaku mengetahui bahwa sebenarnya aku mandul, ia pun merasa sedih. Cuma sebagai wanita, ia mengerti di saat "down" seperti itu yang wanita butuhkan adalah kekuatan dan support.
"Terimakasih suamiku, walaupun kamu harus berbohong demi kebaikan kita. Tapi di sini aku mengerti bahwa cinta memang harus diusahakan. Jika kita menemukan 1 masalah di depan kita, kita harus mencari 101 jalan keluar."

Sumber: Coco