Kebanyakan ibu rumah tangga tanpa disadari mereka menempatkan pekerjaan rumah tangga di nomor urut satu. Mereka merasa, setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka baru ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama anak. Setiap kali anak berkata,"Ma, ada yang ingin aku sampaikan," "Ma, temani aku main yuk," atau "Ma, aku ingin makan apel." Kebanyakan ibu akan langsung berkata,"Sebentar ya, mama lagi sibuk."
Setelah memiliki anak, memiliki peran sebagai ibu rumah tangga memang tidak mudah. Setiap harinya harus berpacu dengan waktu untuk mengurus rumah dan juga anak. Kebanyakan ibu rumah tangga pasti ingin memiliki satu hari libur, di mana mereka bisa bersantai-santai.
Namun, apakah kita menyadari kalau dengan sering mengatakan,"Sebentar ya, Nak" atau "Tunggu sebentar", sebenarnya anak tidak benar-benar akan menunggu. Mereka akan mencari hal lain untuk dilakukan, dan akhirnya permintaan atau yang diinginkan anak pun berubah.

Jika sedari anak kecil, kita tidak mengajarkan mereka kalau keluarga adalah yang nomor satu, maka ketika dewasa nanti, anak pun akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Contohnya, ketika anak sudah dewasa dan kita telah menua, kita mungkin akan sering meneleponnya dan menanyakan kapan ia akan datang ke rumah, kapan ia ada waktu untuk berbincang-bincang dan semacamnya. Lalu, bagaimana perasaan kalian jika anak selalu menjawab,"Sebentar ya ma, aku lagi sibuk. Begitu aku ada waktu, aku akan pulang ke rumah."
Di saat kita sadar bahwa hubungan kita dan anak telah menjauh dan ingin memperbaiki hubungan itu, anak justru sudah terbiasa untuk melewati hari seorang diri. Lalu, seiring berjalannya waktu dan mereka bertambah dewasa, kita lah yang akan mengejar mereka dan meminta mereka untuk meluangkan waktu.
Waktu adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Waktu pun tidak dapat diputar kembali. Oleh karena itu, anak-anak juga tidak mempunyai waktu untuk selalu 'menunggu'. Mereka akan bertumbuh dewasa dan mereka tidak akan lagi membutuhkan kita untuk melakukan berbagai hal, mereka sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Oleh karena itu, kita harus bisa mengatur waktu dengan lebih baik lagi, jangan selalu membiarkan anak untuk menunggu. Luangkan lebih banyak waktu bersama anak. Jangan biarkan kesibukan dan rutinitas kita menjadi alasan untuk meninggalkan peran penting sebagai orang tua.
Sebenarnya, tidak perlu sampai 24 jam dalam sehati. Dengan waktu 30 menit bersama anak, sangat besar sekali nilainya terutama dalam membangun hubungan serta  kepercayaan antara orang tua dan anak. Mengobrol bersama saja sudah menjadi hal yang sangat mewah dan tidak bernilai. Harus ada interaksi dua arah agar bisa menciptakan waktu berkualitas antara orang tua dan anak. Jika sedari kecil anak terbiasa memiliki waktu berkualitas dengan orang tua, ketika dewasa nanti secara natural, ia juga akan melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, luangkanlah waktu agar tidak ada penyesalan nantinya.


Sumber: KK