Tidak ada seorang pun yang tidak pernah berbohong di dalam hidupnya.
Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, orang dewasa hingga lansia semua
pernah melakukan kebohongan. Bahkan beberapa orang membenarkan diri
dengan mengatakan bahwa mereka berbohong demi kebaikan. Kita bertemu
pendusta setiap hari, tapi kita tidak tahu apa yang harus dilakukan saat
mereka adalah anak-anak kita? Tentu kita tidak ingin membesarkan
anak-anak yang jago bohong kan? Berikut ini ada artikel yang akan bahas
mengapa anak berbohong dan bagaimana orangtua mereka merasa bersalah
karenanya. Yuk, kita pelajari bersama.

1. Anak-anak tahu konsekuensinya.
Sangat sering anak berbohong karena mereka tahu kebenaran membawa
hukuman. Cobalah untuk mendorong mereka untuk mengatakan yang
sebenarnya, mungkin dengan membuat hukumannya tidak parah sehingga anak
tidak takut akan hal itu.

2. Anak-anak tidak ingin membuatmu kesal.
Anak-anak mencintaimu dan tidak ingin kamu marah. Jika reaksimu
terhadap kebenaran mereka tidak terlalu kesal, mereka akan berkurang
juga rasa takutnya untuk menyakitimu dan berani mengungkapkan informasi
yang benar.

3. Mereka tidak berbohong tapi berfantasi.
Terkadang anak-anak salah mengira tentang kenyataan: mereka
menceritakan segala hal tentang petualangan mengagumkan mereka atau
meyakinkan semua orang bahwa mereka memiliki saudara kandung.
Bersikaplah lebih lembut terhadap kebohongan seperti itu karena
kebohongan-kebohongan itu lenyap dalam arus waktu ketika anak-anak
bertambah tua.

4. Anak-anak berbohong karena mereka tidak ingat.
Ada situasi di mana anak-anak berbohong dan mempercayainya sendiri.
Ini terutama menyangkut anak-anak yang mungkin melupakan beberapa
kenakalan.
Jangan takut dengan kebohongan semacam itu. Cobalah bersabar dalam menjelaskan reaksimu terhadap tindakan anak tersebut.

5. Mereka berpikir bahwa berbohong itu sopan.
Terkadang anak-anak berpikir bahwa berbohong itu benar: mereka senang
memakai kaus kaki rajutan nenek, meski jauh di dalam hati mereka kecewa
dengan hadiah semacam itu.
Terserah kamu untuk memutuskan apakah ingin anakmu berperilaku dengan cara lain. Lagi pula, kita semua melakukan hal yang sama.

6. Kita berbohong pada diri kita sendiri.
Seorang anak mencontoh orangtuanya dalam segala hal. Tinggal di
sekitar kebohongan, dia juga akan berhenti mengatakan yang sebenarnya.
Solusinya sulit sekaligus mudah: kamu hanya perlu menjadi lebih jujur pada diri sendiri.

7. Anak-anak menganggap mereka terlalu konyol.
Jika kamu memperlakukan anak-anak sebagai makhluk yang tidak cerdas,
meneriaki mereka dan menyalahkan mereka atas berbagai hal, mereka tidak
akan mau belajar apa yang baik dan apa yang benar. Ini termasuk
mengatakan yang sebenarnya.
Cobalah untuk berkomunikasi dengan anak-anak seolah mereka seumuran
denganmu, jelaskan apa yang salah dan tidak membuat mereka merasa
bersalah atas segalanya. Dengan cara ini, anak-anak akan memiliki
keinginan untuk tumbuh dan akan lebih mungkin menyadari pentingnya
mengatakan yang sebenarnya.
Sumber: brightside