Tidak semua pasangan di dunia sadar bahwa pernikahan itu perlu dipertahankan dengan melibatkan kedua belah pihak. Data menunjukkan bahwa ada 950.000 pasangan di Eropa yang bercerai, sehingga sebuah firma hukum di Australia, Slater and Gordon, tertarik untuk meneliti tahun pernikahan mana yang paling manis dan tahun pernikahan mana yang paling sulit.
Tahun ke-3
Ada pepatah mengatakan bahwa "cinta dalam pernikahan hanya bertahan selama 3 tahun". Kebanyakan pasangan menduga ketika memasuki tahun ke 3 pernikahan, jika bukan bercerai, maka perasaan di antara mereka sudah tidak semanis dulu lagi. Padahal, seharusnya pada tahun ke 3, kita sudah bisa mengerti dan menerima kekurangan pasangan, sehingga akan semakin nyaman.

Pada kenyataannya, memasuki tahun ke 3 pernikahan, kebanyakan pasangan mulai ingin memiliki generasi penerus, sehingga hubungan akan semakin dekat satu sama lain dan menjadi masa paling membahagiakan.
Tahun ke-5
Masalah keluarga yang lebih serius akan terjadi pada tahun kelima setelah menikah. Umumnya di tahun ini usia anak masih kecil, sehingga membutuhkan perhatian besar dari orangtua. Ditambah lagi jika orang tua juga harus pergi bekerja dan ketika pulang ternyata masih ada pekerjaan rumah tangga yang menunggu. Dalam kondisi demikian, tidak dapat dihindari bisa juga ikut memberikan tekanan pada orang tua dari masing-masing pasangan.
Di periode ini, banyak pasangan yang mulai mempertimbangkan perceraian, sehingga firma hukum pun menerima banyak permintaan untuk kasus perceraian.
Tahun ke-7
Pasangan yang bisa bertahan pada tahun kelima akan menemui ujian lagi pada periode tahun ke 7 ini. Pada periode ini, kehidupan keluarga yang dulu manis bisa tiba-tiba terasa membosankan, kemudian disusul dengan berbagai masalah keluarga seperti masalah keuangan, pendidikan anak, dan masalah suami isteri.
Ini adalah periode yang rumit, namun jika berhasil melalui periode ini, maka pernikahan akan mengantarkan pada pernikahan yang lebih kuat dan bahagia.
Berikut ini ada beberapa fakta unik yang didapat dari penelitian mengenai perceraian:
1. Diskusi antarpasangan, bahkan untuk hal yang seremeh apapun ternyata bisa mengurangi resiko perceraian.
2. Mereka yang memiliki banyak saudara kandung ternyata memiliki resiko bercerai lebih rendah. Tinggal di sebuah keluarga besar membuat mereka sudah terbiasa berurusan dengan banyak masalah di dalam keluarga, sehingga ketika akhirnya menikah, pengalaman tersebut bisa membantu mengatasi masalah pernikahan mereka.
3. Kurang atau tidak mau mendengar pasangan bisa menjadi salah satu penyebab perceraian.
4. Semakin bergantung pada media sosial bisa mempengaruhi juga kehidupan rumah tangga.
5. Sering bertengkar tentang uang bisa menimbulkan perceraian, bahkan untung pasangan yang berpenghasilan tinggi sekalipun.
6. Mereka yang berpendidikan tinggi cenderung untuk tidak bercerai.
Dengan mengikuti poin-poin yang baik dan menghindari yang jelek dari fakta di atas, maka dijamin akan jauh dari yang namanya perceraian!

Sumber: Looker