Mengenakan seragam cokelat khas polisi, Bripka Wahyu Mulyawan (34)
berkali-kali mengangkat sayur mayur dari becak barang yang silih
berganti datang ke gudang sayur yang terletak di Kelurahan Paya Pasir,
Kecamatan Medan Marelan.
Sayur-sayur yang didrop ke gudang ini merupakan milik para petani
yang bermukim di sekitar gudang tersebut yang dibina oleh seorang
personil polisi yang bertugas di Bhabinkamtibmas Polsek Labuhan Deli dan
baru saja mendapat penghargaan dari Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko
Amelza Dahniel.

Gudang tempat mendrop sayur mayur tersebut juga merupakan buah karya
dari Bripka Wahyu untuk membantu para petani untuk menyalurkan hasil
pertaniannya dengan harga pasaran. Sayuran hasil pertanian para petani
ini disalurkan keberbagai penjuru pasar di Kota Medan.
Saat diajak berbincang, Wahyu dengan bangga memperkenalkan bahwa
dirinya adalah polisi sayur. Kebanggaanya ini dia sampaikan karena dia
merasa dirinya sangat berguna bagi masyarakat yang dia bantu dengan cara
menjadi pedagang sayur mayur.
"Perkenalkan saya polisi sayur," ujar Wahyu sambil tertawa
seraya menyalami wartawan yang berkunjung ke gudang sayur tersebut.
Sebelum memulai berbincang dengan tribun, Bripka Wahyu meminta izin
untuk menunaikan salat ashar di lokasi gudang sayurnya.
Ia bercerita bahwa setiap harinya dirinya memang selalu berkutat
dengan sayur mayur hasil dari petani yang ada disekitar lingkungan
tersebut, baik yang dia sudah bina dengan baik, maupun warga yang masih
bekerja sediri-sendiri.
"Hasil sayuran dari petani binaan kami. Ada juga memang dari
petani yang lain. Tapi kami lebih mengutamakan yang dari petani binaan.
Berapa banyak pun yang diantarnya. Tidak pernah kami tolak dan harganya
sesuai harga pasaran," bebernya.

Wahyu memaparkan bahwa mereka dari usahanya ini sudah membuat dunia
pertanian yang ada di daerah tersebut seakan bergairah lagi seperti
dahulu kala.
Bripka Wahyu bercerita inisiatifnya untuk menjalankan idenya ini
berawal dari kegelisahannya saat melihat sayur mayur milik petani
dipermainkan para pedagang yang jahat. Harga sayur mayur para petani
kerap kali tidak dihargai oleh para pedagang tersebut.
"Di depan sana kan ada pasar. Dulu disana aja dijual para warga
ini. Saya pun dulu jualan disana pertama kali. Kenapa saya terjun jualan
ini? Karena saya tidak tega dengan para petani ini. Bawa hasil panen
dari ladang, hingga malam gak ada yang beli. Kemudian malam, datanglah
toke-toke yang mau beli dengan harga yang sangat murah," ujarnya.

Ia menuturkan memulai bergelut dengan sayur mayur ini sejak 2014
lalu, dan saat memulaui usahanya dirinya mengatakan mereka sering kali
rugi setiap harinya.
Kemudian setelah dia menerapkan managemen yang bagus akhirnya dia
bisa mendapat untung yang lumayan. "Kami belajar terus, kemudian kami
perbaiki apa yang kurang. Kami tanya pembeli kami apa yang kurang? kami
perbaiki. Kemudian bisa untung. Petani kami pun kami minta panenya
sore," ujarnya.
Dari hasil berdagangnya ini, Wahyu memaparkan bahwa setiap bulannya
mereka sudah bisa rata-rata meraup untung hingga 28 juta dan sudah
mempekerjakan empat pegawai yang digaji Rp 700 ribu setiap minggunya.
"Penghasilan kami setiap bulan ini kami bagi dua. Setengah buat
saya dan setengah lagi dengan perkumpulan pedagang kamtibmas. Kemudian
bagian saya setengahnya saya sumbangkan ke Zakat. Nah ada juga
penghasilan kami pada hari Jumat itu kami sumbangkan ke masjid-masjid," ujarnya.

Sumardi salah seorang petani yang datang menjual hasil pertanianya
bercerita bahwa dirinya sangat nyaman sejak kehadiran dari Bripka Wahyu
yang mau masuk ke pasar dan membeli dagangan dari petani.
"Dulu susah jualan. Ini tinggal antar aja ke gudang. Kalau dulu
saya harus lama dipasar sana menjualnya. Kena panas. Sayuran saya pun
jadi ngak segar lagi. Harganya pun sudah turun. Udah begitu kami bawa
becak pun ke pasar, kami dimintai kutipan-kutipan. Sejak ada pak Wahyu
disini, ngak ada lagi yang mau ngutip-ngutip begitu," ujarnya.
Disetiap perkumpulan ini Bripka Wahyu memberikan bantuan dana dan bantuan pembinaan kepada masyarakat. "Demi
kebaikan warga tak apa membantu. Toh apa yang kita berikan akan dilihat
sama Allah. Dia maha tahu dan maha segalanya. Tuhan akan membalas apa
yang kita lakukan selama ini," ujarnya,

Tangis Haru dan Bangga Sang Istri Tercinta
Mira Rizky Istri Bripka Wahyu saat bercerita tentang perjalanan hidup
keluarganya selama delapan tahun pernikahan meneteskan air matanya.
Matanya berkaca-kaca, saat bercerita bangga memiliki suami seperti
Bripka Wahyu. Rizky berkali-kali menahan air matanya menetes dengan
memandang langit-langit rumahnya saat berbicang dengan tribun.
"Saya bisa dibilang lebai ini nanti kalau menangis. Saya sudah tahan- tahan ini dari tadi," ujarnya.
Namun buliran air matanya mulai tampak dan ada yang menetes ke
wajahnya. Ia pun berusaha menutupinya dengan mengendong anaknya yang
lalu lalang di ruang depan rumahnya tersebut.
Ia bercerita bahwa dirinya awalnya keberatan dengan apa yang
dilakukan oleh suaminya selama ini. Apalagi dengan kegiatan suaminya
tersebut, waktu Bripka Wahyu dengan keluarganya tersita banyak.
Rizky menuturkan bahwa dirinya pernah merajuk kepada suaminya karena,
suaminya menggadaikan rumah untuk membantu orang lain bahkan menyuruh
suaminya untuk tidur di luar rumah.
"Saya ngambek sekali pernah. Saya nggak setuju rumah ini
diagunkan untuk bantu orang. Saya bilang, kalau saya gak terima gaji
abang tidak apa-apa tapi jangan rumah juga ikut. Rumah ini untuk
anak-anak kita. Tapi tetap saja diagunkan. Kesal kali waktu itu," ujarnya.
"Tidur di garasi pernah. Saya tahu dia tidur setelah saya mau
sholat subuh. Saya heran siapalah yang tidur diluar. Ternyata suami
saya. Pernah saya tanya kenapa tidur diluar katanya lantaran tidak tega
membangunkan kami," ujarnya.

Karena hal yang dilakukan oleh Wahyu ini, sering kali kata Rizky
bertemu orang-orang yang tidak dikenalnya memberinya berbagai macam buah
tangan. "Ada-ada aja orang di pasar nyapa kita. Ada juga yang ngantar
buah-buahan tiba-tiba ke rumah. Rupanya orang-orang yang dibantu pak
Wahyu selama ini," bebernya.
Pak Wahyu Mengubah Kami
Saat tribun mengikuti keseharian dari Bripka Wahyu saat beraktivitas
mulai dari mengunjungi pasar, dan mengunjungi para petani, setiap warga
yang bertemu selalu mengajak Bripka wahyu bercengkrama.
Anak-anak yang di temuinya di sepanjang jalan pun selalu menyapanya.
Bahkan beberapa diantaranya meminta untuk digendong. Begitu juga saat
ketemu warga yang lebih tua darinya, ia selalu menyapanya dan
menyalaminya.

"Tiap hari begitu pak Wahyu nya. Keliling-keliling ketemu warga.
Kadang singgah dia di rumah. Kadang hanya menyapa. Cuma kami senang.
Kampung kami lebih aman. Anak-anak yang bandal pun dah berkurang sejak
ada pak Wahyu," ujar Wagimin salah seorang warga yang bertemu Bripka Wahyu.
Legiman salah seorang petani binaan dari Bripka Wahyu menceritakan
bahwa dirinya merasa terbantu dengan program dari Bripka Wahyu. "Saya
dibantu pupuk, dibantu bibit. Senang sama beliau. Saya terbantu sekali
yang bertani ini. Saya panen ngak susah jualnya. Udah begitu tinggal
antar, habis antar bisa kerja lagi. Harganya pun bagus sama pak Wahyu," bebernya.
Tetangga-tetangga Bripka Wahyu di Jalan Panah Hijau, Kelurahan
Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan saat bertemu tribun bercerita
bahwa Keluarga Bripka Wahyu adalah keluarga yang baik dan sering
bersosialisasi dengan warga. "Baik pak wahyu ini, sering ikut wirid. Dia memang sering kasih sayur, keladi sama tetangga-tetangga," beber Zainab
Sumber: TribunNews