Seorang wanita yang baru menapak ke jenjang pernikahan, masalah pelik
pertama yang ditemui adalah hubungan antara mertua dan menantu.
Mereka sendiri tidak percaya diri apakah bisa menjadi seorang menantu yang baik.
Selain itu juga karena seringnya mendengar tentang “mertua jahat,”
bahkan akan membuat si wanita mundur sebelum melangkah ke dalam rumah
tangga karena hubungan itu.
Tapi sebenarnya, kaum wanita selalu berusaha mengatasi hubungan tersebut.
Tidak ada menantu perempuan yang tak berbakti, yang ada hanya anak
laki-lakinya yang tidak dewasa, pria inilah yang mengaitkan kedua wanita
itu.
Seorang pria yang pintar, pasti akan selalu membuat ibu dan istrinya bahagia.
Dia tidak akan membuat dirinya nelangsa oleh karena hubungan antara ibu dan menantunya.
1. Anak laki-laki yang dewasa berperan sebagai kepala dalam bakti kepada bapak-ibu mertua.
Banyak pria yang berpikir seperti ini, “Orang tua saya membesarkan saya dengan susah payah, jadi kamu harus berbakti kepada orang tua saya.”
Sebenarnya kalimat ini tidaklah logis.
Seorang wanita yang menikah dengan anda, kemudian menjadi bagian
keluarga anda, padahal dia dan orang tua Anda tidak ada hubungan darah,
namun, karena Anda, dia baru “masuk menjadi anggota keluarga anda.”
Benar, orang tua Anda dengan susah payah membesarkan anda, tapi
mengapa harus isteri anda yang merawat orang tua anda, bukannya
seharusnya anda yang merawatnya?
Banyak kontradiksi antar ibu mertua dengan menantu, dan menuduh sang istri/menantu “tidak berbakti.”
Sebenarnya sikap Anda selaku suami itu yang menentukan sikap istri anda.
Ketika anda, selaku anak berbakti, maka dengan sendirinya istri juga akan mengikutinya.
Karena dia mencintai Anda, maka dia memanggil orang tua anda sebagai ayah-ibu.
Jika anda peduli dan perhatian untuk merawat ayah ibu, maka istri
anda juga sudah barang tentu tidak berani lalai, sehingga hubungan ibu
mertua – menantu pun akan menjadi harmonis seperti layaknya ibu dengan
putrinya.
2. Anak laki-laki yang dewasa akan membuat isterinya menjadi orang yang baik
Satu hal penting untuk menyelesaikan kontradiksi antara ibu dan
menantu adalah meningkatkan keakraban antara ibu dengan menantu, dan
suami yang cerdas akan memberi kesempatan menjadi orang baik itu pada
istrinya.
Saat hari raya, belilah sesuatu untuk menghormati atau sebagai bentuk bakti menantu pada orang tua.
Sering-sering membimbing isteri untuk memuji mertua di rumah, memuji
masakannya enak, memujinya pintar mengelola keluarga yang harmonis, atau
hal-hal yang menyenangkan orangtua, semua itu biarkan istri yang
melakukanya.
Meski anda yang melakukannya, tapi jangan lupa juga mengatakan bahwa itu maksud baik istri anda.
Yang namanya manusia itu punya perasaan, tidak ada orang yang akan acuh tak acuh terhadap niat baik seseorang.
Kalau isteri sudah banyak melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan
keluarga mertua, maka sebagai mertua ia akan merasa bahwa menantunya
orang yang bisa menyesuaikan diri, dan dengan sendirinya ia juga akan
senang.
Jadi tidak logis kalau hanya masalah sepele lalu tidak harmonis dengan sang menantu.
Selain itu, istri anda juga bisa merasakan dengan upaya yang Anda
lakukan untuknnya, dan ia akan semakin cinta juga sayang pada anda
karena perhatianmu itu.
3. Anak laki-laki yang dewasa tidak akan memperdebatkan siapa yang benar atau salah
Rumah adalah tempat mencurahkan cinta dan kasih sayang, bukan
memperebutkan siapa yang lebih berkuasa, atau memperdebatkan siapa yang
benar atau salah.
Sebenarnya, tidak ada masalah yang berarti antara ibu mertua dengan
menantu, timbulnya suatu masalah itu juga tidak lebih hanya karena
masalah sepele di rumah.
Misalnya berselisih soal memasak dengan air panas atau air dingin,
keadaan rumah yang tidak bersih, selalu mengajak anak-anak makan di luar
atau semacamnya.
Jadi dalam hal-hal seperti ini tidak bisa saling menyalahkan.
Satunya adalah isterti anda, satunya lagi adalah ibu anda, apa anda bisa/tega bilang siapa yang benar dan salah?
Jika terjadi gesekan kecil seperti ini, maka posisi sebagai anak laki-laki itu sangat penting.
Jika berdiri di posisi ibu, menyalahkan istri, maka si istri
dirugikan. Jika berdiri di posisi isteri, perasaan ibu tentu akan
terluka.
Jadi, bersikap netral, tapi berusaha saling menyenangkan kedua belah pihak.

4. Anak laki-laki yang dewasa tidak bertengkar dengan isteri di depan mertua.
Yang namanya rumah tangga, hidup dalam satu atap, pasti tak terhindarkan akan terjadi gesekan dan berselisih.
Namun, kalau pun bertengkar juga jangan di depan mertua.
Karena secara tidak langsung hal ini akan memberi isyarat (negatif) pada mertua.
Pertama, mertua akan menganggap menantunya yang salah, sehingga
menyebabkan pertengkaran dengan anda, dan tentu saja dalam hal ini ibu
anda akan berdiri di posisi anda.
Dan jika begitu terus, maka mertua juga tidak akan menghargai isteri
anda, sehingga memperdalam kontradiksi antar mertua -menantu.
Sementara itu, isteri anda hanya bisa secara diam-diam mengeluh dan merasa disalahkan. Tidak ada tempat curhat.
Dia akan merasa tidak mendapatkan perlindungan/pembelaan dari suami,
lalu merasa kecewa dengan pernikahan, atau bahkan ingin melarikan diri,
hingga akhirnya membuat Anda berdua yang terluka dan berdampak pada
pernikahan.
5. Anak laki-laki yang dewasa akan bersikap sama dalam memandang ayah-ibu mertuanya seperti orantua kandungnya sendiri
Mungkin ada yang ingin bertanya, apa hubungannya dengan mertua – menantu? Tentu saja ada hubungannya.
Ketika seorang pria menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri
untuk berbakti, peduli dan perhatian, maka wanita/isteri yang nikahi
itu dengan sendirinya juga akan mengingat sikap anda.
Wanita adalah makhluk yang emosional, jika Anda memperlakukan orang
tuanya dengan sikap yang baik, maka dia juga akan peduli dan menunjukkan
perhatian pada bapak-ibu mertuanya.
Saat hari raya anda membawakan hadiah/oleh-oleh untuk mertua anda, maka isteri anda juga akan menunjukkan perhatian yang sama.
Cintai dan sayangi orang yang disayangi isteri/suami anda.
Sebenarnya, kaum wanita menyadarinya, bahwa ia tidak akan pernah bisa
lepas dari keluarga dan orangtua dari suaminya ketika menikah dengan
seorang pria.
Bahkan meski hidup secara terpisah dan tidak membutuhkan mertua untuk
membantu menjaga anak, karena hubungan darah antara keduanya itu selalu
ada.
Jadi bagaimana wanita itu bersikap, semua itu tergantung dari sikap si pria.
6. Anak laki-laki yang dewasa akan mengelola dengan baik hubungan suami istri mereka sendiri.
Ada pepatah yang mengatakan, “Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara mertua-menantu, kuncinya terletak pada hubungan antara suami dan istri.”
Seorang wanita yang benar-benar mencintai suaminya, maka dia juga akan mencintai orangtua suaminya dengan tulus.
Bila Anda mengenal dengan baik wanita itu (isteri), bisa memahami
perasaannya, dan menyadari kesulitannya, maka sudah barang tentu anda
tidak akan tega melihat batinnya tersiksa, dan peduli padanya, sehingga
kalian akan saling mendukung, dan bisa mencapai kesepakatan dalam banyak
hal.
Meski ada kontradiksi antara mertua-menantu, namun, atas dasar
cintanya pada Anda, dia bersedia menunjukkan kelemahan untuk
mencairkannya, sekali pun harus mengorbankan perasaannya demi
keharmonisan itu.
Karena dia tidak ingin hubungan mertua-menantu itu menyebabkan
kesulitan pada anda, dan merusak suasana keharmonisan kalian, tapi juga
karena dia bersedia menghadapi masalah itu dengan Anda.
Jadi, kelolalah dengan baik hubungan antara suami dan istri itu,
karena dengan terjalinnya hubungan yang harmonis antar suami isteri,
maka sebesar apa pun kontradiksi antara mertua-menantu juga bukan
masalah yang berarti.
Sumber: inspirasidaily