Ini adalah kisah nyata seorang dokter yang telah memanggil anaknya "sayang" sejak 20 tahun yang lalu:
Sejak kecil, aku sangat sayang pada anakku. Setiap pagi, istriku tak
tega membangunkannya dan membiarkannya terlambat ke sekolah. Untungnya
jarak dari rumah ke sekolah sangat dekat sehingga ia bisa tidur lebih
siang dan saya antar dengan mobil. Kadang sampai sekolah sudah jam 8 jam
9.
Begitu naik sekolah dasar, ia masih sering terlambat. Kadang ia tidak
mengerjakan PR hingga dimarahi ibu guru. Tapi untungnya ia berhasil
lulus SD.
Begitu naik SMP, dalam sekejap beratnya sudah mencapai 90 kilo.
Tinggi badannya tak sampai 170 cm. Dia bisa begitu gemuk karena kuat
makan. Istriku selalu memasakkan makanan enak untuknya. Dia makan 5 kali
sehari, pagi, siang, sore, malam dan sebelum tidur. Istriku paling
takut dia tidur dengan perut lapar.
Tiba saatnya masuk SMA, aku mengirimnya ke Amerika. Aku ingin dia
belajar mandiri. Di sana, ia tidak bisa lagi bergantung pada ayah dan
ibunya. Dia harus bisa mandiri, apa-apa harus sendiri.
Tidak disangka anakku mulai berubah. Ia tak pernah terlambat lagi ke
sekolah, karena jika terlambat, dia harus berjalan kaki selama 20 menit
ke sekolah dan tidak ada mobil yang mengantarnya. Dia juga jadi rajin
mengerjakan tugasnya setelah pernah sekali nilainya anjlok parah
gara-gara tidak mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.
Tapi ada satu darinya yang tidak berubah. Ia tidak suka keluar rumah,
tidak suka berolahraga. Kerjaannya tiap hari hanya main game atau
internetan di kamar. Ia sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan
eskul (klub) di kampus atau bekerja part-time.
Ketika sampai di tahun ke-4, ia diharuskan untuk internship di
perusahaan baru bisa lulus. Ia baru panik. Ia sama sekali tak punya
pengalaman apa-apa, resume yang dikirim pun tidak ada balasan. Ia baru
sadar bahwa ia tidak bisa terus bersantai-santai lagi. Ia buru-buru
mencari kerja part-time dan akhirnya diterima di McDonald's. Ini adalah
pekerjaan pertamanya. Setelah punya pengalaman, ia baru keterima di
sebuah perusahaan produk makanan untuk internship, digaji pula. Akhirnya
dia bisa lulus dengan lancar.
Aku pun sudah menduga, anakku sebenarnya tidak bodoh. Ia hanya
terlalu dimanja. Sekarang ia sudah benar-benar tumbuh besar, tak lagi
hidup di dunianya sendiri. Aku pun tak perlu lagi khawatir dengan masa
depannya.
Dulu, aku dan istriku terlalu memanjakannya, tak tega membiarkan ia
mengerjakan sedikitpun pekerjaan rumah. Sekarang ia sudah bisa mengurus
dirinya sendiri, sudah bukan 'anak papi' atau 'anak mami' lagi.
Sebenarnya, banyak anak-anak zaman sekarang yang mengidap sindrom
"anak manja". Salah satu yang pernah saya lihat paling parah adalah
sudah kelas 3 SD masih disuapin! Ironisnya, banyak orang tua tidak sadar
apa yang mereka lakukan dan menganggap ini adalah suatu cara untuk
'menyayangi' mereka. Mereka terus memanggil anaknya 'sayang', 'sayang',
hingga suatu saat nanti terjun ke masyarakat, mereka tidak sanggup
menghadapi realita kehidupan. Jika sang anak tidak bisa beradaptasi,
maka ia akan hidup terus dalam dunia sendiri dan terus bergelut dengan
kesalahan dan kegagalan.

Pernah ada orang tua bilang sama saya, "Dok, gitu amat sih! Anak kan
memang disayang, buah hati! Kenapa gak boleh panggil sayang!?"
Di sini orang tua harus tahu, suatu hari anak akan tumbuh besar,
meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu, terjun ke masyarakat untuk
berkarir, siapa yang akan memanggil dia sayang? Tidak ada. Lantas,
bagaimana jika ia tidak bisa beradaptasi?

Yang paling parah adalah ketika sang anak berubah menjadi pecandu,
terjun ke jalan yang tidak benar, orang tua masih tetap membela, "Anak
kami anak baik-baik, pasti gara-gara temannya tuh, kalau gak anak kita
gak bakal berbuat seperti itu!"
Jika anak berbuat salah, maka anak harus diajarkan untuk mengakui
kesalahan, memperbaiki, dan siap menanggung konsekuensi dari
perbuatannya. Tetapi jika terus menerus dibela, dimanja, maka anak akan
membentuk karakter "narsistik" dalam dirinya.
Berikut ini ciri-ciri karakter narsistik:
1. Merasa diri sendiri lebih hebat daripada orang lain, butuh pengakuan dari orang lain
2. Menganggap dirinya spesial, orang lain biasa-biasa saja
3. Suka dipuji
4. Merasa dirinya pantas untuk perlakuan yang lebih spesial, orang lain harus menuruti keinginannya
5. Tidak memiliki empati terhadap orang lain
6. Sering merasa iri pada orang lain, atau merasa orang lain iri terhadapnya
7. Merasa yang paling benar, sok atau sombong

Selain itu, orang tua yang memanjakan anaknya memiliki ciri-ciri di bawah ini:
1. Selalu percaya bahwa anaknya spesial
2. Berharap anaknya mendapat perlakuan spesial, walaupun tidak ada juga rela turun tangan sendiri
3. Terlalu menilai tinggi kemampuan atau penampilan sang anak, memberi pujian yang berlebihan

Berikut ini 5 hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah anaknya menjadi manja:
1. Berhenti memanggilnya dengan nama panggilan sayang
2. Biarkan ia membantu pekerjaan rumah mulai dari yang ringan-ringan,
seiring umur bertambah, biarkan ia belajar untuk mengurus dirinya
sendiri, makan sendiri, mandi sendiri
3. Biarkan ia belajar untuk membantu orang lain, kembangkan empati
4. Biarkan ia mengerti kemampuannya yang sebenarnya, jangan hidup dikelilingi kekayaan dan cinta orang tua
Kalau orang tua kaya, masih mending anaknya gak usah hidup susah.
Tapi bagaimana jika orang tua hanya pas-pasan? Mau tak mau anak harus
menggapai semuanya dengan tangan dan usaha sendiri, tidak ada orang yang
bisa menjadi tameng pelindungnya. Anak itu harus bisa mandiri dan bisa
menghadapi realita hidup.
Jadi, simpanlah cinta Anda yang tanpa syarat itu dalam hati. Kita mau
anak kita tumbuh jadi orang yang sukses, hebat, mandiri, bukan jadi
orang malas yang hanya bisa bergantung pada orang tua.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi para orang tua! Yuk Di-SHARE!
Sumber: epoch