Siti adalah seorang ibu paruh baya usia 47 tahun. Anaknya sudah
kuliah. Suaminya tukang bangunan. Demi mencari tambahan, ia pun datang
dari kampung ke kota untuk mencari kerja. Tapi ternyata mencari kerja di
kota tidak segampang yang ia kira. Akhirnya ia pun cuma keterima jadi
tukang sapu jalanan. Gajinya sebulan tidak seberapa, tapi Siti tidak
pernah mengeluh. Ia merasa begini sudah cukup baik daripada tidak ada
pekerjaan sama sekali.
Setiap harinya ia memasak bekal untuk suaminya untuk dibawa ke tempat
kerja, setelah itu ia berangkat kerja dan mengendarai mobil buggy-nya
berkeliaran di jalan untuk menyapu sampah-sampah dan daun-daun yang
berserakan.
Biasanya, suaminya berpesan pada Siti untuk selalu berhati-hati saat
bekerja. Jalanan di kota sangat padat, dimana-mana mobil. Waktu kerja
harus hati-hati jangan sampai kebaret mobil orang, sekali kena, gaji
berdua pun belum tentu cukup untuk ganti rugi, apalagi kalau yang kena
baret mobil mewah.

Suatu hari, Siti mengendarai mobil buggy-nya dan berhenti di depan
sebuah hotel mewah. Tiba-tiba, 2 orang anak kecil berlari keluar. Siti
terkejut dan rem mendadak. Karena tidak bisa mengendalikan setirnya,
mobil buggy-nya pun tumbang ke sebelah. Ia pun hampir jatuh ke lantai.
Untungnya, kedua anak tersebut tidak apa-apa.
Siti: "Kalian tidak apa-apa kan, nak? Ada terluka tidak?"
Saat ini, ibu kedua anak itu keluar dari lobi hotel. Ibu itu langsung
mendorong Siti hingga hampir mau jatuh, "Kamu ini jalan gak pake mata
ya!? Nabrak-nabrak anak saya! Kalau anak saya kenapa-kenapa gimana!?"
Suara ibu itu keras sekali sampai satpam dan orang-orang lain yang
ada di dalam hotel itu berhamburan keluar. Pengendara mobil dan motor
yang lewat pun memperlambat lajunya untuk melihat ada kejadian apa.
Ibu itu terus memakinya, "Udah nabrak anak saya, bikin baret mobil orang lagi!"
Siti pun baru sadar dan melihat ke mobil yang diparkir di sampingnya.
Benar ada bekas goresan pada mobil itu. Siti langsung keringat dingin.
Jangan-jangan tadi pas mobil buggy-nya tumbang, mobilnya gak sengaja
kegores?
Sekali lihat, orang-orang langsung tahu kalau mobil itu bukan mobil murah. Ada kali diatas 1M.

Peringatan suaminya kepadanya untuk selalu berhati-hati jangan sampai kegores mobil orang terus berulang-ulang di benaknya.
Orang-orang di sekitar pun mulai berbisik-bisik,
"Ini bisa jutaan ini gantinya…"
"Mana orangnya? Panggil orang yang punya mobil datang!"
"Mana sanggup dia tukang sapu ganti?"
Mendengar bisikan orang-orang, Siti semakin cemas. Ia sangat takut sampai bibirnya pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
Tak lama kemudian, orang yang punya mobil keluar. Bapak-bapak yang
usianya sudah 50-60 tahun itu melihat-lihat goresan di mobilnya itu. Ibu
yang tadi marah-marah itu juga masih di sana. Setelah mengecek kondisi
mobilnya, ia pun melihat ke arah Siti.
"Kamu ini! Udah baret mobil orang masih di sini saja bukannya kabur!?"
Bapak itu melontarkan kalimat tak terduga yang membuat Siti dan semua orang yang ada di sana kaget.
"Bapak gak suruh dia ganti?", tanya salah seorang yang berdiri di sana.
Bapak itu menghela nafas dan melambaikan tangannya kemudian naik ke
dalam mobil. Bapak itu pergi begitu saja tanpa meminta ganti rugi
apa-apa dan meninggalkan semua orang yang ada di sana termasuk Siti
bertanya-tanya. Tapi Siti merasa sangat lega. Untung bapak itu baik
tidak minta ia ganti rugi.
Saat semua orang mau bubar, tiba-tiba 2 orang satpam hotel manggil, "Tunggu dulu!"
Siti kaget! Ia kira dirinya yang dipanggil. Tapi ternyata kedua
satpam itu mencari ibu dari kedua anak tadi. Rupanya, ada tamu hotel
yang komplain bahwa mobil mereka dibaret dengan sengaja. Setelah
manajemen hotel mengecek melalui CCTV hotel, baru tahu ternyata
pelakunya adalah kedua anak badung itu. Mobil yang baret tak cuma satu.
Beberapa pemilik mobil sudah berkumpul di lobi hotel untuk mengusut
masalah ini.
Mendengar keterangan satpam, ibu yang tadinya sangar dan asal nuduh
itu pun hanya bisa diam dan malu. Ia menatap kedua anaknya. Anaknya
hanya diam menundukkan kepala.
Siti pun tak tinggal lama. Ia bergegas pergi menyelesaikan tugasnya
dan pulang ke rumah. Ia kemudian menceritakan kejadian hari ini kepada
suaminya. Suaminya bilang untung kali ini Siti mujur ketemu orang baik,
kalau enggak gaji bulan ini udah melayang.

Beberapa bulan kemudian, Siti dan anaknya berjalan-jalan di plaza
membeli baju baru untuk lebaran. Mumpung juga ia baru gajian. Waktu
pulang, mereka berjalan melewati sebuah gang kecil. Anak Siti tiba-tiba
pengen ke toilet. Siti pun menunggu anaknya di depan sebuah toilet umum
memegang barang belanjaan mereka.
Tiba-tiba, seorang wanita berteriak, "Culik anak! Culik anak!"
Gang itu lumayan sepi. Siti melihat ada 2 orang, yang satu pria yang
satu wanita, sedang merebut seorang balita dari pelukan ibunya. Yang
wanita berusaha menangkap ibunya, yang pria berusaha mengambil anaknya.
Ibu itu teriak-teriak, anaknya juga nangis.
Siti langsung meletakkan kantong belanjaannya. Ia berlari ke sana
menendang dan mendorong kawanan penculik itu. Ibu muda itu pun memeluk
anaknya erat-erat dan berlindung di belakang Siti. Tiba-tiba, penculik
itu mengeluarkan sebilah pisau dan menusuk Siti di bagian perut.
Untungnya, Siti mengelak dan hanya mengenai tangannya. Selanjutnya,
mereka memukuk dan menendang Siti hingga jatuh ke lantai.
Saat ini, anaknya dan seorang pria muda keluar dari toilet. Melihat ada orang datang, kedua pelaku langsung melarikan diri.
Siti yang terbaring di lantai kemudian tak sadarkan diri.

"Apa yang terjadi?", tanya pria muda itu yang ternyata merupakan suami dari ibu muda yang menjadi korban itu.
"Tadi ada orang mau culik anak, untung ada ibu ini, tapi dia terluka…", kata ibu itu sambil ketakutan.
"Ibu! Ibu!", teriak anak Siti.
Selanjutnya, pria muda itu pun mengantar Siti ke rumah sakit.
Ketika terbangun, Siti melihat suami dan anaknya di samping ranjang,
beserta pasangan muda yang tadi ia selamatkan, juga seorang bapak yang
wajahnya sedikit familiar.
"Akhirnya ibu bangun juga!", kata bapak itu.
"Ibu, ibu tidak apa-apa?", tanya anaknya.
"...Tidak apa-apa…", sahut Siti lemah.
Bapak yang wajahnya familiar itu berkata, "Saya kira siapa yang selamatin cucu saya, rupanya ibu! Kita memang berjodoh!"
Samar-sama, Siti mengenali bapak itu. Ia adalah pemilik mobil baret
yang waktu itu tidak minta ganti rugi. Ia ingat dengan jelas. Ternyata
ia adalah kakek dari balita yang ia selamatkan hari ini. Sungguh
kebetulan!
"Bu, kali ini ibu selamatin cucu saya, saya harus berterima kasih
baik-baik sama ibu. Ini kartu nama saya. Nanti tunggu ibu keluar dari
rumah sakit, main ke rumah saya, bawa suami dan anak. Biaya rumah sakit
sudah beres. Ibu tinggal istirahat saja, yah!", kata bapak itu.
Rupanya bapak itu adalah seorang direktur perusahaan besar. Setelah
keluar dari rumah sakit, bapak itu datang ke kediaman Siti dan membawa
sekoper uang sebagai imbalan. Siti memang butuh uang, tapi ia menolak
pemberian bapak itu karena ia menolong cucunya bukan demi uang. Waktu
itu dikira Siti yang baret mobilnya, itu pun bapak itu tidak memintanya
ganti rugi. Siti sudah sangat berterima kasih.
Bapak itu pun tertawa dan menawarkan Siti untuk bekerja di
perusahaannya sebagai gantinya. Gajinya 3 kali lipat. Gak usah
panas-panasan di jalan, banyak mobil. Suami dan anaknya juga lebih
tenang. Siti senangnya bukan main.
Berbuat baik pasti ada pahalanya! Ayo SEBARKAN kisah ini!
Sumber: beauty