Akhir-akhir ini, hubunganku dengan anakku terasa merenggang. Mungkin
penyebabnya karena aku sibuk bekerja dan ditambah lagi keadaan
mengharuskanku bekerja lembur. Selain itu, suamiku pun jarang
berinteraksi dengan anak kami. Biasanya sepulang kerja, dia mampir
dahulu ke gym. Saat akhirnya tiba di rumah, biasanya anak kami sudah
tertidur.

Setiap pagi pada hari kerja pun sama. Biasanya pagi-pagi kami semua
sibuk dengan persiapan masing-masing. Aku sendiri harus membersihkan
rumah, menyiapkan sarapan, membantu anakku bersiap ke sekolah, dan
kemudian siap-siap pergi ke kantor, begitupun dengan suamiku. Sehingga
dapat dikatakan, interaksi kami sebagai orang tua dengan anak kami
sangatlah sedikit. Bahkan, untuk bisa makan bersama pun sulit.
Satu-satunya kesempatan kami berinteraksi adalah saat akhir pekan.

Karena merasa bersalah, kemarin aku pun berusaha pulang lebih awal
untuk menemani anakku mengerjakan pekerjaan rumah dan juga bermain.
Melihat wajahnya yang lucu, aku pun teringat sebuah artikel tentang
mendidik anak.
1. Anak-anak membutuhkan interaksi dan komunikasi dalam intensitas tinggi dengan orang tuanya

Orang tua karena sibuk bekerja sehingga menyebabkan sangat sulit
bertemu, apalagi berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Banyak dari mereka yang berpikir bahwa bekerja keras merupakan salah
satu bentuk rasa cinta mereka kepada anak-anak agar anak-anak mereka
nanti bisa menjalani kehidupan yang lebih sejahtera.
Saat akhir pekan, karena terlalu lelah bekerja setiap hari,
menyebabkan saat-saat bersama anak menjadi sebuah keterpaksaan. Selain
itu, banyak orang tua yang karena tidak mengenal anak-anaknya malah
membawa mereka ke tempat atau kegiatan yang tidak mereka sukai. Hal ini
tentu akan melukai hati anak karena membuat mereka merasa orang tuanya
tidak mengenal mereka dan memaksa mereka melakukan hal yang tidak mereka
sukai. Bagi seorang anak, uang dan hadiah mahal sekalipun tidak lebih
berharga dari cinta orang tuanya.
2. Bagaimana menciptakan quality time bersama anak-anak?

Melakukan banyak hal bersama-sama, terutama hal-hal yang disukainya
akan membuat anak-anak bahagia. Selain, itu, saling bertukar pikiran dan
isi hati pun adalah sesuatu yang sangat penting bagi hubungan orang tua
dan anak.
Menemani tidak sama dengan mendampingi. Menemani hanya sebatas berada
di sisinya tanpa adanya interaksi dan komunikasi secara emosional.
Sedangkan mendampingi dengan sepenuh hati akan menciptakan quality time
bersama anak-anak.
3. Bagaimana meningkatkan kualitas hubungan dengan anak-anak?

a. Berkomunikasi dengan anak-anak dan menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak:
Orang tua adalah orang terdekat dan juga merupakan guru pertama bagi
anak-anak. Walaupun mereka kemudian sudah bersekolah dan berinteraksi
dengan banyak orang, namun tetap saja mereka akan mencurahkan isi
hatinya pada orang tua. Jadi, betapapun sibuknya, tetaplah luangkan
waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak dan jangan ciptakan jarak
dengan mereka. Dengan begitu, anak-anak akan merasa aman dan nyaman.

b. Beri anak hak untuk melakukan hal-hal yang disukainya:
Anak-anak adalah individu yang independen dan memiliki pilihan serta
kebebasan sendiri. Orang tua tentu saja punya hak untuk memilih, namun
tidak baik jika terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Saat
anak merasa dihormati, ia juga akan menghargai dan menghormati orang
tuanya.

c. Orang tua yang baik harus tumbuh bersama dengan anak-anak:
Orang tua adalah teladan anak-anak. Jika orang tua melakukan
kebiasaan yang tidak baik, maka anak-anak pun akan mengikuti. Sebagai
contoh, jika orang tua terus main gadget, maka anak pun akan mengikuti.
Namun, jika orang tua rajin membaca buku, maka kebiasaan itu pun akan
menular pada anak-anak.

Tak peduli seberapa sibuknya kalian sebagai orang tua, jangan gunakan
itu sebagai alasan untuk tidak mendampingi pertumbuhan dan perkembangan
anak. Gunakan hatimu untuk mendampingi anak-anak, karena pertumbuhan
dan perkembangan anak tidak dapat diulang lagi. Kesuksesan anak tidak
lepas dari peran orang tua!
Sumber: womenclub