Sebelum Didi, anakku lahir, aku dan suamiku hanya seperti mahasiswa pascasarjana yang membosankan. Di rumah, aku hanya menonton televisi dan acara yang aku tonton paling-paling hanya reality show, pertandingan, dan kadang-kadang film. Beberapa bulan pertama setelah dia lahir, sama seperti bayi-bayi lain, Didi hanya makan, tidur, meludahi pakaiannya, dan menangis. Karena sibuk mengurusnya, akupun tidak ada kesempatan untuk menonton TV.
Setelah berkonsultasi dengan ahli pendidikan anak, aku pun sadar bahwa sangat penting untuk mengajarkan bahasa kepadanya sejak dini. Namun, aku tidak mau membiasakan Didi untuk banyak belajar dari TV. Aku lebih memilih untuk mengajarkannya langsung atau dengan menggunakan buku. Bahkan kami juga sepakat untuk membuang TV yang ada di rumah kami serta mengosongkan benda-benda yang ada di sana, karena seiring pertumbuhannya, Didi akan mebutuhkan tempat yang lebih luas untuk beraktivitas.
Kami baru membeli TV baru dan mengenalkan TV kepada Didi ketika dia berusia empat tahun. Salah satu perubahan terbesar dalam keluarga kami sejak kelahiran Didi adalah tidak menonton TV dan tidak memiliki TV. Ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kami buat demi perkembangan Didi.
Karena tidak dibiasakan, maka hingga Didi sudah bersekolah pun, dia sangat jarang meminta untuk menonton TV. Selain itu, dibandingkan dengan menonton pertandingan di TV, kami lebih memilih untuk mengajaknya menonton secara langsung. Begitupun dengan film, kami lebih memilih untuk mengajaknya menonton ke bioskop. Karena itu, jika ditotalkan, paling-paling Didi hanya menonton TV selama 50 jam setiap tahunnya.
Keuntungan terbesar dari tidak memiliki TV adalah memiliki lebih banyak waktu untuk membaca buku, bermain bersama, dan juga mengobrol. Di rumah, biasanya hanya terdengar suara obrolan kami dan kadang-kadang ada lagu-lagu populer yang dinyanyikan oleh anak-anak.
Tanpa televisi, sebagian besar waktu Didi dihabiskan untuk membaca dan bermain, sehingga dia memiliki keterampilan yang baik dan juga aktif. Dia bisa melukis, bercerita dengan lancar, bermain lempung, bernyanyi, memainkan alat musik, menari, bermain catur, dan bermain bola.
Tanpa TV, tentu saja tidak ada yang bisa menghibur Didi ketika bosan, sehingga saat dia masih kecil, kami yang akan menghiburnya dengan bermain bersamanya, membacakannya buku, dan juga mengajaknya mengobrol. Namun, setelah bisa membaca dan menulis, dia pun bisa menghibur dirinya sendiri. Sejak kecil, Didi tidak bergantung pada televisi atau produk elektronik lain untuk mengisi waktu, sehingga dia memiliki banyak waktu untuk belajar, bermain, dan mengeksplorasi semua hal yang disukainya.
Saat kami pergi liburan sekeluarga, aku sedikit kaget saat melihat Didi benar-benar mengabaikan kehadiran TV di kamar hotel dan lebih memilih untuk menjelajahi lingkungan baru, menemukan hal-hal menyenangkan untuk dimainkan, berinteraksi dengan kami, dan bermain kartu.
Penggunaan alat elektronik di kehidupan Didi juga hanya sebatas pada perangkat lunak yang berkaitan dengan pendidikan sekolah, mengetik, dan juga membuat laporan laporan. Bahkan di antara kami, hanya suamiku saja yang memiliki telepon pintar untuk bekerja, sedangkan aku hanya memiliki telepon seluler yang hanya bisa menelepon dan SMS saja. Karena itu, ketika anak kami bosan, tidak ada produk elektronik yang tersedia di mobil untuk menghiburnya. Ponsel ibunya sama sekali tidak menyenangkan, sedangkan ponsel ayah pun dikunci, tidak ada pilihan.
Jadi, ketika kami sesekali pergi ke restoran dan menunggu pesanan datang, kami mencoba mengisi waktu dengan mengobrol bersama mereka. Sedangkan ketika aku memperhatikan sekeliling, anak-anak lain semua sibuk dengan ponsel dan tabletnya. Ketika berada di rumah, karena kami tidak menggunakan TV dan perangkat elektronik, kami mencoba untuk mengobrol dengan Didi atau membaca buku bersama. Ketika dia terjaga, kami menghindari untuk tidak menggunakan komputer atau tablet di hadapannya, karena kami tidak mau dia merasa keberadaannya diabaikan. Aturan di rumah kami, orang dewasa harus terlebih dahulu mematuhi dan menjadi teladan bagi anak-anak. Ini mungkin hal yang paling sulit untuk dilakukan, tetapi itu juga yang paling penting. Apa yang telah kami berikan kepada anak-anak kami adalah banyak "waktu bermain" dan "memori berharga dari anggota keluarga."
Sekarang Didi berusia 11 tahun dan sudah tahu bahwa perbedaan terbesar antara rumahnya dengan kebanyakan orang adalah bahwa mereka tidak memiliki televisi atau produk elektronik. Saat Didi bertemu anak-anak lain yang tidak terpisahkan dari TV dan perangkat elektronik, dia akan bertanya apa itu semua. Anak-anak lain mungkin berpikir bahwa bagaimana mungkin Didi tidak tahu itu semua. Didi pun akan mengambil inisiatif untuk mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada TV dan juga peralatan elektronik lain. Dia tahu bahwa anak-anak sangat terkejut, tetapi Didi tetap percaya diri dan merasa bangga.
Didi sangat menyukai baseball dan membaca banyak buku tentang sejarah baseball. Didi berkata kepadaku, "Semua orang akan terkejut setiap kali tahu bahwa aku tahu banyak hal. Sebenarnya, apa yang begitu menakjubkan? Itu karena kita tidak memiliki TV dan tidak ada peralatan elektronik, jadi aku punya banyak waktu untuk membaca buku dan tentu saja dengan begitu aku tahu lebih banyak! "
Meskipun aku tidak tahu berapa lama hal ini akan bertahan, tapi kami telah berhasil melakukannya selama 11 tahun!

Sumber: Bestparenting