Umumnya bayi yang umurnya masih hitungan hari sangat membutuhkan
tempat layak untuk tinggal. Tapi nyatanya tak berlaku untuk bayi satu
ini.

Kisah Khaidar Ali sempat viral di media sosial. Berita mengenai bayi
yang lahir dan hidup di kolong jembatan dan kesusahan mendapatkan asupan
gizi ini jadi buah bibir di mana-mana. Ayahnya bekerja sebagai pemulung
sampah sungai dan ibunya bekerja serabutan.


Mungkin kamu kira tidur di kolong jembatan terdengar biasa toh banyak
juga yang mengalami hal serupa. Tapi apa jadinya jika tempatnya yang
tak ada pintu untuk melindungi dari dinginnya angin malam serta atapnya
yang hanya berupa rangka jembatan, juga kasur lapuk yang menjadi tempat
tidur bayi tersebut. Sangat miris…

Khaidar merupakan anak pasangan Mahmud dan Nurjana. Sehari-hari,
Mahmud bekerja sebagai pemulung. Ia mengumpulkan barang bekas untuk
kemudian di jual. Pendapatannya dalam sehari hanya sebesar puluhan ribu
rupiah.

Lagi-lagi karena himpitan ekonomi yang membuat mereka terpaksa hidup
di tempat tak layak tersebut. Rupanya, awal keluarga tersebut ditemukan
yaitu oleh Hendra Lamia, sekretaris dari Yayasan Humanitas Insani (HATI)
Indonesia yang kebetulan sedang mengkoordinir kegiatan bakti sosial
"berbagi kasih", di daerah dekat kolong jembatan tempat mereka tinggal.
Yayasan ini memang memiliki aktivitas membantu warga-warga miskin yang
tinggal di perkotaan. Seperti memberi makanan, perlengkapan sehari-hari,
termasuk kebutuhan untuk para bayi yang lahir di keluarga miskin.
Yayasan Hati juga membuka donasi untuk membantu bayi Khaidar. Saat
kondisi kehidupan keluarga Mahmud dan Nurjana yang serba kekurangan,
banyak pihak yang ingin membantu.
Semoga Khaidar dan keluarga bisa mendapat kehidupan yang lebih layak, Amin.
Sumber: Dream