Jika rumah dianggap sebuah bangunan tempat kita untuk berteduh, maka
untuk menjadi keluarga yang harmonis juga harus berdasarkan pada sikap
berbakti, pekerja keras, dan juga toleransi. Jika anak tidak berbakti,
maka keluarga tidak akan nyaman, tanpa saling mengasihi, hubungan antar
keluarga akan menurun, tanpa toleransi, maka lama kelamaan keluarga akan
hancur.
Keharmonisan keluarga dapat dicapai dengan adanya 3 hal ini sebagai
landasan. Memiliki anak berbakti, sikap rajin, pekerja keras dan
toleransi antar anggota keluarga sangat diperlukan.
1. Berbakti
Berbakti adalah tugas pertama dari setiap anak. Jika seseorang tidak
bisa berterima kasih, berbakti, bersikap saleh terhadap orang tuanya,
apakah orang tersebut adalah orang yang memiliki karakter baik? Berbakti
adalah kunci dari setiap kesuksesan. Perlu pula diingat bahwa doa orang
tua adalah doa yang paling ampuh dan bisa membantu setiap anak untuk
menjalani hidup ini.
Perlu juga diketahui kalau berbakti ibarat angka 1. Jika angka 1 ini
hilang, tidak peduli berapa banyak angka 0 yang mengikuti di
belakangnya, tetap saja tidak memiliki nilai apa-apa, tidak ada artinya.
Diceritakan dulu ada seorang pejabat, yang walau sibuk bekerja di ibu
kota, tapi ia tidak pernah lupa untuk menulis surat pada kedua orang
tuanya di desa dan mengabarkan tentang situasi dirinya.
Ia menuliskan dengan sangat rinci, hingga menyebutkan nama
teman-teman yang ia miliki dan juga segala hal yang mereka bicarakan.
Hal ini jelas membuat orang tua merasa lega, selain bisa membuat mereka
tenang karena mengetahui anaknya baik-baik saja di ibu kota, mereka juga
bisa merasakan kalau anaknya tidak pernah melupakan mereka.

Dalam proses berbakti kepada orang tua, setiap anak harus bisa
bersyukur terlebih dahulu. Bersyukur atas orang tua yang dimiliki,
apapun kondisi yang mereka miliki. Orang tua adalah bagian utama dari
keluarga. Merekalah yang membina generasi-generasi berikutnya dengan
penuh cinta kasih dan tanpa pamrih. Mereka juga yang menanggung segala
beban untuk membangun keluarga yang harmonis dan utuh.
Selama ini kita sudah menerima terlalu banyak dari orang tua kita
masing-masing, tapi pernahkah kamu berpikir untuk memberikan lebih
kepada mereka sebagai bentuk balas budi? Perlu diingat bahwa, yang
mereka inginkan bukanlah materi berlimpah, yang mereka inginkan hanyalah
agar setiap anaknya bisa hidup dengan baik sesuai moral yang berlaku,
berguna bagi masyarakat luas, dan juga bisa mencintai orang tua sama
seperti mereka mencintai anak-anaknya.
Berbakti harus dengan tindakan nyata. Jangan pula menganggap berbakti
sebagai beban, tapi jadikan itu sebagai tanggung jawab yang bebas.
Setiap harinya, cukup luangkan waktu 5 menit saja untuk menelepon dan
menanyakan kabar orang tua, hal sederhana seperti ini saja sudah cukup
membuat orang tua senang.
2. Rajin, tekun, pekerja keras
Tidak hanya kesuksesan pribadi, membangun keluarga harmonis juga
semuanya diciptakan oleh orang yang pekerja keras. Mana ada di dunia ini
hal yang bisa didapatkan dengan mudah begitu saja? Semua hal indah dan
berarti harus dicapai dengan melalui proses yang panjang dan juga usaha
yang tidak sedikit.
Orang tua harus menanamkan sikap pekerja keras, pantang menyerah, dan
rajin kepada setiap anak-anaknya. Jangan terlalu memanjakan anak. Hal
ini hanya membuat mereka malas dan pada akhirnya tidak memiliki daya
juang. Setiap anggota keluarga juga harus rajin melakukan tanggung jawab
dan kewajiban masing-masing.
Keluarga juga merupakan hubungan dan interaksi antar satu sama lain.
Setiap anggota keluarga harus bekerja keras, rajin, dan mau saling
memberi untuk menjadi pilar kokoh yang menjaga keutuhan rumah tangga.
Jika salah satu anggota keluarga malas atau mudah menyerah, akan
mengakibatkan salah satu pilar roboh dan akhirnya menimbulkan masalah.
Ketekunan, adalah salah satu prioritas utama dalam hidup. Jika kamu
ingin hidup damai, stabil, dan bahagia, maka kamu harus rajin. Keluarga
yang malas hanya akan hidup dalam berbagai masalah yang tidak kunjung
selesai, mengingat semua anggota malas untuk menyelesaikan masalah, atau
merasa itu bukanlah tanggung jawabnya.
Banyak orang sering mengeluh dan merasa tidak adil. Mereka membenci
kondisi keluarga yang dirasa tidak sebanding dengan keluarga lainnya.
Mereka selalu merasa kalau mereka tidak memiliki cukup waktu dan sumber
daya untuk mencapai hidup yang diinginkan. Yang bisa mereka lakukan
hanya mengeluh dan mencari alasan atas kegagalan. Hal ini pada akhirnya
hanya akan membuat mereka hidup sengsara dan tidak dapat mencapai
apa-apa.

Memang, tidak semua orang lahir sebagai orang kaya. Namun, kita juga
harus percaya bahwa dengan ketekunan dan bekerja keras dapat mengubah
nasib diri sendiri dan juga keluarga. Banyak juga anak orang kaya yang
pada akhirnya jatuh miskin, karena hanya tahu berfoya-foya dan
bermalas-malasan.
Setiap anggota keluarga harus bersedia merelakan kedua tangannya
untuk melakukan sesuatu. Harus rajin dan tekun untuk bisa mendapatkan
hidup yang diinginkan. Hanya dengan tindakan nyatalah keluarga kita bisa
hidup dengan bahagia dan harmonis.
3. Toleransi
Kita harus memperlakukan semua orang dengan lemah lembut, murah hati,
dan membuat diri sendiri juga orang lain merasa bahagia. Inilah yang
baru dinamakan hidup! Anak, pasangan hidup, orang tua, rumah, harta, dan
status sosial, semua ini hanyalah titipan sementara dari Yang Maha
Kuasa. Sampai pada saatnya kita dipanggil untuk menghadap Yang Maha
Kuasa, kita tidak akan membawa semua hal ini bersama-sama.
Maka dari itu, dalam menjalani hari, kita harus bersikap baik
terhadap sesama. Jangan egois dan mementingkan diri sendiri. Jangan
hanya ingin sukses sendiri. Setelah diri sendiri mencapai kesuksesan,
hendaknya membantu orang-orang di sekitar juga untuk melangkah maju
bersama.
Memang tidak dapat dipungkiri, kalau setiap orang memiliki sifat dan
karakter masing-masing yang berbeda. Namun, saat sedang berinteraksi,
bergaul, dan bersosialisasi dengan orang lain, kita harus memiliki sikap
toleransi yang tinggi, harus saling memahami, dan jangan hanya
mencari-cari kesalahan atau sisi buruk dari orang lain.

Untuk membangun keluarga yang harmonis, sangat dibutuhkan sikap
toleransi. Dalam hidup, terkadang kita selalu mengingatkan orang-orang
untuk bersikap baik dan toleransi, tapi tanpa sadar kita juga lah yang
selalu mengucapkan kata-kata yang bisa melukai hati orang-orang terdekat
kita.
Jangan selalu menyalahkan keluarga atas segala kesalahan atau
kekurangan yang mereka miliki. Kita harusnya menjernihkan hati dan
pikiran, serta gunakan hati yang toleran untuk mengayomi orang-orang
yang dicintai. Bimbing mereka untuk memperbaiki atau menutup kekurangan
itu. Keluarga bukanlah tempat untuk saling beradu siapa yang benar dan
salah. Yang dibutuhkan dalam keluarga adalah rasa saling menghormati dan
mengerti satu sama lain.
Mungkin saja, terkadang sebagai anak kita tidak paham atau tidak
setuju atas ide, pendapat, atau hal-hal yang diyakini orang tua. Begitu
pun sebaliknya. Namun, kita tidak boleh menganggap hal itu salah! Hal
yang harus kita lakukan adalah melakukan diskusi secara baik-baik,
utarakan pendapat masing-masing utnuk mencapai titik temu dan solusi
dari permasalahan yang ada.
Jika anak melakukan kesalahan pun, orang tua jangan langsung marah
dan memaki anak. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, dan pasti
punya kekurangan masing-masing. Alangkah indahnya jika orang tua dan
anak, senior dan junior, mau saling memahami, saling mengerti, dan
saling menerima satu sama lain.
Itulah 3 hal yang harus ditanamkan pada setiap keluarga, yaitu
berbakti, rajin dan bekerja keras, juga toleransi. Kita harus mencatat
baik-baik 3 hal ini dalam hati kita. Menempatkan mereka sebagai tindakan
yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Dengan demikian, kehidupan
keluarga yang harmonis dan bahagia bukanlah angan-angan belaka.
Sumber: Coco