Siapa yang tak jatuh cinta dengan keindahan alam Papua. Namun, dibalik keindahannya, Papua tidak memberikan kehidupan yang indah bagi para perempuan di sana. 4 potret kerasnya kehidupan perempuan di Papua ini bisa bikin hati kamu tersayat.
1. Perempuan banyak yang putus sekolah

Pendidikan di Papua memang belum tersentuh menyeluruh, angka putus sekolah jauh lebih besar dibandingkan dengan pulau lain. Menurut data Indonesia Government Index tahun 2013, perempuan di sana sangat rentan untuk putus sekolah, selain itu, anak-anak Papua harus menempuh perjalanan yang panjang untuk bisa bersekolah. Ditambah fasilitas sekolah yang belum memadai, perpustakaan, gedung sekolah yang seadanya membuat hati miris. Makanya, kita harusnya bersyukur dan jangan malas-malasan.
2. Perempuan Papua Banting Tulang Di Ladang
Pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab laki-laki sebagai kepala rumah tangga justru dibebankan kepada para perempuan. Mereka harus banting tulang ke ladang dan menjadi ibu rumah tangga, sementara para laki-laki berburu dan menyelesaikan perang antar suku.
3. Ribuan perempuan jadi korban kekerasan seksual

Di Papua, seks bebas dan diskrimasi terhadap perempuan memang masih sering dijumpai. KDRT terjadi di mana-mana. Hal tersebut tentunya dipicu karena pemberlakuan adat istiadat yang masih kental. Tahun 2016 lalu, sekitar 1.800 perempuan suku asli Papua menjadi korban kekerasan seksual dan diskriminasi. Tak hanya itu, minimnya pengetahuan tentang virus HIV juga menjadi pemicu tindakan tersebut. Untuk menanggulanginya, pemerintah provinsi Papua telah mengesahkan Perdasus No. 1 Tahun 2016 tentang Pemulihan Kekerasan dan Diskriminasi Perempuan Asli Papua.
4. Laki-laki tetap memegang kekuasaan
Masyarakat Papua masih menganut budaya patriaki, dimana perempuan ditempatkan selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Jika seorang perempuan berprestasi mengungguli laki-laki, maka hal tersebut akan dihalangi oleh para lelaki di sana.
Tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, budaya patriaki juga berlaku dalam pernikahan. Orang tua wanita akan meminta mahar yang besar, sehingga dari sanalah laki-laki berpikir untuk bisa memperlakukan wanita sewenang-wenang. Walau menjadi tulang punggung yang banting tulang di ladang, mereka tetap menempati gender kedua.
Kebebasan berkarya, emansipasi bagi para perempuan Papua mungkin belum dirasakan sepenuhnya oleh mereka. Beruntunglah kalian, yang diperlakukan layaknya perempuan.

Sumber: boombastis