Pasangan suami istri setiap hari menempuh puluhan kilometer jauhnya
dengan menarik gerobak. Sang suami menarik dari depan dan sang istri
mendorong dari belakang. Selain berisikan kardus dan karung-karung bekas
yang bertumpukan, hal menyedihkan terlihat dalam isi gerobaknya.
Seorang bocah menggunakan baju tidur di dalam gerobak milik Gupriyadi
sedang tertidur pulas. Walau tanpa atap yang melindungi dari panas dan
hujan, bocah tersebut terlihat sangat nyaman tidur di sana. Ternyata, ia
adalah anak dari pasutri tersebut.
Keseharian Gupriyadi yang mencari barang rongsokan dan plastik bekas
dan selalu dibantu sang istri tercinta untuk mencari barang
rongsokannya.

Barang rongsokan yang sudah tidak terpakai sangat berarti bagi
kehidupan keluarga ini. Gupriyadi memiliki 2 orang anak, bernama Tegar
dan Isnaini. Tegar, anak pertamanya saat ini duduk di bangku Sekolah
Dasar, dan adiknya kelas 1 SD.
Saat pergi bekerja, Tegar dititipkan di tetangganya, sementara
Isnaini ikut selalu ikut bersama kedua orang tuanya karena tidak enak
jika menitipkan keduanya.
Gupriyadi dan Sri Anjani istrinya saling bekerja sama demi memberi
makan anak-anaknya. Jarak tempuh mereka mencari barang rongsokan bisa
mencapai puluhan kilo. Mereka biasanya keluar mencari barang rongsokan
sekitar jam 17.00-00.00. Menyusuri jalanan Palembang sepanjang puluhan
kilometer ditambah harus menarik dan mendorong gerobak yang sangat besar
dan bermuatan.

Semua yang mereka lakukan hanya untuk makan dan sekolah anak-anaknya.
Mereka kerap menyembunyikan rasa lelahnya. Plastik yang didapatnya
dijual di penampungan barang bekas, untuk 1 kilo plastik dihargai Rp
1000, untuk besi sedikit lebih tinggi. Harga yang tak sebanding dengan
kelelahan kedua orang tua ini. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan
uang sebesar Rp 50.000 jika sedang mendapatkan banyak plastik, namun
biasanya hanya Rp 25.000.
Pendapatan yang tidak sebanding dengan pengeluaran yang mengharuskan
ia setiap hari hanya makan nasi dan lauk kangkung rebus. Kangkung yang
didapat pun dari kebun tetangga. Sementara uang hasil plastik, mereka
bayarkan untuk menyewa rumah. Mereka kerap kebingungan membagi
penghasilan yang tidak cukup untuk pengeluaran. Namun, mereka selalu
berdoa dan mensyukuri rezeki yang di dapat. Mereka hanya meminta
kesehatan dari Allah SWT, karena jika salah satu satu dari mereka sakit,
anak-anaknya pasti tidak makan.
Sumber: tribun