Sosok ayah, merupakan figur orang tua yang rela bekerja keras demi
kesuksesan anak-anaknya. Meski ia tak ikut melahirkan seperti para ibu,
dedikasi dan pengorbanan yang diberikan juga tak bisa dipandang sebelah
mata. Merekalah yang bertugas mencari nafkah demi kelangsungan hidup
keluarga tercinta. Maka, sudah selayaknya kita harus menghormati
jasa-jasa yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Namun, kisah berikut seolah berbanding terbalik dengan narasi diatas.
Disaat usia yang telah senja, kakek tua bernama Seger ini malah
diacuhkan oleh anak-anaknya yang telah hidup sukses dan bergelimang
harta. Alhasil, ia pun harus terlunta-lunta dijalanan dengan berjualan
onde-onde demi sesuap nasi. Seperti apa kisah pilunya hidup seorang
diri? simak ulasan dibawah selengkapnya.

#1 Sosok renta yang merantau di Surabaya
Seger yang saat itu tak mempunyai harta sepeser pun, nekat mengikuti
temannya mengadu nasib di Surabaya. Merantau ke kota besar, menjadi
pilihan dirinya lantaran ia sudah tak memiliki apa-apa di kampung
halamannya, Kediri.

Seluruh hartanya telah ludes unutk membiayai kelima anaknya hingga
masing-masing dari mereka telah sukses. Dibalik kesuksesannya tersebut,
terselip sebuah cerita miris yang sanggup membuat siapa saja yang
mendengarnya menitikan air mata.
#2 Berdagang onde-onde demi sesuap nasi
Sebelumnya, tak ada dalam benak Seger untuk menjadi seorang penjual
onde-onde. Pekerjaan tersebut terpaksa ia lakoni karena himpitan ekonomi
yang menderanya selama di hidup di Surabaya. Saban hari setipa subuh
hingga petang, ia setia mengayuh sepedanya, menjajakan onde-onde.

Disana, ia hidup berdua dengan sang istri dan mengontrak sebuah rumah
untuk berteduh. Hidup terlunta-lunta di kota yang asing, membuat
perjuangan hidup yang ditanggungnya menjadi semakin berat. Bahkan Jika
dagangannya tak habis, onde-onde tersebut dijajakan di sekitaran tempat
tinggalnya.
#3 Jerih payah dan kesuksesan yang dibalas dengan air tuba
Seger yang merupakan warga asli Kediri tersebut, ternyata mempunyai
masalah pelik yang membuat dirinya harus hijrah ke Surabaya. Seluruh
hartanya ketika masih di Kediri, telah ludes untuk membiayai pendidikan
kelima anaknya hingga sukses. Bahkan mereka kini telah mempunyai toko
masing-masing. Anak-anaknya tersebut ada yang bermukim di Kalimantan,
Kediri dan Jombang.

Sayanganya, jasa orang tua tersebut dibalas dengan perlakuan yang
menyayat hati. Sang ayah dan istrinya yang notabene adalah ibu mereka,
dilarang berkunjung di kediamannya. Bahkan pada 5 momen lebaran
terakhir, tak ada satupun dari anak-anaknya yang datang berkunjung.
#4 Menuai simpati dari netizen
Kekuatan sosial media sebagai penyebaran berita yang ampuh saat ini,
telah membantu banyak hal, termasuk pak Seger. Kisah pilunya yang
diacuhkan oleh anak kandungnya, telah viral dan menuai banyak simpati
dari netizen.

Usianya yang tak lagi muda, rawan terkena penyakit jika harus berada
seharian di jalanan Surabaya. Dengan semakin tersebarnya informasi
tersebut, mudah-mudahan anak-anak dari kakek 70 tahun ini, bisa
mengetahui keberadaannya dan segera sadar dari tindakannya tersebut.
#5 Dibantu oleh salah satu program televisi swasta
Perjalanan hidup kakek Seger hingga dicampakan oleh anak-anaknya,
rupanya tak hanya mengetuk hati nurani netizen di dunia maya. Salah satu
program televisi swasta tanah air, bahkan mengikutsertakan sang kakek
beserta istrinya dalam tayangan mereka yang bernama Pantang Mengemis
tersebut.

Dalam video yang dipandu oleh artis Zhi Alatas tersebut, Pak Seger
beserta istrinya mencurahkan masalah pelik yang tengah membelit
hidupnya. Ditengah-tengah acara, pihak penyelenggara program terlihat
menyumbangkan barang-barang dan sejumah uang yang dibutuhkan oleh
pasangan tersebut.
Tak pelak, kisah sang kakek penjual onde-onde tersebut, sangat
menohok relung hati yang paling dalam. Bagaimana mungkin, seorang anak
yang dibesarkan dengan susah payah dan pengorbanan, malah menelantarkan
kedua orang tuanya dikala usia senja mereka. Semoga kejadian semacam
ini, tidak terjadi terjadi pada orang tua lain. Khususnya pada anak-anak
agar selalu menghormati jasa kedua orang tua mereka.
Sumber: Boombastis