Jika putriku masih ada, maka tahun ini ia telah berusia 16 tahun.
Ketika itu, putriku baru berusia 5 tahun dan setelah makan siang ia
pergi ke lantai bawah untuk bermain. Karena putriku memang biasa bermain
di halaman rumah, aku merasa tenang membiarkannya bermain sendirian.
Namun, ketika aku sedang mencuci pakaian lalu berdiri di balkon untuk
menjemur pakaian, tiba-tiba aku melihat seorang wanita asing berbicara
kepada putriku. Ia lalu mengambil sesuatu dari kantong celananya dan
memberikannya kepada putriku. Aku melihat putriku tidak menolak ataupun
merasa terpaksa. Ia lalu membuka bungkusan seperti permen dan
memasukkannya ke dalam mulut.

Aku yang panik ketika itu langsung melemparkan pakaian dan segera
berlari ke bawah. Namun, ketika aku sampai di bawah, aku tidak melihat
seorang pun. Aku berlari kesana kemari sambil berteriak memanggil nama
putriku, namun tidak ada jawaban.
Sejak saat itulah, putriku menghilang dari kehidupanku dan menjadi mimpi buruk bagiku..
Suatu hari, ketika aku sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota,
aku bertemu dengan seorang anak cacat. Hal ini membuat hatiku tidak
tenang dan akhirnya aku membawanya ke kantor polisi. Setelah diselidiki,
ternyata anak itu digunakan sebagai alat pencari keuntungan bagi para
pedagang, tapi aku tahu bahwa itu bukan anakku.

Di lain hari, ketika aku sedang berada pergi berbelanja barang
sehari-hari, aku melihat seorang anak perempuan yang kedua kakinya
diamputasi seakan tersenyum kepadaku. Aku mencoba berbicara dengannya,
tapi ia hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata ia tidak memiliki lidah
sehingga ia tidak bisa berbicara. Aku lalu ke kantor polisi untuk
meminta bantuan, namun ketika aku dan pak polisi kembali ke tempat tadi,
anak kecil itu sudah hilang. Hal ini membuatku sedih dan menyalahkan
diriku.

Bertahun-tahun berlalu dan hari dimana aku bertemu dengan putriku pun
datang. Ketika aku sedang pergi mengunjungi saudaraku di luar kota, aku
melihat seorang anak perempuan buta di jalan, mulutnya kecil seperti
suamiku. Aku lalu memberikan uang 25 ribu rupiah kepadanya. Ketika aku
bertanya darimana asalnya, ia mengatakan kata-kata yang tidak aku
mengerti. Hal itu membuatku sedih dan aku pun memilih untuk pergi. Tak
disangka anak itu menarik tanganku seakan tidak membiarkanku pergi.

Aku lalu membawanya ke kantor polisi, dan hal mengejutkan terungkap
dari tes DNA yang kulakukan. Ya, ternyata anak itu adalah putriku yang
hilang!
Mungkin itulah yang dinamakan dengan ikatan ibu dan anak. Sebelumnya
aku memang merasa ada sesuatu dengannya dan mungkin juga hal ini karena
aku peduli dengan anak-anak di jalanan, yang membuatku akhirnya bertemu
dengan putri kandungku.
Apa yang terjadi pada putriku benar-benar tidak bisa kupercaya. Ia
yang dulunya memiliki mata yang bagus dan bersinar, sekarang sudah tidak
dapat melihat lagi. Dulu ia sering bernyanyi, tapi sekarang malah
berbicara dialek dan kata-kata yang tidak kami mengerti. Setelah aku
melakukan pemeriksaan kepada putriku, hasilnya benar-benar membuat
hatiku tercabik-cabik, selaput daranya telah rusak dan ia menderita
kanker serviks, organ dalam tubuhnya juga banyak yang telah rusak.
Meski aku dan suamiku telah berusaha menjaga dan memberikan perawatan
terbaik kepada putriku, namun pada akhirnya ia harus meninggalkan kami
di usianya yang baru 10 tahun. Sebagai orangtua, aku berharap para
orangtua di luar sana bisa lebih memperhatikan dan melindungi
anak-anaknya.
Miris banget ya kisahnya! Yuk para orangtua lebih berhati-hati dan perhatian kepada anaknya!
Sumber: Beauty