Suamiku meninggal saat anakku berumur 5 tahun, sehingga aku pun
merangkap sebagai ayah dan juga sebagai ibu baginya. Saat anakku tumbuh
dewasa dan menikah, sebenarnya ia mengajakku pergi ke kota untuk tinggal
bersama mereka. Namun, aku menolaknya karena aku merasa anakku berhak
memiliki kehidupannya sendiri dan khawatir kehadiranku nanti akan
mengganggu mereka. Menantu perempuan adalah orang kota, kebiasaan hidup
yang berbeda membuat hubungannya denganku menjadi kurang baik.
Enam bulan yang lalu, anak laki-lakiku menjemputku ke kota untuk
tinggal di sana selama beberapa waktu. Sesampainya di kota, menantuku
meminta untuk makan di restoran. Namun, karena harganya menurutku
terlalu mahal, maka aku hanya memesan dua sayur saja, karena aku pikir
anakku mencari uang pun bisa dibilang tidak mudah.

Kemudian, aku pun tinggal di rumah mereka selama dua minggu. Selama
aku tinggal di sana, setiap hari menantu perempuanku mengatakan bahwa
dia sibuk sehingga dia selalu makan di luar. Ketika pulang, dia
membawakanku "makanan sisa" yang sudah tidak sanggup dia habiskan saat
makan di restoran. Kebiasaannya ini aku pikir hanya menghambur-hamburkan
uang saja dan aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya!
Aku pun merasa kesal padanya karena kebiasaan hidupnya itu. Malam itu,
saat aku baru berbaring dan menutup mata, anak dan menantuku memulai
percakapan. Mereka mungkin berpikir bahwa aku sudah tertidur saat itu.
Anakku berkata pada menantuku, "Sejak dulu, ibu belum pernah makan
makanan yang enak. Aku ingin mengajaknya makan di restoran, tapi dia
malah tidak senang. Aku membelikan makanan untuk dibawa pulang, dia
malah menganggapnya sisa makananmu. Sikapnya padamu beberapa hari ini
aku rasa tidak benar. Kamu juga pasti sedih kan?" Menantu perempuanku
berkata, "Tidak apa-apa, aku juga ingin agar ibu makan enak. Setelah dia
kembali, kamu kan bisa memberi tahunya, jadi dia tidak akan salah paham
lagi padaku."

Aku pun kemudian datang menghampiri mereka dan berkata, "Ibu sudah
cukup dengan makan makanan biasa, kalian tidak perlu lagi
menghambur-hamburkan uang. Terima kasih karena kalian begitu memikirkan
ibu dan maaf jika ibu sudah salah paham selama ini."

Hari itu aku terharu dan juga bersyukur memiliki anak dan menantu
yang begitu berbakti. Menantu juga adalah anak kita kan? Aku berjanji
akan menjaga dan memperlakukannya dengan baik!
Sumber: Looker