Saat melahirkan, seorang ibu bertaruh antara hidup dan mati. Segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, baik ibunya meninggal atau bayinya. Banyak ibu yang dapat melewati langkah itu dengan tenang, tetapi ada beberapa ibu yang tidak begitu beruntung.

Pada saat persalinan ibu Wang, air ketuban masuk ke dalam pembuluh darahnya. Air ketuban mengandung banyak vernix plasenta, bulu, mekonium dan lain-lain, sehingga ketika masuk ke dalam pembuluh darah, dapat menyebabkan infeksi akut. Daerah infeksi yang terlalu luas menyebabkan nyawa ibu Wang tak tertolong. Yang lebih menyedihkannya lagi, bayinya juga meninggal setelah 3 hari. Ia bahkan tidak sempat melihat dunia ini, tidak sempat melihat keluarganya dan harus pergi dengan cepat.
Oleh karena hal ini, emboli air ketuban sempat menjadi bicaraan para ibu hamil. Apa sih embol air ketuban? Yuk mari kita lihat:
Emboli air ketuban
Emboli air ketuban adalah masuknya air ketuban beserta komponen ke dalam sirkulasi darah sang ibu. Yang dimaksud komponen adalah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental.

Peluang hidup korban yang mengalami emboli sangat tipis. Resiko kematian pada ibu yang mengalami emboli air ketuban hampir 80%. Di Amerika, emboli air ketuban menempati 10 persen dari penyebab kematian ibu hamil, sedangkan di Inggris kira-kira 16 persen. Sebagian besar penderita emboli yang selamat, menderita gangguan neurologis.
Emboli air ketuban dapat terjadi saat persalinan, baik lahir normal maupun melalui operasi Caesar. Pada saat persalinan, terdapat risiko untuk terjadinya emboli air ketuban karena banyak pembuluh darah balik yang terbuka. Hal ini memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyumbat pembuluh darah balik.
Untuk mencegah hal ini terjadi, inilah yang harus diperhatikan ibu hamil:
1. Pilihlah rumah sakit professional yang dilengkapi dengan peralatan yang memadai dan dapat dipercaya. Yang paling penting adalah dapat melakukan penyelamatan tepat waktu.
2. Lakukan pengecekan ke dokter kandungan secara rutin. Adanya plasenta previa ( kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim.) dapat dideteksi melalui USG.
3. Ibu hamil di atas usia 30, terutama yang ketuban pecah dini, rahim kurang berkembang dapat mengakibatkan terjadinya emboli air ketuban, sehingga harus lebih hati-hati.
4. Dalam masa persalinan, jika kontraksi rahim terlalu kuat, ibu diharuskan menggunakan obat penenang dari dokter untuk melemahkan kontraksi. Hal ini butuh dilakukan mencegah terjadinya ruptur uteri (robekan uteris).
5. Jika dada sesak, ingin marah atau mengigil selama persalinan, segera beritahu dokter agar dengan cepat menerima perawatan yang dibutuhkan.
Sumber: cerpen