Namaku Widia, tahun ini aku sudah 28 tahun. Aku dan suamiku adalah seorang petani. Kami bukan orang kaya, tapi kamu sangat bahagia. Mengapa? Karena aku punya suami yang sangat mencintaiku dan seorang anak laki-laki yang sedang sekolah.
Sebenarnya… 10 tahun yang lalu saya melakukan sesuatu yang tidak layak sebagai seorang ibu.
Akhir-akhir ini, suamiku mengadopsi seorang anak perempuan. Gadis itu memakai pakaian yang kotor dan robek-robek. Kelihatannya sudah tidak mandi berhari-hari. Merasa kasihan, aku pun bertanya rumahnya dimana. Dia hanya menggeleng kepala dan tidak berbicara apa-apa. Suamiku kemudian berkata bahwa kemungkinan gadis ini bisu. Tentu saja aku curiga dan khawatir. Suamiku membawa pulang seorang anak perempuan! Kalau misalnya dia anak dari selingkuhannya bagaimana? Saat memikirkan hal ini, aku langsung mengusir pikiran jahat dari kepalaku. Suamiku sangat cinta aku, bagaimana mungkin dia mengkhianati aku?

Sejak suamiku membawa gadis ini pulang, dia sangat baik terhadapnya. Dia memberi apa pun yang dibutuhkan gadis tersebut. Suamiku bahkan membeli sepatu yang putraku inginkan untuk gadis bisu itu. Tentu saja, aku semakin hari semakin curiga. Namun, aku tetap tidak berani bertanya kepada suamiku, takut pertanyaan ini merusak pernikahan kita.
Aku pun punya sebuah ide. Aku sengaja mengusulkan untuk membawa gadis ini ke kantor polisi. Toh kita tidak punya banyak uang, apa jadinya kalau rumah bertambah satu orang lagi? Suamiku sangat menentang ideku.
Aku langsung kesal! Oke, kamu punya selingkuhan diluar sana. Masih mau suruh aku menjaga anaknya lagi? Mimpi kali ya?
Keadaan semakin hari semakin buruk. Suatu hari ketika aku mau ribut dengan suami, gadis itu berkata, "Ibu!".
Aku pun bengong dan terdiam. Suamiku pun menghela nafas dan menjelaskan semuanya. Ternyata ini adalah anak gadis yang ku jual 10 tahun yang lalu. Desaku adalah desa yang lebih mementingkan anak pria dan memandang rendah anak perempuan.
Dulu, kita butuh uang untuk membeli sebuah rumah. Daripada nantinya anak perempuan hanya akan menambah beban keuangan, jadi lebih baik dijual saja. Tidak disangka, suamiku menemukannya kembali.
Aku membuka mulutku, tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku langsung memeluk putri yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Aku berlutut minta maaf kepadanya.
Sejak hari itu, aku berubah total terhadapnya. Aku bercerita dan bercanda dengannya. Ternyata putriku bisa berbicara, dia hanya takut untuk berbicara didepanku.
Aku juga menjelaskan keadaan sulit waktu itu dan berharap dia memaafkanku. Putriku yang pengertian tetap menganggap aku ibunya dan sayang terhadapku.
Walaupun semuanya sudah lewat, hatiku tetap terasa janggal. Kok bisa ya aku melakukan hal seperti ini dulu? Rasa bersalah tidak akan pernah hilang dari hatiku. Kesalahan yang kita buat akan terukir dihati selamanya. Namun yang aku bisa lakukan sekarang adalah berusaha segalanya untuk memberinya yang terbaik.
Terimakasih suamiku, terimakasih anakku.
Sumber: Beauty