Seorang wanita bernama Tressa Middleton mengalami kisah hidup yang getir. Saat ini Tressa berusia 24 tahun dan menjadi seorang ibu yang berbeda dari ibu pada umumnya di Inggris. Tahun 2006, saat Tressa masih berusia 12 tahun dia menjadi ibu termuda karena diperkosa oleh kakaknya sendiri yang bernama Jason berusia 16 tahun.
Ibunya, Tracey Tallons juga berjuang dengan kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Saat Tressa berusia 7 tahun, Jason mulai melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Hingga 4 tahun kemudian, Tressa hamil setelah Jason memperkosanya.
Tressa yang masih bersekolah terpaksa harus menyerahkan putri pertamanya untuk diadopsi pada saat usia bayi tersebut menginjak 2 bulan dan Tressa tidak bisa berhenti memikirkan anaknya itu. “Dia selalu menjadi orang pertama yang aku pikirkan setiap pagi dan setiap malam, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan benar-benar bahagia tanpa kehadirannya dan aku sangat sedih ketika Arihanna beranjak dewasa tanpa mengenal saudara perempuannya ” aku Tressa
Selama dua tahun, Tressa merahasiakan identitas ayah dari putri pertamanya sampai akhirnya dia mau bercerita kepada seorang pekerja sosial di usianya yang ke-14. Polisi pun menyelidiki kejahatan Jason yang saat itu sudah berusia 19 tahun dan akhirnya Jason harus dipenjara selama 4 tahun setelah menjalani tes DNA dan membuktikan dirinya sebagai ayah dari putri Tressa.
Ketika Tressa beranjak dewasa dan mendapat kesempatan melahirkan lagi. Perasaan rindu tidak dapat dibendung olehnya. Rindu yang mendalam jelas terlihat dalam foto keluarga bersama pasangannya, Darren Young (31) dan putri keduanya yang bernama Arihanna.
Tressa mengakui bahwa menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang pahit. Tressa memang merasakan sukacita ketika Arihanna lahir tapi merasa bersalah juga ketika putri pertama Tressa tidak ada bersamanya. Tressa tenggelam dalam depresi dan penggunaan alkohol juga obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit.
Tahun 2011, dia menggunakan heroin juga. Untungnya dia berhasil membersihkan diri dengan bantuan seorang konselor dan mulai mengembangkan kehidupan baru bersama Darren. Mereka sangat gembira ketika tahu Tressa hamil pada tahun 2012 tapi sayangnya Tressa harus mengalami keguguran dan 3 hari kemudian ibunya meninggal karena penyakit pneumonia di usia 41 tahun.
Ada perasaan marah ketika dan terbeban berat ketika dia harus mengalami keguguran dan kehilangan ibunya dalam waktu berdekatan. Sampai saat ini dia belum menerima surat dari keluarganya selama hampir 3 tahun tetapi Tressa selalu mengirim ucapan ulang tahun untuk putrinya.
Tressa dan Darren menyambut kelahiran Arihanna pada tanggal 6 Oktober lalu setelah melewati perjuangan yang melelahkan selama 24 jam. Hampir 11 tahun berlalu, Tressa memberanikan diri berbicara ke hadapan publik lagi.
Tressa masih menyimpan kenang-kenangan dari putri pertama yang lahir dari tragedi mengerikan seperti sidik jari, pakaian bayi, hingga kuncir rambutnya. Tressa memastikan jika Arihanna akan mengetahui bahwa dia memiliki seorang kakak perempuan karena kakaknya tidak akan menjadi sebuah rahasia bagi Arihanna. Masih ada harapan seorang ibu, bahwa suatu saat mereka akan bertemu kembali.
Untuk saat ini, Tressa hanya ingin Arihanna melewati masa kecil yang normal seperti anak-anak pada umumnya dan tahu bahwa dia dicintai dan aman. Tressa tidak ingin Arihanna mengetahui detail masa kecilnya yang kelam. Karena Tressa berpikir, Arihanna berhak memiliki kehidupannya sendiri. Saat ini Tressa berharap mendaftar di universitas dan belajar psikologi.
Tressa menuturkan dia memiliki ketakutan ketika Arihanna dilahirkan karena khawatir akan diambil oleh petugas sosial. Tetapi petugas sosial melihat bahwa Tressa sudah berubah, tidak meminum minuman keras dan tidak menggunakan obat terlarang.
“Aku ingin agar Arihanna dapat melakukan setiap hal yang telah aku lewatkan di usiaku yang begitu muda. Aku ingin dia kuliah dan mendapatkan gelar dan aku memastikan agar hidupnya akan sangat jauh berbeda dengan milikku,” ujar Tressa.
Sumber : Mirror