Penggunaan bedak bayi sampai saat ini masih menimbulkan kebimbangan terutama di kalangan para orang tua. Sebagian berpendapat tidak masalah menggunakan bedak tabur kepada bayi. Namun sebagian lainnya memilih untuk tak menggunakan bedak sama sekali untuk bayi-bayinya.
Di Indonesia sendiri umumnya para ibu menggunakan bedak bayi setelah selesai mandi, atau saat si bayi kegerahan. Area lipatan yang rawan berkeringat kerap menjadi sasaran pemberian bedak. Namun ternyata beberapa kasus terjadi pemberian bedak di bagian tubuh yang berlipat malahan menimbulkan iritasi.
Memang, aroma bedak bayi menggoda namun ternyata kebiasaan menaburkan bedak di tubuh bayi menyimpan bahaya tersembunyi. Dokter spesialis anak asal Perancis, Jerome Valleteau de Moulliac, mencoba meluruskan persepsi para orang tua. Ia mengatakan sebaiknya bedak jangan ditaburkan pada lipatan-lipatan di kulit bayi. Seperti pada lipatan pantat atau paha.
"Bedak akan terakumulasi di daerah lipatan sehingga jika bayi berkeringat maka bisa menyebabkan infeksi pada kulit mereka yang masih sensitif," ujar pria yang sudah 44 tahun berpengalaman sebagai dokter anak ini.
Menurutnya bedak hanya boleh ditaburkan pada tubuh bayi yang tidak memiliki lipatan. "Tidak ada aturan tertulis yang melarang tapi kami, dokter-dokter anak di Eropa, sepakat bahwa itu tidak boleh dilakukan," imbuhnya.
 

Ternyata, bedak tabur bisa menumpuk dan bercampur dengan keringat sehingga bisa memicu ruam, bahkan infeksi kulit akibat perkembangbiakan jamur. "Jadi sebaiknya para ibu tidak menaburkan bedak di lipatan kulit bayi," kata Moulliac.
Moulliac juga menyoroti berbagai macam penyakit kulit dan iritasi yang umum diderita bayi. Ia mengatakan untuk bayi yang tinggal di negara tropis dengan panas matahari menyengat seperti Indonesia sebaiknya jangan terlalu sering terpapar sinar matahari. "Sebelum anak berusia dua tahun saya sarankan jangan terlalu lama berada di bawah sinar matahari karena lapisan kulitnya masih tipis," ungkap Moulliac.


Sumber: Family Guide