Di dalam kehidupan nyata banyak hal yang perlu kita pelajari. Terlebih jika itu menyangkut dengan orangtua. Banyak anak yang saat ini melupakan orangtuanya, apalagi dengan pergaulan, anak merasa bahwa mereka mampu hidup tanpa orangtua.
Seperti sebuah berita baru-baru ini dimana seorang anak yang tega membakar rumah yang merupakan milik orangtuanya karena ia tak dibelikan handphone. Itu adalah satu dari sekian banyak kejadian yang menyayat hati orangtua. Banyak anak yang melupakan orangtuanya, mereka bersenang-senang dan berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orangtuanya.

Oleh karena itu penulis ingin mengingatkan pada pembaca bahwa kita sebagai anak tidak pernah boleh menyakiti bahkan melupakan orangtua kita. Jangan sampai menyesal dikemudian waktu ya. Nah video yang akan ditampilkan semoga menjadi pengingat untuk kita agar senantiasa mengingat orangtua:
“Hari itu aku menghampiri temanku yang sedang duduk termenung di tempat dekat kami sering bemain.
Aku membelikannya sebuah hamburger untuk ia makan menemaniku saat itu.
Tentunya aku begitu menikmati hamburger yang baru kubeli. Namun hal itu tidak terjadi pada temanku.
Aku menoleh saat ia membuka bungkusannya namun ia  hanya terdiam sambil melihatku yang sedang melahap makanan itu, aku bertanya padanya ‘kenapa tidak dimakan?’ namun ia menjawab ‘aku tidak lapar, aku makan dirumah saja’ ucap temanku sambil membungkus kembali makanan yang kuberi.
Sedikit ku berpikir ‘kenapa dia tidak makan ya?’ karena penasaran, aku membuntuti kemana ia pergi. Memang arah temanku berjalan adalah arah pulang kerumahnya. Aku ikuti saja sampai…
Aku melihatnya, di depan rumah temanku ia bersimpuh di depan neneknya, membukakan hamburger itu dan memberikannya pada sang nenek. Mereka makan bersama-sama aku melihat senyuman di bibir temanku. Neneknya mengelus-ngelus kepala seakan-akan kamu anak yang baik pada orangtua.
Aku yang mengintip dibalik dinding teringat akan perilakuku pada ibu di rumah. Pernah suatu saat ketika ibuku sakit aku meneriakinya hanya karena ingin dibawakan minuman, padahal waktu itu aku sedang tak ada kerjaan, ya aku main game berleha-leha namun ibuku yang sedang sakit rela memenuhi keinginanku.
Aku menyesal saat membentaknya. Air mataku tak henti mengalir. Aku menangis sambil melihat temanku yang memperlakukan neneknya karena ia sudah tak memiliki ibu dan ayah.
Begitu ku sampai ke rumah, aku menunggu ibu yang pasti sangat kelelahan setelah seharian kerja. Begitu ibu pulang, aku meminta ibu untuk istirahat. Kubawakan sebaskom air untuk ku basuk kakinya. Aku tau apa yang aku lakukan ini tak mampu membalas semua kebaikan dan perbuatanku pada ibu. Namun setidaknya aku ingin ibu tau bahwa mulai sekarang aku akan menuruti keinginan dan kemauan ibuku, agar aku jadi anak yang berbakti.”
Sumber: IG Guru Mandarin