Inilah potret sebuah keluarga biasa di Singapore. Ikatan kekeluargaan yang semakin pudar membuat seorang ayah mengalami sakit hati hingga depresi. Melalui film pendek ini, kita akan diingatkan seberapa penting menghargai hal-hal kecil yang ada di keluarga. Setiap hal yang terjadi memberikan dampak kepada setiap orang. Mungkin dari situ mereka akan merasa dihargai.
Sepasang suami istri ini mempunyai seorang anak gadis dan seorang anak lelaki yang sudah berkeluarga. Mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan makan malam bersama ketika perayaan tahun baru. Ibu yang menyiapkan semua hidangan. Ayah yang pendiam merasa ada yang mulai mengganggu hatinya. Ketika makan bersama tidak ada yang memperhatikan dirinya.

Suatu hari ketika ayah pulang kerja dan meminta tolong kepada putrinya untuk membaca surat, putrinya menolak dengan keras. “Nak, kau bisa bantu ayah membaca surat ini?”
“Yah, bisa nanti saja? Aku sedang nonton TV,” tolak putrinya. Ayahnya pun menuju dapur dan menemukan kebiasaan jelek putrinya. Dia selalu membuat kopi tapi tidak meminumnya. Ayahnya yang mencuci gelas tersebut tanpa mempermasalahkannya. Padahal ayah baru pulang kerja. Perlakuan buruk tidak berhenti sampai di situ. Istrinya bukan menyambut dirinya dengan kasih dan segelas air tapi malah memarahinya.
“Kenapa kau pulang cepat?, tanya istrinya. “Aku agak capek hari ini, tidak banyak penumpang juga hari ini,” jawabnya.
“Capek? Bilang saja kau malas! Tidak ada penumpang? Bagaimana dengan di bandara atau di Orchard? Aku juga capek mengepel lantai, tapi apa karena itu aku tidak mengepel? Kalau begitu carikan aku pembantu! Kau tidak akan pernah bisa kaya! Lupakan saja!” omel istrinya.
Namun, ayah yang sabar mengingatkan, “Sayang, kita bisa makan, punya rumah, dan tidur nyenyak. Itu semua cukup.”
“Cukup? Kita sudah menikah lebih dari 20 tahun dan kita masih tinggal di kandang ini. Bahkan membicarakannya saja aku malu! Lihat penjual bunga di pasar, suaminya punya Mercedes. Aku punya apa? Aku pasti buta telah menikahi orang miskin sepertimu! Suami-suami yang lain lebih mampu daripada kau! Aku bisa gila bicara denganmu! Kau sudah mengganti bohlamnya?”
Istrinya terus berbicara hal yang begitu menyakitkan kepada suaminya. Namun ayah tidak menanggapi dengan emosi. Dia hanya diam. Ayah juga mendapat perlakuan yang kurang baik dari anak lelakinya yang sibuk dengan pekerjaannya. Dia tidak mendengarkan apa yang ayahnya bicarakan. Tak terasa tahun baru Imlek akan segera datang, seperti biasa mereka akan melewatinya dengan makan malam bersama. Semua sudah siap dan berkumpul di meja makan, tapi ke mana ayah? Hingga larut malam, ayah tidak kembali ke rumah dan dia melewatkan makan malam bersama keluarganya. Ayah juga tidak mengangkat telepon dari rumah.
“Tahun berganti tahun, orang-orang di sekitarku berubah. Istri dan anak-anakku terasa asing bagiku. Atau mungkin akulah yang tidak pantas berada di keluarga ini lagi. Aku sudah tua dan aku merindukan masa-masa lalu yang indah.. Istriku juga mungkin lelah dengan semua ini. Jadi, ia selalu mengeluh. Aku menjadi beban bagi keluargaku. Pergi bukanlah tindakan bodoh atau kurang ajar melainkan tindakan yang sudah dipikirkan secara matang. Aku lebih baik pergi demi kebaikan semua daripada tinggal di tempat yang tidak pantas untukku.”
Sumber : Vidsee