Bocah lelaki bernama Kuan Le ini mempunyai harapan dapat merayakan tahun baru yang dapat dikenang bersama ayahnya. Dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sehingga dia memutar otak agar tetap dapat merayakan tahun baru. Hari itu, dari jauh dia memperhatikan seorang juru masak yang sedang mempersiapkan masakan lezat sambil mengumpulkan tutup botol minuman soda. Dia ingin memasak makanan lezat juga bagi ayahnya sehingga dia memperhatikan juru masak itu.
Tapi, nampaknya sia-sia, butuh usaha ekstra keras untuk memasak makanan lezat seperti itu. Setibanya di rumah, dia mempunyai ide dengan tutup botol yang selama ini telah ia kumpulkan. Dia membuat begitu banyak hiasan yang mirip dengan hiasan tahun baru. Kuan Le berjalan menyusuri lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dia melihat ibu yang sedang menyiapkan masakan tapi sambil menelepon.
Kuan Le bertanya apakah dia boleh meminta sebagian, karena ibu itu sedang menelepon dan tidak mendengar Kuan Le. Komunikasi mereka menjadi sebuah kesalahpahaman. Makanan itu diambil Kuan Le dan ditukar dengan hiasan tutup botol. Hal yang sama terjadi lagi. Selain makanan, Kuan Le juga mengambil sebuah TV kecil dari seorang bapak yang sedang tidur.
Kesalahpahaman terus terjadi hingga mereka semua mendatangi rumah Kuan Le. Ayahnya yang baru pulang kerja terlihat bingung dengan keramaian yang terjadi di rumahnya. “Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan di rumahku?” tanya ayah Kuan Le kepada semua orang yang kehilangan barang dan makanannya.
“Pak Cheung, anakmu mengambil sesuatu dari kami tanpa meminta izin dan dia meninggalkan benda ini kepada kita,” jelas mereka. Mendengar hal itu, ayahnya kaget dan meminta maaf kepada mereka. Tidak serta merta marah, ayah Kuan Le melihat sekeliling rumah dan dia yakin ada sesuatu yang ingin Kuan Le lakukan. Dia yakin anaknya bukan seorang pencuri. Semua orang yang ad di situ juga melihat kondisi keluarga mereka yang tidak mampu.
Kuan Le yang melarikan diri dari semua orang itu bertemu dengan temannya, “Apa yang kamu lakukan di sini? Semua orang mencarimu. Apa kamu mencuri dari mereka?” tanya teman Kuan Le.
“Aku tidak mencuri apapun! Aku sudah menukar barang mereka dengan sesuatu,” bela Kuan Le.
“Apakah kamu bertanya, mereka menginginkannya?,” balas teman perempuannya itu. Namun Kuan Le terdiam dan berpikir. Akhirnya dia kembali ke rumah dengan merasa bersalah. Ayahnya mengajak Kuan Le berbicara dan mengajak dia meminta maaf kepada mereka yang telah dirugikan. Namun, keajaiban terjadi di tahun baru itu. Orang-orang yang tadinya merasa dirugikan, berdatangan ke rumah Kuan Le sambil membawa banyak makanan untuk dinikmati bersama.
Inilah pengertian cinta bagi sesama. Ketika kita membagikan cinta kepada sesama, kita dapat merasakan kebahagiaan bersama. Cinta yang tulus tidak membeda-bedakan tapi menerima berbagai keadaan maupun status. Jadi, siapkah kalian menebarkan cinta di sekitar kalian? Yuk, berbuat kebaikan.
Sumber : Vidsee