Kadang kita sebagai anak tidak pernah mengerti ajaran kasih sayang
dari orangtua kita. Kita bahkan menganggap orangtua tidak memahami
anaknya dan kadang malah membuat kita malu atas sikapnya. Seperti yang
diceritakan dalam kisah seorang anak laki-laki ini.

Semasa kecil, bocah laki-laki ini tidak menyukai ayahnya. Karena
menurutnya, ayahnya seorang yang miskin dan tidak sukses. Memang sang
ayah tidak bekerja dengan meja kerja yang rapi dan di perkantoran yang
terkenal. Dia hanya bekerja sebagai pengumpul barang, walaupun dia sudah
bekerja keras mereka tidak dapat hidup bergelimangan harta.
Bocah ini pun merasa bahwa ayahnya bukanlah orang yang pintar dan
tidak dapat diandalkan. Ayahnya benar-benar bukan seorang yang
menginspirasi dirinya. Suatu ketika, bocah laki-laki ini bertanya kepada
ayahnya, “Mengapa kita tidak kaya?”

Ayahnya pun memberi sudut pandang berbeda kepada anaknya, “Siapa
bilang kita tidak kaya? Menjadi kaya bukanlah dilihat dari seberapa yang
kita miliki tetapi seberapa yang kita dapat berikan. Ketika kamu
memberi, kamu akan bahagia.” Tetapi bocah ini tidak merasa bahagia
ketika dia harus “membayar pajak” yang diharuskan oleh ayahnya.
Dari situ dia bertekad tidak ingin hidup seperti ayahnya, dia tidak
ingin menjadi orang miskin. Sehingga dia belajar dengan giat di sekolah
sampai akhirnya dia mendapat beasiswa untuk kuliah di luar kota. Dia
yakin akan menjadi orang sukses di kemudian hari. Ketika dia berangkat,
dia menolak uang pemberian ayahnya.

Hingga akhirnya bocah ini pun menjadi orang sukses sesuai dengan
impian dan pengertian dirinya. Pada pergantian tahun, ayahnya menelepon
dan bertanya apakah dia akan pulang untuk makan malam bersama. Tapi
anaknya tersebut menolaknya dengan alasan sibuk di kantor. Tuhan
berkehendak lain, sebelum ayahnya bertemu dengan anak laki-lakinya itu,
dia telah dipanggil pulang.
Anaknya baru kembali ke rumah masa kecilnya sambil membereskan
barang-barang ayahnya. Hingga dia menemukan banyak surat yang menyatakan
bahwa dia telah berdonasi di sebuah panti anak-anak difabel. Dia pun
mendatangi panti tersebut untuk mengkonfirmasi, bahwa dia tidak pernah
mendonasikan sepeser pun uangnya kepada panti itu.
Kebenaran pun terungkap, selama ini ayahnya “menarik pajak” dari uang
jajan dia adalah untuk diberikan kepada mereka yang kurang beruntung.
Selama ini, ayahnya berdandan sebagai badut hanya untuk memberi semangat
kepada anak-anak yang putus harapan. Semangat itu yang membuat pemimpin
panti tersebut menjadi orang sukses seperti saat ini. Selama hidupnya,
dia telah memberikan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Dia terus
bekerja tanpa mempedulikan sakit yang dideritanya. Dia seorang yang
mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.

Semua kebaikan ayahnya dilakukan tanpa sepengetahuan anaknya.
Penyesalan demi penyesalan pun hadir dalam diri anak ini. Dia baru
tersadar bahwa selama ini, ayahnya telah menjadi orang kaya. Kaya
kebaikan dan kaya kasih sayang terhadap sesama. Semua cerita ini membuat
dia meneruskan kebaikan ayahnya. Dia kembali ke panti dan memberi
kebahagian kepada anak-anak yang kurang beruntung.
Guys, dalam kisah ini kita dapat belajar seperti ucapan si ayah di
atas, “Menjadi kaya bukanlah dilihat dari seberapa yang kita miliki
tetapi seberapa yang kita dapat berikan. Ketika kamu memberi, kamu akan
bahagia.”
Sumber : Vidsee