Mempunyai orangtua yang berbeda dengan orangtua lainnya, terkadang
memberi rasa malu untuk mengakuinya, tapi bila masa itu bisa dilalui
maka kita akan dapat menghargai orangtua kita apa adanya. Seberti kisah
nyata yang akan penulis sampaikan ini, semoga senantiasa menjadi sebuah
renungan dan mengingat jika orangtua adalah berlian yang anak miliki.
Yuk simak kisahnya dibawah ini:

“Sebenarnya dari kecil bagiku ibu adalah suatu persoalan yang sulit,
karena aku tak mengerti kenapa bentuk tubuhnya bungkuk begitu.
Ibu tahun ini berusia 62 tahun, waktu umur 32 tahun ia melahirkan aku. Saat itu dia terlalu tua untuk melahirkan.
‘Melahirkan bisa menderita, dokter menasehati jangan melahirkan anak.
Saat itu aku berfikir, alangkah senang kalau punya anak sendiri. Apapun
resikonya akan aku tanggung’

Tapi sebenarnya yang orang tidak tahu adalah bahkan ibuku juga tidak tau.
Pada waktu aku kecil, ada suatu saat aku menolak dirinya. Saat itu
aku tidak dapat menerima kenyataan keadaan tubuh ibuku, aku tidak tahu
kenapa.
Ibuku tidak sama dengan ibu yang lain.
Ibu yang lain bisa jadi cantik dengan bajunya, sedangkan ibuku sebagus apapun bajunya tetap saja ia jelek.
Saat pertemuan orangtua murid, aku merasa mengapa ibu lain bisa
tinggi sedangkan ibuku pendek kecil jelek. Aku tidak bisa mengerti.

Pada saat aku sudah jadi mahasiswa. Saat itu ibu tidak punye kerjaan,
keluarga benar-benar sangat miskin. Supaya aku bisa tenang belajar,
akhirnya dia memilih untuk jualan. Saat itu, keadaan itu..
Aku harus belajar, aku tidak berdaya. Tidak bisa membantu dia,
melakukan semua perkerjaannya dan melihat dia. Tubuh kecilnya menarik
troli yang sangat berat. Kedinginan dan kepanasan di luar sana.

Perasaan tidak berdaya itu seperti ada sebuah pisau mengiris hatiku.
Tidak tau apakah kalian pernah merasakannya. Perasaannya benar-benar
seperti ditusuk, akan kuingat selamanya perasaan itu.
Saat itu kukatakan pada diriku sendiri. Tamat universitas aku harus
kerja apapun, hidup ibu harus lebih baik. Supaya ia bisa menikmati hari
tuanya.

‘Hari ini anakku menikah dan aku ingin memberinya hadiah lagu untuk
ucapan selamatku kepadanya, aku akan menyanyikan lagu Mawar Di Hatiku’
‘Aku mempergunakan air mata kehidupan untuk menyirami dan memeliharanya..
bunga mawar, mawar di hatiku..
Berharap kau terus tumbuh…
Selamanya..selamanya..menemaniku..’
Sumber: FP Guru Mandarin