Wartina (38) tiba-tiba menangis di hadapan Menteri Sosial (Mensos)
Idrus Marham saat penerimaan sertifikat program keluarga harapan (PKH)
di Gor Ewangga Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Wartina terharu dan
berterima kasih kepada pemerintah yang telah menggelontorkan program
PKH. Air mata Wartina menetes. Pengusaha cilok yang diberi merek 'Cilok
Stun' itu teringat akan perjuangannya membangun usaha.
PKH menjadi kunci kesuksesan Wartina berwirausaha pengusaha. Idrus
Marham pun merasa bangga dengan perjuangan Wartina. Kepada detikcom
Wartina menceritakan awal membangun usaha 'Cilok Stun'.
Wartina dan suaminya, Supriyatna (38) tercatat sebagai penerima PKH
pada 2009 silam. Modal awal yang Wartina terima saat itu hanya Rp 350
ribu. Sebelum menjadi penerima PKH, Wartina dan Supriyatna mengaku hidup
pas-pasan. Supriyatna yang saat itu bekerja sebagai buruh pabrik hanya
mendapatkan upah Rp 25 ribu per hari. "Kadang kekurangan. Sedangkan anak
saya ada empat. Alhamdulillah sekarang sudah berubah," kata Wartina
seraya menangis, Jumat (27/4/2018).

Modal Rp 350 ribu yang ia terima dari PKH, dikatakan Wartina,
langsung ia kelola untuk membuat cilok. Awalnya, Wartina hanya mampu
menjual sebanyak tiga kilogram cilok per harinya.
"Tahun 2009 awal mulainya. Ya, coba-coba dulu awalnya buat cilok.
Alhamdulillah lancar, dari yang awalnya tiga kilogram sekarang sudah
satu kuintal perharinya," katanya.
Dari hasil bisnis ciloknya, Wartina kini bisa membangun rumah.
Sebelumnya, Wartina mengaku hanya tinggal di gubuk. Hinaan pun kerap ia
terima, lantaran hidupnya miskin. Lagi, air mata wartina menetes saat
menceritakan perjalanannya membangun rumah dan memperkerjakan
orang-orang di sekitarnya. Bisnis yang ia jalani kini bisa
memperkerjakan 16 orang. Awalnya, hanya Supriyatna, suami Wartina yang
menjual Cilok Stun. Wartina dan Supriyatna sudah menjadi jutawan.
Kehidupannya berubah 180 derajat.
"Sekarang Alhamdulillah penghasilannya sehari itu bisa Rp 2,5 juta.
Jualnya hanya di Kuningan. Sekarang juga sudah bisa beli sound system,
ya disewakan buat acara hajatan," ucap warga Dusun Pahing Desa
Kalimanggis Kulon, Kecamatan Kalimanggis, Kabupaten Kuningan itu.

Wartina kini tak lagi menerima manfaat dari PKH. Sejak 2013, diakui
Wartina, sudah tak lagi menjadi penerima PKH. "Ya biar tidak bergantung
sama pemerintah. Saya bersyukur bisa mendapatkan bantuan PKH," tutup
Wartina.
Di tempat yang sama, Idrus Marham mengaku bangga dengan Wartina.
Karena, Wartina mampu mengelola bantuan dari pemerintah untuk
meningkatkan derajat hidupnya. Secara sadar, Wartina pun keluar dari
penerima PKH. Idrus menjelaskan masyarakat yang secara sadar keluar dari
penerima PKH atau berhasil keluar dari kemiskinan mengalami
peningkatan. "Tahun ini ada 300.000 lebih masyarakat yang menyatakan
diri keluar dari penerima bantuan PKH. Kemarin, di Tegal ada 600 lebih
masyarakat yang keluar. Di Kuningan kita bisa lihat sendiri, salah satu
itu (Wartina)," kata Idrus.
Sumber : Detik.com