Ari Aryanto adalah seorang anak lelaki berusia 14 tahun yang menjadi
tulang punggung keluarganya. Keluarganya telah ditinggalkan oleh ayahnya
selama 2,5 tahun belakangan ini. Sejak ditinggalkan ayahnya, dia
berjuang sendiri untuk menghidupi ibu dan kedua adiknya yang masih
kecil, Aldi (10 tahun) dan Deni Saputra (8 tahun).

“Awalnya almarhum bapak yang mengajarkan itu semua. Saat beliau
sakit, Ari yang menggantikan nyadap (mengambil nira) sampai sekarang.”
ujar Esah, ibunda Ari. Ari mengumpulkan nira aren dilakukan setiap 2
kali sehari, pagi dan sore. Begitu fajar menyingsing, Ari sudah mulai
mengumpulkan nira sekaligus membuat torehan sadapan baru. Hasil sadapan
yang didapat Ari kemudian diolah oleh sang ibu. Jika hasilnya mencukupi,
maka dapat segera diproses menjadi gula aren. Esah yang telah lama
berkutat sebagai penjual gula aren, membuat dia jeli memilih nira yang
baik untuk dimasak menjadi gula.
“Paling malas pergi nyadap itu kalau lagi turun hujan. Walaupun
begitu saya tetap harus nyadap. Kalau tidak nyadap, saya tidak dimarahi,
cuma kalau tidak nyadap bakal susah hidup. Kalau bukan dari nyadap,
saya dapat uang dari mana lagi. Kalau ngambil kelapa, itu kan musiman
saja,” cerita Ari.
30 tahun sudah Esah membina rumah tangga bersama suaminya, mereka
dikaruniai 8 orang anak. Lima orang anak Esah sudah mempunyai keluarga
sendiri. Esah pun tidak mau memberatkan mereka dengan kondisi dirinya
dan ketiga orang adiknya karena kondisi lima orang anak Esah itu juga
sama seperti mereka. Bagi Esah, ketiga anaknya yang kini tinggal bersama
dengannya adalah segala-galanya. Esah terus berusaha agar mereka dapat
terus menempuh pendidikan dan merangkai masa depan yang lebih cemerlang.

Ari kini duduk di bangku kelas 1 SLTP, sebagai kakak dia bertugas
membimbing dan melindungi bagi adik-adiknya, menggantikan sang ayah.
“Kalau sekolah saya tidak bawa bekal, ingin fokus belajar saja. Nggak
apa-apa saya nggak jajan juga. Saya tidak malu dan lagipula tidak ingin
jajan, duduk saja di kelas, belajar. Walau kadang saya juga ingin jajan.
Kecuali ada buku yang diperlukan, baru saya akan membelinya.” ucap Ari
dengan berlinang air mata.
Perjalanan Ari dan kedua adiknya menuju sekolah tidaklah mudah,
mereka harus melewati semak belukar, jalan setapak dari tanah liat,
hingga menaiki tangga bambu. “Ingin punya rumah di atas, supaya dekat
dengan pengajian, sekolah. Terus kalau sakit, dekat dengan tempat
berobat.” begitu harap Ari.
Selama anak-anak bersekolah, Esah kembali mengolah air nira tadi.
Bukannya Esah tidak mau mencari pekerjaan lain untuk menambah pendapatan
mereka, namun kondisi fisik Esah yang tidak sempurna membuat Esah
kesulitan mencari pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tangannya.
Gula yang telah matang dan dibungkus daun aren kering, dijual seharga Rp
7,500 hingga Rp 10,000 per lonjor gula aren.
Sebagai lelaki tertua di keluarga Ari tidak bisa tinggal diam saja.
Dia juga membantu tetangganya merawat kambing-kambing mereka. Sebagai
upahnya, Ari berhak mendapat anakan kambing kedua yang telah dia rawat
dengan baik. “Pertama, Ari ingin memindahkan rumah, kedua ingin
membelikan emas untuk ibu, soalnya dulu bapak belum kesampaian. Ketiga,
ingin melihat adik diantar ke sekolah. Jadi buruh angkut padi, per
kilonya Rp 10,000 kalau lagi musim. Tidak ada yang menyuruh, tapi supaya
saya bisa kasih uang jajan ke adik dan bisa kasih uang ke ibu. Saya
ikhlas, asal adik-adik senang.”
Sore hari, Ari tidak pernah absen mengaji untuk menghilangkan sejenak
beban kehidupannya, doa-doa yang dia panjatkan menjadi untaian harapan
untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik lagi. “Mengaji itu untuk bekal
akhirat, sedangkan sekolah untuk bekal di dunia. Harapannya semoga
adik-adik jadi anak yang baik, ibu segera sembuh dari sakit,” ucap Ari.
Sumber : Youtube