Kisah ini berdasarkan kisah nyata bahkan sebagian besar kita mungkin
akan merasa ada di dalamnya, di dalam bagian dari kisah ini, simak
kisahnya:
“Ini adalah desa nelayan biasa. Ayahkyu membesarkanku sendirian.
Ayahku tak memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga hanya bisa menjadi
nelayan seperti yang lainnya..
Dia seperti bapak-bapak lainnya, yang tidak pernah begitu tahu cara
mengurus anak-anaknya, sangat serius dan kaku. Dia tak pernah bisa
menunjukkan rasa cintanya padaku. Bicara seperlunya, tersenyum dan
mengelus kepala. Itulah yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cintanya.
Ketika aku membuat kesalahan dia akan memarahiku, namun kemudian
setelahnya ia akan cepat membaik dan segera mengurusiku.

Seingatku ayah tak pernah memukuliku, kecuali hari itu ketika aku
ketahuan mencuri. Dia memukulku dengan sangat keras karena merasa malu
dan terhina. Hari itu aku menangis dan ayah pun menangis. Malam itu
ayahku masuk ke kamarku dan memberikan obat untukku selagi aku
berpura-pura tidur, karena malu untuk bangun.
Aku tahu ayahku mencintaiku. Hampir sepanjang hidupnya ia kesusahan
tapi ia selalu berusaha keras menafkahiku dan untuk memenuhi
keinginannya mempunyai rumah sendiri. Sejak itu ayah menjadi orang yang
lebih pekerja keras dibanding yang lainnya, karena untuk menggapai
keinginannya.

Ketika tahun baru tiba, tahun itulah kami bisa menempati rumah kami
sendiri. Waku itu aku dan ayah merasa sangat bahagia. Waktu berlalu
begitu cepat, seperti kata-kata yang sudah terucap tak bisa kembali
lagi. Ayah mengalami sakit di usianya yang ke 58 tahun. Dia sering pergi
keluar dan tidak tahu jalan pulang. Bahkan sarung kursi yang ku cuci
kemarin sudah kotor lagi hari ini.
Karirku sudah mulai membaik, tapi sering aku terburu-buru pulang ke
rumah karena harus membawa ayah pulang dari rumah tetangga. Bahkan saat
kondisinya memburuk terkadang ia lupa aku itu siapa. Terkadang dia
membaik, tapi sebagian besarnya semakin memburuk. Ini benar-benar
melampaui kesanggupanku untuk mengurusnya. Aku ingin penjagaan yang
lebih baik untuknya selagi aku melanjutkan kehidupanku yang lebih baik,
aku membawanya ke tempat panti jompo. Suatu hari saat kondisinya
membaik, ayah memanggilku untuk menjenguknya. Ketika aku sampai di
panti, di depan pintu kamarnya aku mendengar…

“Sialan, aku bosan membersihkan kencingmu hah! Bahkan anakmu pun tidak menginginkanmu!” bentak seorang perawat
Aku pun yang mendengarnya segera menimpali “Heh bicara apa kau! Omong kosong!”
Namun perawat itu malah berteriak “Kenapa kamu tak mau merawat ayahmu sendiri”
Dengan penuh emosi aku menjawabnya “itu bukan urusanmu! Keluar kau, keluar!”
Dalam keheningan ruangan itu, dengan air kencing ayahku yang mengalir
kelantai, aku melihat sebuah surat di atas meja, setelah ku buka
suratnya ternyata ini tulisan ayah bersama selembar foto hitam putih
yang kusam, kubaca suratnya yang bertuliskan

“Sayang ayah minta maaf, semenjak ayah sakit kamu menjadi sangat direpotkan,
ayah sebenarnya tidak mau lupa padamu,
ayah berusaha sebisa mungkin untuk terus mengingat kamu,
kamu harus menjaga dirimu baik-baik ya,
Dan ini ada buku tabungan selama ayah hidup,
Cukup untuk membiayaimu dan anak istrimu kelak”

Ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya, bahkan untuk masa depanku.
Ayah...ternyata dia sangat mulia, dia sangat peduli, dia sangat mencintaiku…
Aku benar-benar minta maaf ayah, sungguh aku minta maaf, aku berjanji akan mengurusimu sendiri sampai kapanpun…"
Berikanlah pengabdianmu untuk mereka yang telah sangat mencintaimu!
Sumber: Youtube ShareShare