Ketika kita menjadi orangtua, kita akan menerima tanggung jawab mendidik anak dengan baik bahkan bagaimana caranya dapat membahagiakan anak-anak biarpun ketika kondisi kita tidak memungkinkan. Begitu juga dengan kisah mengharukan yang diambil dari perjalanan ayah dan anak lelakinya.
Pagi hari, ayah memanggil anaknya, “Nak, ayo kita keluar.” Dengan bersemangat, anaknya langsung mengiyakan ajakan ayahnya tersebut.

Penasaran tempat yang akan mereka tuju, di perjalanan bocah ini bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kita akan pergi kemana?” Ayahnya menjawab, dia akan membelikan sesuatu untuk anaknya itu. Namun, tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka membuat tubuh mereka basah. Hujan tidak menghalangi langkah mereka menuju sebuah toko.
Setibanya di toko, bocah lelaki itu diajak mencoba sepasang sepatu baru berwarna putih dan ayahnya pun membelikannya. Di meja kasir, ayahnya membayar sepatu itu dengan uang yang hanya cukup untuk membeli sepatu. Melihat hujan yang masih turun, ayahnya bertanya kepada pemilik toko, “Berapa harga payung ini?”
“$2.50,” jawab pemilik toko. Ayahnya pun setuju untuk membeli payung itu sehingga mereka dapat pulang tanpa kehujanan. Dalam perjalanan pulang, ayahnya berkata, “Kamu adalah milik ayah yang paling berharga.” Apalagi setelah keluarga mereka ditinggalkan oleh seorang ibu untuk selamanya. Waktu terus bergulir hingga akhirnya bocah lelaki ini beranjak menjadi seorang pria dewasa dan akan melangsungkan pernikahan. Tidak lupa payung merah yang dulu dibeli dengan harga $2.50 dan telah menemani dirinya beranjak dewasa, ikut menemani pria ini.
Setelah anaknya menikah, kadang sang ayah merasa kesepian. Memang kadang mereka mengunjungi ayahnya dan makan bersama. Tetapi, karena usia yang semakin tua, rasa kesepian itu semakin hadir dalam benak sang ayah. Bahkan ketika dia menelepon anaknya, anaknya merespon dengan kurang baik karena kesibukannya. Kini, tubuh tua ayah sudah tidak seperti dulu, tulang-tulang tidak bekerja seperti muda lagi dan membuat ayahnya sakit ketika jalan. Anaknya yang melihat itu berpikir mengembalikan payung merah dan memodifikasinya menjadi tongkat sehingga ayahnya tidak merasa kesulitan berjalan.
Tidak terasa, hari itu sang menantu akan melahirkan dan memberikan cucu pertama untuk ayah. Kabar bahagia yang didapat dari telepon membuat ayahnya bergegas menengok cucu pertamanya itu. Takdir berkata lain, belum sampai dia melihat wajah polos cucunya, di perjalanan dia tertabrak mobil dan membuatnya meninggal di tempat. Payung merah menjadi saksi seluruh hidup ayah ini. Di pemakaman, anaknya mengingat pengorbanan ayahnya dulu. Payung merah itu tidak dapat dibayar seluruhnya oleh uang. Tapi ayahnya juga menggadaikan jam kepunyaannya untuk membeli payung itu.
Sumber : Vidsee