Biasanya apa yang membuat kalian bersemangat merayakan hari Lebaran? Makanan yang banyak dan lengkap, kue kering, THR, atau liburan yang panjang mungkin hal utama yang kalian tunggu ketika kalian merayakan Lebaran. Jangan lupakan ada satu kegiatan yang mungkin terlihat biasa namun penting dilakukan juga. Hari Lebaran berarti waktunya mudik!
Yup, bagi anak-anak yang merantau dan jauh dari orang tua, momen ini menjadi momen bersilaturahmi dan temu kangen dengan keluarga khususnya orangtua. Memang ada beberapa pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk mudik. Tapi jika kalian mempunyai waktu yang banyak dan tidak ada halangan, mudiklah dan berkumpullah dengan semua anggota keluarga. Jangan sampai seperti yang dikisahkan dalam video ini.

Amin merupakan anak lelaki yang diharapkan menjadi penerus usaha ayahnya di kampung halaman. Amin sudah lulus dari perguruan tinggi dan dia mempunyai cita-cita sendiri. Suatu hari Amin dan ayahnya cekcok, “Amin juga punya cita-cita pak!”, bantah Amin kepada ayahnya.
“Kamu jadi anak, baru sedikit sekolah tinggi aja udah berani ngelawan bapak,” sahut ayahnya yang dengan emosi. “Bukan ngelawan pak, kalau ke Jakarta, Amin bisa sukses pak,” pinta Amin kepada ayahnya.
“Terus kamu gak mau ngerawat orangtua kamu?!” tanya ayahnya. Amin yang sudah emosi malah menjawab, “Amin gak mau ketahan di sini kayak bapak!”
Terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua, membuat mereka sulit mengutarakan maksud dengan kepala dingin. Amin yang sakit hati akhirnya memutuskan berangkat ke Jakarta dan mengadu nasib di sana. Hari Lebaran akan dirayakan sebentar lagi namun Amin memutuskan untuk tidak pulang kampung dan hanya menelepon ibunya.
Ketika buka puasa, Amin bertanya kepada kedua temannya, “Loe pada mudik?” Seorang temannya menjawab, dia akan pulang seminggu sebelum Lebaran. Sedangkan teman yang kedua menjawab, dia tidak akan pulang karena dia tidak merayakan Lebaran. Keesokan harinya, hanya ada Amin berdua dengan temannya. Ternyata temannya memutuskan untuk mudik juga, ketika ditanya dia menjawab, “Ya abisnya gimana, kangen sama orangtua.”
Jawaban ini mungkin mengusik hati Amin yang menolak untuk mudik dan bertemu orangtua. Tapi Amin masih teguh dengan pendiriannya dan tidak mudik. Siapa sangka, tidak lama kemudian, ayah dan ibu Amin mengunjungi Amin.
“Kalau kamu gak mau pulang ke rumah, biar kami bawa rumah ke kamu. Maafin bapak ya Min,” ucap ayahnya. Suasana pun menjadi penuh haru. Begitu juga dengan Amin, “Amin juga minta maaf pak, maafin Amin pak.” Kadang meminta maaf lebih sulit daripada mendaki gunung padahal dengan meminta maaf dengan tulus, luka hati dapat disembuhkan. Semoga bermanfaat!
Sumber : Youtube