Usianya masih terbilang sangat muda, tetapi gadis cilik asal Kota
Cimahi ini, Devania Syahla Almira (8), memiliki hobi yang ekstrim dan
mungkin jarang dilakukan oleh anak-anak seusianya yang lain. Anak
pasangan Asep Rustana (35) dan Nuni Fitria (30) ini memiliki hobi yang
tengah banyak digemari anak muda jaman sekarang ataupun pecinta alam,
yakni mendaki gunung.

Ketika mendaki gunung, ia sama seperti pendaki yang lain, memakai
perlengkapan lengkap yang safety dan membawa carrier sendiri
dipunggungnya. Yang paling membanggakan kedua orang tuanya, Devania
selalu kuat berjalan sendiri hingga ke puncak gunung dan tak pernah sama
sekali dibantu kedua orang tuanya. Nuni Fitria, sang ibu, menceritakan,
awalnya Caca, sapaan akrab Devania, bisa ketagihan saat mendaki gunung,
hingga saat ini telah mampu mendaki 9 gunung yang tinggi di Indonesia.
"Awalnya dia mau sendiri, kemudian saya mengajaknya untuk yang
pertama kali naik gunung Ciremai," ujarnya saat ditemui di sekolah Caca
di SDN Cimahi Mandiri 1, Kota Cimahi.

Pertama kalinya naik gunung Ciremai, Nuni Fitria bercerita, Caca
usianya masih 5 tahun, tetapi kemampuannya ternyata tak kalah hebatnya
dengan pendaki atau pun pecinta alam yang sudah biasa mendaki. Setelah
naik gunung Ciremai, Caca terus diajak kedua orang tuanya untuk mendaki
beberapa gunung lain, yakni Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Gunung Lawu,
Gunung Merapi, Gunung Gede, Gunung Burangrang, Gunung Putri dan yang
lebih hebatnya, terakhir Caca berhasil menaklukan puncak Gunung Rinjani.
"Kami naik gunung Rinjani pada 6 sampai 12 Mei, 3 hari sebelum puasa baru turun, kita di gunung itu 4 hari," katanya.

Di setiap pendakiannya, Caca pun tak pernah merepotkan kedua orang
tuanya ketika mendaki gunung, padahal jalur untuk mencapai puncak
gunung-gunung itu tak mudah untuk ditaklukkan seorang anak kecil. Untuk
menjaga stamina Caca, kedua orangtuanya selalu mengajarkan teknik cara
mendaki yang benar. Saat ini, anak kelas 1 SD itu telah memahami teknik
tersebut.
"Misalnya, ketika berjalan di trek pasir harus menginjak tapak kaki
bekas orang lain jadi tidak licin. Kemudian kita jaga staminanya, kita
banyakin istirahat," katanya.

Nuni Fitria mengaku, dia dan suaminya tak memiliki tujuan khusus
mengajarkan Caca naik gunung. Dirinya dan suami hanya ingin Caca lebih
bisa mencintai alam, seperti ayahnya yang merupakan seorang pendaki
sejak SMA. Sang ibu pun setelah menikah kerap diajak naik gunung dan
hingga saat ini mereka bertiga kerap mendaki gunung, keduanya selalu
mendorong Caca untuk terus memperlihatkan kegigihannya saat mendaki
gunung.
"Awalnya kekhawatiran itu ada, tapi jika melihat kegigihan dan
kemampuannya Caca saat naik gunung, saya dan ayahnya malah bangga," kata
Nuni.

Caca mengaku, ketagihan naik gunung tersebut datang setelah pertama
kali naik gunung Ciremai, saat itu ia sedang berada dipuncak dan melihat
hamparan awan dibawahnya. Caca mengaku senang melihat hamparan awan.
Selain itu, ketika turun gunung, Caca paling senang bermain serodotan didampingi ibunya.
"Cape sih (Mendaki) tapi seru bisa lihat awan dan mainnya seru kaya serodotan dan ayunan," katanya sembar tersenyum.

Sang ayah, Asep Rustana, menambahkan, selama sembilan kali naik
gunung, Caca belum pernah sakit ataupun cidera, yang paling parah, anak
satu-satunya itu hanya muntah akibat terlalu lelah. Cukup dengan
istrahat di tenda dan diberikan obat juga vitamin yang cukup, Caca pun
langsung kembali kuat dan mampu melanjutkan perjalanan.
"Malahan, dia tidak pernah sakit, di sekolah, pun, malah hanya Caca
yang paling sehat dan belum pernah absen karena sakit," katanya.
Hal itu, Asep Rustana mengatakan, lantaran dirinya yang sudah
berpengalaman naik gunung sejak tahun 1999, sehingga mengetahui kondisi
anaknya ketika mendaki gunung. Ayahnya mengatakan, ini salah satu teknik
agar tubuh anaknya itu kuat dengan membiarakan anaknya itu berjalan
sendiri saat mendaki.
"Bukan kita tidak sayang sama anak, tapi kalau digendong, tubuhnya
tidak akan sehat dan malah membuat kondisi tubuh dia tidak kuat," kata
Asep.
Sumber: TribunNews