Aku memiliki 2 orang anak, satu laki-laki dan satu lagi perempuan.
Anak laki-lakiku belum menikah, tapi anak perempuanku sudah menikah. Dia
dan suaminya dikenalkan melalui perjodohan teman-teman di desa ini.

Merawat 2 orang anak sendirian bukanlah hal yang mudah, aku harus bekerja dan menabung demi keberlangsungan hidup kami.
Aku mengumpulkan uang dan membangunkan sebuah rumah untuk anak
laki-lakiku, untungnya anak perempuanku pengertian dan tidak marah, dia
juga berpikir kelak saat menikah dia akan tinggal bersama suaminya.

Setelah menikah, anak perempuanku dan suaminya sibuk bekerja. Mereka
tidak ada waktu untuk mengurus kebun, jadi akulah yang menanam dan
mengurus kebun mereka. Sekalian aku juga membuatkan makanan untuk makan
malam mereka.
Suatu hari saat aku datang ke rumah mereka, ternyata besan
perempuanku sedang merayakan ulang tahun. Mereka memesan begitu banyak
makanan dan sebuah kue ulang tahun. Tadinya aku tidak enak hati dan
ingin pulang saja, tapi menantuku menyuruhku untuk bergabung dan
menikmati hidangan yang sudah tersedia.

Mau tidak mau aku ikut merayakan acara ulang tahun besanku. Aku
melihat kalau menantuku adalah orang yang baik dan pengertian, aku
merasa sangat bersyukur anak perempuanku menikah dengannya.

Saat aku mau pulang, menantuku menyuruhku untuk membawa sisa makanan
dan kue ulang tahun pulang ke rumah, sekalian untuk anak laki-lakiku.
Sejujurnya aku merasa tidak enak hati, namun menantuku dan anak
perempuanku memaksaku untuk membawanya pulang ke rumah, jadi aku terima
saja karena mereka sudah membantuku membungkuskannya.
Sesampainya di rumah, aku segera membuka makanan tersebut dan hendak
menyimpannya ke dalam kulkas. Ketika aku membukanya, aku menyadari ada
sebuah amplop kecil dan ketika aku membuka amplop tersebut ternyata
isinya adalah uang.
Aku benar-benar terkejut! Selain ada uang, di dalam amplop itu juga
da secarik surat yang bertuliskan:"Bu, ini uang untuk ibu. Kami tahu ibu
sedang membutuhkan uang, apalagi sedang membangun rumah untuk kakak.
Kami sengaja menyimpan uang ini disini karena kalau kami memberikannya
langsung pasti ibu akan menolaknya. Memang jumlah uang ini tidak
seberapa, tapi semoga bisa membantu meringankan beban ibu. Kami sayang
ibu."

Selesai membaca surat ini aku langsung menangis. Bukan jumlah uang
yang aku lihat, tapi bentuk kepedulian mereka terhadap keluarga
membuatku sangat bersyukur atas hidup ini.
Sumber : Beauty