Hidup di era digital seperti sekarang ini, rasanya mustahil
menjauhkan anak 100% persen dari gadget. Apalagi di abad ke-21,
keluwesan menggunakan perangkat digital sudah jadi tuntutan zaman.
Sistem pendidikan saat ini juga menuju ke arah pemutakhiran teknologi
informasi.
Sebenarnya anak boleh-boleh saja menggunakan gadget. Kuncinya ada di
kita sebagai orang tua. Kita yang menerapkan aturan agar si buah hati
bisa menggunakan gadget dengan bijak.
Gadget menjadi sesuatu yang familiar buat anak. Saat anak pakai
gadget, aturan pun perlu diterapkan sehingga nggak melulu gadget
berdampak negatif untuk anak.
"Ini tergantung menjaga balance-nya. Memberikan aturan pada anak
untuk stimulasinya juga perlu termasuk pemberian gadget ke anak," kata
psikolog dari Tiga Generasi, Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
Vera menceritakan pengalamannya ketika di ruang praktiknya.
Permasalahan yang paling sering dihadapi ibu-ibu 'jaman now' adalah
'kenapa nih anak gue?'. Sisi positif dikenalkan gadget diakui Vera
memang anak-anak sekarang lebih ekspresif dan lebih berani mengutarakan
perasaannya ke orang tua.

Sebenarnya anak boleh saja memainkan gadget, tapi berikan batasan
waktu, maksimal 30 menit dalam satu hari, yang bisa dibagi dalam
beberapa menit. Bahkan anak boleh juga melakukan kegiatan melalui ponsel
atau tablet. Tapi pilih yang membuat komunikasi dua arah, jangan hanya
membuat anak terdiam untuk menonton saja. Oleh karena itu ada beberapa
hal super penting yang wajib.
# Orang tua harus riset
Ninit Yunita, penulis novel Test Pack, pun berbagi cerita mengenai
penggunaan gadget oleh kedua putranya yang kini duduk di bangku SD.

“Di rumah saya tidak menyarankan untuk nonton televisi karena
edukasinya kurang. Saya tipe orang tua yang tidak melarang menonton
YouTube, tapi tetap memperhatikan kontennya. Sebagai orang tua kita
harus riset, tahu apa yang anak kita tonton. Soalnya di YouTube banyak
juga konten yang sifatnya mendidik seperti proses terjadinya hujan dan
sebagainya,” jelas Ninit dalam sebuah talkshow yang ia gelar bersama
komunitasnya, The Urban Mama.
# Berlakukan aturan tegas
Ninit juga tidak bisa melarang anak-anaknya menggunakan gadget.
Dengan bermain gadget, mereka dapat memperoleh ragam informasi untuk
membaur bersama teman-teman di sekolah.
Meski begitu, Ninit memberlakukan aturan penggunaan gadget yang
tegas. Kedua putranya boleh menggunakan gadget untuk games saat akhir
pekan, itu pun terbatas hanya tiga jam.
Ketegasan seperti yang dilakukan Ninit bisa juga kita terapkan untuk
anak-anak kita yang berusia balita, lho. Hari biasa tanpa gadget? Why
Not!

Sama halnya anak-anak usia sekolah yang rutin mejalankan kewajiban
mereka, bayi dan balita juga harus belajar di hari-hari biasa. Yaitu,
sti-mu-la-si. Biarkan si kecil berlarian dan bersentuhan berbagai hal
secara langsung tanpa screen time karena itulah proses belajarnya.
# Selalu dampingi anak
Kalaupun boleh bermain gadget, orang tua tetap harus terjun langsung
mendampingi anak. Menurut Pakar Senior Bidang Pendidikan Itje Chodijah,
pemahaman tentang digital itu sendiri belum dipahami sepenuhnya oleh
masyarakat kita.

“Digital itu alat. Semestinya pemegang alat yang menentukan mau ke
mana. Penggunaan teknologi semestinya membantu proses berpikir anak,”
jelas Itje pada kesempatan yang sama dengan Ninit.
Menurut Itje, kita boleh mengenalkan gadget kepada anak-anak asalkan
dengan dialog yang bisa merangsang cara berpikir mereka. Sambil
menyaksikan tayangan YouTube, berinteraksilah dengan anak mengenai
kontennya. Misal, dengan mencari jejak subjek maupun objek dalam
tayangan.
“Si Swiper ada di mana, ya?”
“Ayo bilang, ‘Swiper jangan mencuri!’”
“Balon warna merah ada di mana ya?”
Bila anak Anda sudah sedikit lebih besar, tak ada salahnya
menantangnya menarik kesimpulan dan menyampaikan kembali konten yang ia
saksikan di YouTube.
Sumber: HaiBunda